Minggu, 26 Maret 2017

Luka


Pergi!
Tak usah kembali.

Bila datang lagi,
Mungkin akan lebih menyakitkan hati.

Eloklah diakhiri
Tanpa ada yang merasa terbebani.

Kini... Dengan lapang hati
Luka ini kan ku tanam bersama perut bumi
Biar tak ada lagi kesedihan
Dan kesalahpahaman membayangi kehidupan kedua kita nanti.

Sajak Tak Bermakna

Terbentang
Luas menghalangi pandangan
Mungkin inilah kehidupan
Tak mengerti
Tak memahami

Hanya angan-angan belaka
Semua kebaikan hilang dalam satu kesalahan
Sirna di dalam bejana waktu
Intuisi dan imaji tak lagi berarti 
Tak bermakna...

Kepada siapa hendak mengadu?
Tuhan...
Tuhanlah tumpuan hidupmu kini.
Tiada yang lain

Sabtu, 25 Maret 2017

Kosong

Detik ini
Rinduku menyanyati kalbu
Pilu

Jiwaku telah hampa
kosong...
Menahan rindu tak terbalas

Asaku punah
Tak lagi berbekas
Hilang...




Kamis, 23 Maret 2017

Prinsip Hidup Bielalang




    Saya seorang anak yang dilahirkan untuk tidak banyak bicara. Dan itu bukan berarti pendiam. Jika sudah akrab dan memahami sikon, biasanya saya bisa jadi orang paling bawel.

    Bagi saya kehidupan itu harus terus berlanjut tanpa harus mengikuti trend yang sedang meraja lela (viral). Karena saya lebih suka mengamati  dulu, kemudian memikirkan. Jika itu sesuai dengan jati diri, saya akan mencoba. Yang pasti tidak  lepas dari amanah orang tua dan agama tentunya.

    Ada satu hal lagi dan ini rahasia, loh!  Tidak banyak yang tahu, bahwa saya paling suka berekplorasi dengan hal-hal baru. Punya kenalan tak terbatas, belajar menulis (dunia literasi-aksara) dan sharing  apa saja sekedar motivasi untuk sesama.

    Dan rahasia lain yang tidak banyak saya ceritakan ke sahabat-sahabat sebelumnya adalah, "Saya suka menikmati nuansa alam dalam kesendirian." Berdiam diri menikmati sunset di remangnya senja, menunggu sunrise di dinginnya pagi ataupun sekedar berjalan melintasi pegunungan nun hijau dan pesawahan yang sedang menguning. Ah, semua itu luar biasa. Memberikan kedamaian jiwa dan raga.

    Selain beberapa rahasia diatas, saya juga seorang anak yang memiliki prinsip dalam hidupnya. Gunanya agar saya dapat Berpikir besar dan terus bertahan di dalam menjalani kehidupan selama di dunia. :-)
"Biarlah orang lain  menajadi lebih pintar dan hebat. Tapi, saya akan terus menjadi lebih baik dari hari kemarin"  Meski mereka berciloteh, mencibir memandangi sebelah mata, dan bergumam miring tentang diri saya. Tetapi saya yakin, bahwa Tuhan selalu menyertai hambanya dan akan memberi keadilan dengan sempurna.

Minggu, 19 Maret 2017

Notifikasi Malam Pelepas Rindu

      Malam ini, sebelum tubuh beringsut landai menuju zona nyamannya, alias kasur paling empuk sedunia (kata saya). Tiba-tiba ada satu notif yang membuat gadget kesayangan sayup-sayup berkedip, menyala, menyilaukan mata. "Ah, biarkan saja. Sudah malam. Mengganggu saja". Terdengar sepotong hati berbisik menjawab tanpa diminta. Bukan bisik-bisik tetangga, ya. Itu bisikan hati saya, loh. #lol

      Tapi yang namanya notif apalagi udah dari medsos kesayangan. Mata seperti enggak mau merem. Tanganpun sepertinya terus gatel memohon untuk membukanya. Sampai angin lautpun seperti menanari-nari di kisi-kisi jendela luar, tidak lain tidak bukan menyeringai, merayu dan menyuruh untuk segera melihat apa isi dibalik notif yang berkedap-kedip, menyala mengalahkan cahayanya galaxi di langit.

