Pernah mendengar kisah cinta yang harus berakhir karena tidak mendapat restu? Tentu pernah, bahkan banyak sekali.
Seperti kita tahu, semua mempunyai alasan. Kalaupun Bielalang sampaikan satu persatu, hanya akan membuang kata-tak berguna. Sebab, dunia sekarang sudah terlalu canggih. Semua orang menjadi hebat. Dengan satu klik pada kotak ajaib 'gedget', mereka dapat menembus ruang dan waktu. Apalagi jika Bielalang hanya menjelaskan tentang makna dan pengertian cinta. Ah, sudahlah... Sahabat Bielalang sudah tahu lebih dulu.
Sahabat Bielalang yang bersedia mendengar kisah ini, duduklah bersamaku barang sebentar. Harus rilek dan santai. Jauhkan pikiran menggurui dan lebih pandai. Karena cerita (drable) ini hanya delusi yang tiba-tiba menyerang hati dan pikiran pada sunyinya malam. Masukan dan saran Bielalang tunggu di kolom komentar😉
Saat itu seorang wanita meneteskan air matanya tidak lama setelah mengirim pesan, 'Kita akhiri hari ini. Jangan lagi ber-angan untuk bersama. Kuharap ikhlas akan menguatkan kita.'
Diwaktu bersamaan, seorang laki-laki semampai berwajah oval di negeri seberang terkejut, tubuhnya terjatuh saat membaca pesan pujaan hati "Mengapa...?" kudengar suaranya bergetar bertanya pilu seorang diri.
Ditekannya nomor si pengirim pesan. Tuutt... tuutt... "Angkatlah, Sabil," mulut laki-laki itu seperti tak bisa berhenti, harap cemas menunggu.
Puluhan kali mencoba tak kunjung ada jawaban. Ia membalas pesan yang diterima, 'Mengapa secara tiba-tiba mengirim pesan seperti ini? Jelaskan padaku, Sabila. Angkatlah teleponku...'
Aku menyaksikan kesedihannya. Ia terduduk- menunduk. Jelas terlihat betapa lemah dan rapuh hatinya saat mendapati pesan mengakhiri ikatan yang sudah lama dipertahankan.
"Dasar wanita kejam!" aku menggerutu dan mengutuk diri sendiri karena menyaksikan namun tak bisa membantu.
***
'Maaf, Ibrahim... Aku pilih orang tuaku.'
Wanita bernama Sabila membalas singkat pesan yang diterima dari laki-laki seberang.
Disaat bersamaan, aku juga menyaksikan luka nestapa dalam hatinya. Aku bingung hendak berpihak kepada siapa. Keduanya saling mencinta. Namun, ... "Apa yang harus kulakukan? Mengapa aku bisa berada ditempat ini? Tarik kembali diriku pada cahaya yang tadi menyala, Tuhan... Aku tak mau disini," sambil terisak diriku memohon agar dikeluarkan dari pemandangan kisah cinta sepasang kekasih yang tidak ingin kulihat sama sekali.
Cahaya yang kupinta tak kunjung hadir. Semua usaha untuk kembali sia-sia. Diriku benar-benar terperangkap di tempat antah berantah. Aku mencoba untuk lebih tenang. "Pasti ada alasan mengapa diriku yang dipilih menyaksikan kisah ini..."
Dengan hati-hati kudekati wanita yang telah mengirimkan pesan kepada laki-laki bernama Ibrahim itu. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menemaninya disitu. Aku baru menyadari bahwa tubuhku telah terseret ke dalam dimensi waktu. Ini adalah perjalanan melihat masa lalu.
Disaat bersamaan diriku memerhatikan Ibrahim. kupandangi lamat-lamat. Tubuhku menjadi panas dingin. Tidak salah, ia adalah sosok yang kukenali. Sepuluh tahun lalu kembali pada pemilikNya dengan cara bunuh diri. Adapun sosok wanita yang sekarang kutemani tidak lain adalah diriku sendiri.
Rasa bersalah telah membawaku melakukan perjalanan waktu-mengubur kisah dalam qalbu.
***