Alam...
Tahukah
engkau aku tidak meminta dirimu untuk mengasihi akan diriku.
Aku
juga tidak meminta dirimu untuk menghibur dikala kesedihanku.
Bahkan
aku juga tidak mengharap kehadiranmu ketika aku sepi terbelenggu.
Tetapi
bersedialah engkau menemani di setiap senyum dan tawaku.
Berkenanlah
memahami amarahku yang terkadang tidak mengingat waktu.
Tidak
sedikitpun diriku menginginkan bahwa senyuman yang pernah hadir di
raut wajah lusuh ini berakhir dengan kesedihan. Berakhir dengan
biasan sisa air mata yang menghujan. Aku hanya ingin semua damai.
Alamku...
Aku
telah memasuki babak dua tiga. Dua bentuk angka yang memiliki peran
berbeda. Angka dua bagian pertama adalah masa bahagia. Angka tiga
adalah masa penuh kenangan yang tidak dapat dilupakan sepanjang
usianya. Jika angka dua dan tiga telah digandengkan ia menjadi angka
yang seolah akan meneror dimanapun aku berada. Angka yang akan
mengubah usia muda ku menjadi tua. Angka yang akan memanduku menuju
kehidupan berbeda. Angka yang semakin menggetarkan tubuhku karena
tumpukan dosa. Angka yang menyuruhku untuk tidak lagi manja. Di angka
ini juga seolah ia terus-terusan berkata, “Dewasalah...
Dewasalah... Dewasa!
Mungkin
ini hanya sepenggal pengakuan dari rasa kejenuhan. Sehingga aku
menulis dan menuangkannya sebagai muhasabah ketika pikiran tidak
menerima bahwa angka dua tiga telah melekat erat di usiaku sekarang.
Berat untuk mengakui. Berat untuk menjalani. Ingin waktu itu dapat
diputar kembali. Waktu dunia masih terasa ringan. Waktu dunia masih
dapat di duduki sesuka hati dan bercengkrama bersama kawan-kawan
seperjuangan. Dan waktu dunia masih terlihat damai, tidak ada
pemberontakan, peperangan apalagi perpisahan.
Dalam
muhasabah hati kali ini. Selama 365 hari ke depan angka dua tiga akan
memanduku mendewasakan jiwa kekanakan yang sulit untuk dimusnahkan.
Angka ini akan menemani dan menjadi bagian yang tidak akan dapat
dipisahkan dari perjalanan kehidupan. Dan dengan angka ini aku
memutuskan bahwa Aku akan kembali berdamai dengan usia yang tidak di
inginkan. Aku akan melapangkan hati agar duniaku kembali ringan. Aku
akan merubah paradigma sempit menjadi lapang, selapang angan masa
kecil yang tidak pernah terhalang bagai semut kecil di tepi jurang.
Aku akan kembali merancang dan memperbaiki rancangan masa depan sama
seperti ketika tubuhku mulai menginjaki usia remaja awal, sebelas
tahun silam. Aku akan merubah pola pikir pesimis menjadi optimis. Aku
akan membiasakan hidupku menjadi orang yang mincintai lingkungan dan
mencintai apa yang ada di dalam setiap perjalanan kehidupan.
Selamat
datang angka dua tiga yang bergandengan.
Dengarkanlah
bahwa hari ini aku memintamu untuk selalu siaga menemani minimal
sampai aku terlelap hingga akhir pekan. Sampai aku mendapatkan
ketenangan. Sampai hatiku merasakan kenyamanan. Sampai aku kembali ke hadapan Tuhan dengan keimanan yang mapan dan dengan amalan yang menawan bersama pasangan yang telah engkau sempurnakan untukku hingga akhir zaman. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)