      Baiklah, sepertinya saya benar-benar harus mengalah dan menuruti keinginan mereka semua. Segera jari-jari mungil melejit cepat menuju sasaran. Notification. Oh, ternyata benar, ada yang spesial di notif facebook malam ini. Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh enam tahun mengirimkan beberapa foto lengkap dengan pertanyaan. "Dik, kenal dengan foto yang uni kirim?" tidak lupa pertanyaan pendek tersebut dilengkapi dengan beberapa emoticon tertawa lebar (😆). Pertanda bahagia.

      Lagi-lagi si jari mungil bermanja gesit membalasnya. Emoticon "😆"yang dikirim saya balas dengan emo "😊". Emoticon ini  maknanya sangat dalam. Bisa menjadi senyum bahagia penghantar tidur sekaligus menjadi senyum ketulusan karena mendapat kiriman luar biasa dari seberang sana. "Waah, itu mak-mak handal super hero saya semua ya, Ni? Kapan mereka sampai? Tidur di rumah, Uni?" Pertanyaan yang dikirim untuk membalas pesan Uni seberang, sebagai hadiah juga untuk notif yang dari tadi menyela saya karena enggan membukanya.

      "Mereke reunian di rumah Uni, Dik. Kangen-kangen bertemu kawan lama." Uni diseberang begitu semangat mengabarkan. Saya semakin bahagia melihat wajah-wajah teduh mereka. Di dalam foto yang dikirim ada wajah pahlawan kehidupan saya (Sang lentera jiwa-AMak). Ia bersama dengan sahabat-sahabatnya. Sudah lama sekali mereka tidak bersua dan bercengkerama, berbagi cerita seperti terlihat di foto. 

      Saking senangnya, saya menitipkan doa dan meminta angin laut yang dari tadi masih menyeringai setia dibalik jendela untuk menyampaikan kepada Sang Pencipta. 

Assalamu'alaikum yaa Haq,

      "Senang dan bahagia rasanya melihat ibuku tersenyum rapih bersama teman-temannya. Maafkanlah, tiada kata pembuka yang mampu untuk ku ucap dalam memohon belas kasihMu. Hanyalah syukur dan terima kasih tak terhingga yang terlontar dalam menggambarkan kebahagiaan melihat ini semua. Jika Engkau berkenan, terimalah pesan ini, pesan dari hatiku. Sengajaku titipkan bersama angin lautMu...."

Tuhanku yang Kuasa, tanpa mengurangi rasa cinta hati padaMu, sengaja ku tuliskan harapan sederhana ini. Untuk Ibuku.

      "Diusianya yang semakin senja, izinkan si pemilik hati yang Engkau amanahkan ini untuk terus berkarya dan  memuliakannya. Bantulah Ibuku melupakan kesedihan yang selama ini terlalu akrab menemaninya. Hindarkan Ibuku dari para hambaMu yang bermuka dua. Buatlah Ibuku semakin kuat. Seperti Engkau yang selalu memberi kekuatan kepada orang-orang sholeh dan sholeha. Lindungilah Ibuku dimana saja. Tetap kokohkanlah hatinya bersamaMu. Seperti ia yang selalu meminta kapadaMu agar diberi ketangguhan untukku dalam menghadapi perjalanan kehidupan di dunia. Jangan lagi ada bulir kesedihan yang jatuh dari pelupuk matanya. Karena setiap hari pipinya sudah selalu basah ketika sujud menghadap kiblatMu. Jagalah kebersamaan, kebahagiaan dan keindahan bersama sahabat-sahabatnya seperti malam ini. Damaikan orang-orang yang ada disekelilingnya. Bukan karena Engkau iba melihatnya. Bukan pula karena Engkau tersentuh dengan pesan dan doa yang hatiku titipkan lewat angin lautMu. Tapi karena Engkau memang Mencintainya. Ibuku."

Wassalam,

Hamba yang Mencintai Bundanya karena Sang Pencipta. Allah.

**
Picture 1 by. Uni Mardiati, Bojong Gede-Bogor, Indonesia

Picture 2 by. Uni Mardiati, Bojong Gede-Bogor, Indonesia

      Semoga foto dari Uni seberang ini menjadi bukti bahwa semua orang ingin bahagia. Ia dan sahabat-sahabatnya sama dengan orang-orang lainnya. Tidak ada beda. Bertemu dan melepas rindu di usia senja. Romantika luar biasa. Tidak lupa, bahwa media sosial telah memberi pengaruh besar untuk suasana di malam ini. Jadi, jangan lupa buka dan baca notif-notif apa saja sebelum Sahabat Bielalang tidur, ya? Jangan sampai melewatkan satu momentpun. Siapa tahu dibalik notif yang berkedip-kedip manja, ada sesuatunya. Kejutaann!!! (menurut saya part-2) hehee...

      Baiklah, karena sudah terlalu larut. Akhir tulisan malam ini adalah salam rindu untuk pejuang tangguh. Penyemangat dalam keresahan. Penawar dalam kesakitan dan penguat di dalam kerapuhan. Perantau muda. Anakmu, Mak... :-) 

Selamat tidur dalam bingkaian senyum menawan. Selamat malam dalam binar ketulusan seorang Insan. Afwan...

Kamis, 16 Maret 2017

Mati Air

Picture by. Google

       Malam ini adalah malam terpanjang. Selama dua puluh tiga tahun empat bulan hidup di dunia ini, baru malam ini saja Bielalang paling was-was, cemas, gak sabaran. Ingin malam cepat berlalu. Cepat-cepat bisa merem. Tidur pulas tanpa ada gangguan. Apalagi kebangun di suasana sunyi, sepi mencekam. Was-was entar kebelet. Keadaannya lagi mati air. Bielalang gak nampung. Gak ada stok sama sekali. Padahal kerja di perusahaan air di kota ini. Tapi apalah daya, Bielalang kebablasan. Sekarang kondisinya benar-benar simelekete. Galau!

      Hiks! Udah nunggu dua jam lebih. Rekan kerja Bielalang bilang, "Dalam tahap normalisasi karena sudah dialirkan oleh petugas distribusi." Fiuuh... Ini tuh jawaban Bielalang loh, kalo ada pelanggan ngamuk nanya kapan air dialirkan lagi, jawabannya persis begitu. Paling ditambahin, "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya." Maklum, Bielalang kerja di garda depan perusahaan alias ujung tombak keluhan dan pusat informasi. Lain tidak bukan adalah Contac centernya perusahaan. Lebih spesifiknya lagi dikenal sebagai agent Call Center perusahaan. 

      Miriskan? Kerja dibagian pusat informasi dan keluhan ledeng air. Tapi Bielalang kena batunya juga. Gak punya persediaan air. "Kebelet nih, Makk...!!!"

      Ah, kalo begini terus Bielalang bisa sakit. Sakit perut nahan kebelet. Terpaksa solusi sementara adalah Air Galon. Hiks, air galon jalan satu-satunya dalam kondisi seperti ini. Sembari berharap secepatnya akan ngalir dan lancar kembali supply airnya.

     Jadi, para emak-emak, bapak-bapak, kakak-kakak, ibu-ibu, dan teman-teman sesama korban mati air, jangan marah-marah enggak jelas sama agent call centernya, ya? Mereka tuh juga sama halnya dengan Bapak/Ibu pelanggan PDAM terbaik di Indonesia.  Juga merasakan sesaknya pas mati air. Tapi harus bagaimana lagi. Memang kondisinya seperti itu. Volume air waduk itu surut. Banyak pekerjaan yang mengharuskan valve pipa di off-kan. Jadi dihentikan sementara. Dialirkan ke jalur lain yang belum dapat supply air.

      Kalau masih menghujat juga, sok silahkan saja balik kampung. Bisa sepuasnya dengan air gunung. Enggak beli. Gratis. 

     Sebelum curahan hati karena kebelet ini Bielalang tutup. Mohon di baca dan dengarkan saran Bielalang sebentar dulu, ya? Eh, enggak. Jangan cuma di baca atau didengar saja. Tapi kalau bisa Bapak/Ibu pelanggan jasa Ledeng/PDAM dimanapun berada, di rumah masing-masing tetaplah sediakan bak penampungan/tangki air. Isi dan penuhi. Kita tidak tau jika sewaktu-waktu ada pekerjaan emengency oleh tim lapangan (leak repear team). Jangan sampai kebablasan seperti Bielalang malam ini. Sudahlah berprofesi sebagai pusat informasinya PDAM. Tapi masih juga terkena imbasnya. Dua kali rugi. "Sungguh benar-benar malang nasibnya Bielalang malam ini, Makk...! Rasanya malam ini ini begitu panjang. Lama sekali. Ini sudah dua jam tiga puluh delapan menit menunggu. