Jumat, 18 November 2016

Sebuah Kisah sebelum Rasulullah Wafat

Mohon maaf sahabat bielalang, Cerita yang akan sahabat baca ini pasti sudah sering dapat postingannya dan bahkan sudah membacanya ber-kali². Tapi mohon maaf, tidak pernah saya tidak meneteskan air mata dikala mengulang membacanya.

Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum meninggal. Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi.  beliau sangat lemah.

Pada suatu hari Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah Masjid dengan para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendapat taushiyah dari Rasulullah SAW.

Beliau duduk dengan lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yang tengah dideritanya.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sahabat2 ku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu2nya Tuhan yang layak di sembah?"

Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, " Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu2nya Tuhan yang layak disembah."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
"Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka."

Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yang Rasulullah sabdakan selalul dibenarkan oleh para sahabat.

Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia."

Ketika itu semua sahabat diam, dan dalam hati masing2 berkata "Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yang banyak berhutang kepada Rasulullah".

Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.

Tiba2 bangun seorang lelaki yang bernama *UKASYAH,* seorang sahabat *mantan preman* sebelum masuk Islam, dia berkata:

"Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa".

Rasulullah SAW berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".

Maka Ukasyah pun mulai bercerita:
"Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah".

Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama."

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."

Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian.

Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pada Ukasyah. "Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah, bukankah Baginda sedang sakit..!?"

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah.

Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"

Bilal menjawab dengan nada sedih: "Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah"

Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:
"Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya".

Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua".

Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Ukasyah.
Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah.

Tiba2 Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil
berkata: "Ukasyah..! kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku".

Rasulullah SAW: "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Ukasyah menuju kehadapan Rasulullah. Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata:

"Ukasyah..! kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku..!."

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
"Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah, tiba2 berdiri Ali bin Abu Talib sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW.

Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah".

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
"Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Ukasyah" .

Ukasyah semakin dekat dengan Rasulullah. Tiba2 tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen.

Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon. "Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami saja wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah, dengan memukul kami sesungguhnya itu sama dengan menyakiti kakek kami, wahai Paman."

Lalu Rasulullah SAW berkata: "Wahai cucu2 kesayanganku duduklah kalian. Ini urusan Kakek dengan Paman Ukasyah".

Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata:

"Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini."

Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi:

"Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah"

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah.
Tanpa berlama2 dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Kemudian Rasulullah SAW berkata:
"Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih2an. Nanti Allah akan murka padamu."

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh2, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil menangis sejadi2nya,

Ukasyah berkata:
"Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu.

Seumur hidupku aku bercita2 dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka.

Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah..."

Rasulullah SAW dengan senyum berkata:
"Wahai sahabat2ku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah..!"

Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat
bergantian memeluk Rasulullah SAW.

Semoga tetesan air mata ini membuktikan kecintaan kita kepada kekasih Allah Swt. Dan kita dapat di pertemukan dengan Beliau di Yaumul Akhirah. Aamiin.

Selasa, 15 November 2016

Pengertian Prosa, Karakteristik Prosa, Macam-macam Prosa

Seorang guru akan selalu mengharapkan setiap materi/pelajaran yang telah ajarkan dapat diterima dan diamalkan oleh semua siswa/i nya. Karena sudah menjadi kewajiban dan tanggungjawab bagi mereka  untuk menuntut siswa/i nya dapat memahami pelajaran yang diberikan. Meskipun ada siswa-siswi seolah acuh tak acuh, dengan kata lain guru sibuk mengarahkan di depan kelas, siswanya juga sibuk sendiri di belakang kelas. Namun dengan ketulusan dan semangat mengajarnya, sang guru tidak akan memelas. Karena jauh di dalam lubuk hatinya hanya ada satu keinginan "Bahwa suatu hari semua siswanya akan tumbuh menjadi lebih baik".

Kalimat harapan yang dipendam oleh pahlawan tanpa jasa ini sepertinya sudah melekat didalam diri. "Saya akan Menjadi Orang yang Lebih Baik". Sehubungan dengan itu, lima bulan terakhir dengan perlahan penulis mencoba menggali kembali ilmu yang pernah disampaikan oleh guru bidang Bahasa Indonesia dan Sastra sewaktu masih bertitle sebagai murid/pelajar di bangku sekolah maupun perkuliahan.Ya, meskipun ketika berstatus sebagai Mahasiswa, saya malah memilih akademik di bidang Ilmu Ekonomi dan konsentrasi Ilmu Akuntansi Pemerintahan. Tetapi juga juga ingin mencintai bidang lain. Mungkin ini adalah tahapan awal, pada page ini penulis merangkum salah satu ilmu di bidang Sastra - Literasi mengenai Prosa.

 
Pengertian Prosa 


Kata prosa berasal dari bahasa latin “prosa” yang artinya “terus terang”. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.


Prosa ialah karya sastra dalam bentuk bahasa yang terurai (tulisan bebas) tidak terikat oleh rima, ritma, jumlah baris dan sebagainya. Bisa juga diartikan suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya atau bisa juga diartikan sebagai hasil karya sastra lisan dan tulisan yang panjang, baik yang berbentuk cerita ataupun bukan cerita.

Jenis-Jenis Prosa 

Prosa biasanya dibagi menjadi empat jenis:

    1. Prosa naratif
    2. Prosa deskriptif
    3. Prosa eksposisi
    4. Prosa argumentatif

Berdasarkan jamannya, prosa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu prosa lama dan prosa baru. 
 

A. Prosa Lama

Prosa lama adalah bentuk karya sastra yang belum dipengaruhi oleh kebudayaan barat (masih banyak terpengaruh oleh kesustraan hindu dan arab). Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan atau diceritakan dari mulut ke mulut. disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Namun, saat ini kita sudah bisa menemukan karya sastra prosa lama dalam bentuk tulisan. Setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke indonesia, masyarakat menjadi akrab dengan tulisan, bentuk tulisan pun mulai banyak dikenal. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sastra indonesia mulai ada.



Berikut ini adalah bentuk-bentuk prosa lama, yaitu:

a. Hikayat

Hikayat adalah tulisan fiktif dan tidka masuk akal yang menceritakan tentang kehidupan para dewi, dewa, pangeran, raja, dan lain-lain. Contohnya adalah Hikayat Hang Jebat, Hikayat Nabi Sulaiman, Hikayat Raja Bijak, dan lain-lain.

b. Sejarah (Tambo)

Sejarah adalah tulisan yang menceritakan tentang peristiwa-peristiwa tertentu. Ada dua jenis sejarah, yaitu sejarah sastra lama dan baru. Contoh tulisan berbentuk sejarah adalah Sejarah Melayu yang ditulis oleh Tun Sri Lanang pada tahun 1612.

c. Kisah

Kisah adalah tulisan-tulisan pendek. Kisah menceritakan tentang cerita perjalanan, pengalaman atau petualangan orang-orang jaman dulu. Salah satu contoh kisah adalah Kisah Raja Abdullah menuju Kota Mekkah.

d. Dongeng

Dongeng bercerita tentang khayalan-khayalan masyrakat pada zaman dahulu. Dongeng sendiri terdapat beberapa bentuknya, seperti:

  1. Myth (Mitos) bercerita tentang hal-hal gaib, contohnya seperti Ratu Pantai Selatan, Dongeng tentang Batu Menangis, Dongeng asal-usul kuntilanak, dan lain-lain.
  2. Legenda bercerita tentang sejarah atau asal-muasal terjadinya sesuatu, contohnya seperti Legenda Tangkuban Perahu, Legenda Pulau Jawa, dan lain-lain.
  3. Fabel bercerita kisah yang tokohnya adalah binatang, contohnya seperti Si Kancil dan Buaya, Si Kancil yang Cerdik, dan lain-lain.
  4. Sage bercerita tentang kisah pahlawan, keberanian, atau kisah kesaktian , contohnya seperti Ciung Winara, Patih Gadjah Mada, Calon Arang, dan lain-lain.
  5. Jenaka atau Pandir mengisahkan orang-orang bodoh yang bernasib sial yang sifatnya untuk melucu atau humor, contohnya seperti Dongeng Abunawas, Dongeng Si Pandir, dan lain-lain.
Ciri-ciri Prosa Lama :
  1. Prosa lama bersifat statis 
  2. Cerita berkisar di istana (istana sentris) 
  3. Kebanyakan bersifat khayal 
  4. Banyak terpengaruh oleh kesustraan hindu dan arab  
  5. Bersifat anonim (nama pengarang tidak disebutkan)
B. Prosa Baru

Prosa baru adalah bentuk karya sastra yang telah dipengaruhi oleh kebudayaan barat. Bentuk prosa ini muncul karena prosa lama dianggap tidak moderen dan ketinggalan jaman.

Bentuk-bentuk prosa baru antara lain:

a. Roman

Roman adalah tulisan yang mengisahkan hidup seseorang dari lahir hingga meninggal secara menyeluruh, contohnya seperti Layar Terkembang karya Sultan Takdir Ali Syahbana.

b. Novel

Novel adalah cerita yang panjang tentang kehidupan, sifatnya bias fiktif atau no-fiktif, contohnya seperti Novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Ave Maria, dan lain-lain.

c. Cerpen

Cerpen adalah adalah cerita pendek yang menceritakan sebagian kecil dari kisah pelaku utamanya. Konflik yang mengubaj sikap pemeran utama, inilah yang embedakan cerpen dan novel. Contoh cerpen yaitu Robohnya Surau Kami karya A.A Navis, Keluarga Gerilya karya Pramoedya Ananta, dan lain-lain.

d. Riwayat

Riwayat bercerita tentang kisah hidup orang atau biasanya tokoh terkenal atau yang menginspirasi. Ada dua jenis riwayat, yaitu biografi (ditulis oleh orang lain) dan otobiografi (ditulis sendiri oleh tokoh tersebut).

e. Kritik

Kritik adalah bentuk tulisan yang sifatnya memberi alas an atau menilai/menghakimi karya atau hasil kerja seseorang.

f. Resensi

Resensi adalah tulisan yang merangkum atau mengulas suatu karya, baik buku, seni, musik, film, atau karya lainnya. Resensi memberikan sudut pandang tentang baik dan buruknya karya tersebut. Dengan kata lain, resensi memberikan gambaran untuk mempertimbangkan apakah kita harus menikmati karya tersebut atau tidak.

g. Esai

Esai adalah tulisan yang berisi sudut pandang atau opini pribadi tentang suatu hal yang menjadi topic atau isu dalam tulisan tersebut.

C. Prosa Menurut Isi

Menurut isinya prosa terdiri atas prosa fiksi dan nonfiksi.

1. Prosa Fiksi

Prosa fiksi ialah prosa yang berupa cerita rekaan atau khayalan pengarangnya. Isi cerita tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta. Prosa fiksi disebut juga karangan narasi sugestif/ imajinatif. Prosa fiksi berbentuk cerita pendek (cerpen), novel, dan dongeng. Di dalam prosa fiksi, terdapat unsur-unsur pembangun yang disebut unsur intrinsik, yaitu: tema, alur/plot, penokohan, latar, amanat, sudut pandang pengarang, dan gaya bahasa.



2. Prosa Nonfiksi

Prosa nonfiksi ialah karangan yang tidak berdasarkan rekaan atau khayalan pengarang tetapi berisi hal-hal yang berupa informasi faktual (kenyataan) atau berdasarkan pengamatan pengarang. Prosa nonfiksi disebut juga karangan semi ilmiah, yang termasuk karangan semi ilmiah ialah: artikel, tajuk rencana, opini, feature, biografi, tips, reportase, jurnalisme baru, iklan, dan pidato.


D. Unsur-unsur Intrinsik dalam Prosa

  1. Tema adalah tentang apa prosa tersebut berbicara.
  2. Amanat atau pesan yaitu nasehat yang hendak disampaikan kepada pembaca.
  3. Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang membentuk cerita.
  4. Perwatakan atau karakteristik atau penokohan adalah cara-cara pengarang menggambarkan watak pelaku.
  5. a. Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan diri.
    b. Sudut pandang orang pertama adalah pengarang sebagai pelaku.
    c. Sudut pandang orang ketiga adalah pengarang tidak menjadi pelaku.
  6. Latar atau seting adalah gambaran atau keterangan mengenai tempat, waktu, situasi atau suasana berlangsungnya peristiwa.
  7. Gaya bahasa adalah corak pemakaian bahasa.
Baiklah, sepertinya cukup mengenai prosa. Kalo Sahabar Bielalang menemukan yang kurang tepat, mohon dibantu luruskan, yah! Sebab, saya pun masih tahap menggali ilmu-ilmu yang sudah lama ditinggalkan.

Semoga hari kita selalu menyenangkan^^
Semangat berlatih!

Senin, 07 November 2016

Tentang Rasa di Angka Dua Tiga


Alam...
Tahukah engkau aku tidak meminta dirimu untuk mengasihi akan diriku.
Aku juga tidak meminta dirimu untuk menghibur dikala kesedihanku.
Bahkan aku juga tidak mengharap kehadiranmu ketika aku sepi terbelenggu.
Tetapi bersedialah engkau menemani di setiap senyum dan tawaku.
Berkenanlah memahami amarahku yang terkadang tidak mengingat waktu.
Tidak sedikitpun diriku menginginkan bahwa senyuman yang pernah hadir di raut wajah lusuh ini berakhir dengan kesedihan. Berakhir dengan biasan sisa air mata yang menghujan. Aku hanya ingin semua damai. 
 
Alamku...
Aku telah memasuki babak dua tiga. Dua bentuk angka yang memiliki peran berbeda. Angka dua bagian pertama adalah masa bahagia. Angka tiga adalah masa penuh kenangan yang tidak dapat dilupakan sepanjang usianya. Jika angka dua dan tiga telah digandengkan ia menjadi angka yang seolah akan meneror dimanapun aku berada. Angka yang akan mengubah usia muda ku menjadi tua. Angka yang akan memanduku menuju kehidupan berbeda. Angka yang semakin menggetarkan tubuhku karena tumpukan dosa. Angka yang menyuruhku untuk tidak lagi manja. Di angka ini juga seolah ia terus-terusan berkata, “Dewasalah... Dewasalah... Dewasa!

Mungkin ini hanya sepenggal pengakuan dari rasa kejenuhan. Sehingga aku menulis dan menuangkannya sebagai muhasabah ketika pikiran tidak menerima bahwa angka dua tiga telah melekat erat di usiaku sekarang. Berat untuk mengakui. Berat untuk menjalani. Ingin waktu itu dapat diputar kembali. Waktu dunia masih terasa ringan. Waktu dunia masih dapat di duduki sesuka hati dan bercengkrama bersama kawan-kawan seperjuangan. Dan waktu dunia masih terlihat damai, tidak ada pemberontakan, peperangan apalagi perpisahan.
 
Dalam muhasabah hati kali ini. Selama 365 hari ke depan angka dua tiga akan memanduku mendewasakan jiwa kekanakan yang sulit untuk dimusnahkan. Angka ini akan menemani dan menjadi bagian yang tidak akan dapat dipisahkan dari perjalanan kehidupan. Dan dengan angka ini aku memutuskan bahwa Aku akan kembali berdamai dengan usia yang tidak di inginkan. Aku akan melapangkan hati agar duniaku kembali ringan. Aku akan merubah paradigma sempit menjadi lapang, selapang angan masa kecil yang tidak pernah terhalang bagai semut kecil di tepi jurang. Aku akan kembali merancang dan memperbaiki rancangan masa depan sama seperti ketika tubuhku mulai menginjaki usia remaja awal, sebelas tahun silam. Aku akan merubah pola pikir pesimis menjadi optimis. Aku akan membiasakan hidupku menjadi orang yang mincintai lingkungan dan mencintai apa yang ada di dalam setiap perjalanan kehidupan.

Selamat datang angka dua tiga yang bergandengan.
Dengarkanlah bahwa hari ini aku memintamu untuk selalu siaga menemani minimal sampai aku terlelap hingga akhir pekan. Sampai aku mendapatkan ketenangan. Sampai hatiku merasakan kenyamanan. Sampai aku kembali ke hadapan Tuhan dengan keimanan yang mapan dan dengan amalan yang menawan bersama pasangan yang telah engkau sempurnakan untukku hingga akhir zaman. Aamiin.