Senin, 07 November 2016

Tentang Rasa di Angka Dua Tiga


Alam...
Tahukah engkau aku tidak meminta dirimu untuk mengasihi akan diriku.
Aku juga tidak meminta dirimu untuk menghibur dikala kesedihanku.
Bahkan aku juga tidak mengharap kehadiranmu ketika aku sepi terbelenggu.
Tetapi bersedialah engkau menemani di setiap senyum dan tawaku.
Berkenanlah memahami amarahku yang terkadang tidak mengingat waktu.
Tidak sedikitpun diriku menginginkan bahwa senyuman yang pernah hadir di raut wajah lusuh ini berakhir dengan kesedihan. Berakhir dengan biasan sisa air mata yang menghujan. Aku hanya ingin semua damai. 
 
Alamku...
Aku telah memasuki babak dua tiga. Dua bentuk angka yang memiliki peran berbeda. Angka dua bagian pertama adalah masa bahagia. Angka tiga adalah masa penuh kenangan yang tidak dapat dilupakan sepanjang usianya. Jika angka dua dan tiga telah digandengkan ia menjadi angka yang seolah akan meneror dimanapun aku berada. Angka yang akan mengubah usia muda ku menjadi tua. Angka yang akan memanduku menuju kehidupan berbeda. Angka yang semakin menggetarkan tubuhku karena tumpukan dosa. Angka yang menyuruhku untuk tidak lagi manja. Di angka ini juga seolah ia terus-terusan berkata, “Dewasalah... Dewasalah... Dewasa!

Mungkin ini hanya sepenggal pengakuan dari rasa kejenuhan. Sehingga aku menulis dan menuangkannya sebagai muhasabah ketika pikiran tidak menerima bahwa angka dua tiga telah melekat erat di usiaku sekarang. Berat untuk mengakui. Berat untuk menjalani. Ingin waktu itu dapat diputar kembali. Waktu dunia masih terasa ringan. Waktu dunia masih dapat di duduki sesuka hati dan bercengkrama bersama kawan-kawan seperjuangan. Dan waktu dunia masih terlihat damai, tidak ada pemberontakan, peperangan apalagi perpisahan.
 
Dalam muhasabah hati kali ini. Selama 365 hari ke depan angka dua tiga akan memanduku mendewasakan jiwa kekanakan yang sulit untuk dimusnahkan. Angka ini akan menemani dan menjadi bagian yang tidak akan dapat dipisahkan dari perjalanan kehidupan. Dan dengan angka ini aku memutuskan bahwa Aku akan kembali berdamai dengan usia yang tidak di inginkan. Aku akan melapangkan hati agar duniaku kembali ringan. Aku akan merubah paradigma sempit menjadi lapang, selapang angan masa kecil yang tidak pernah terhalang bagai semut kecil di tepi jurang. Aku akan kembali merancang dan memperbaiki rancangan masa depan sama seperti ketika tubuhku mulai menginjaki usia remaja awal, sebelas tahun silam. Aku akan merubah pola pikir pesimis menjadi optimis. Aku akan membiasakan hidupku menjadi orang yang mincintai lingkungan dan mencintai apa yang ada di dalam setiap perjalanan kehidupan.

Selamat datang angka dua tiga yang bergandengan.
Dengarkanlah bahwa hari ini aku memintamu untuk selalu siaga menemani minimal sampai aku terlelap hingga akhir pekan. Sampai aku mendapatkan ketenangan. Sampai hatiku merasakan kenyamanan. Sampai aku kembali ke hadapan Tuhan dengan keimanan yang mapan dan dengan amalan yang menawan bersama pasangan yang telah engkau sempurnakan untukku hingga akhir zaman. Aamiin.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)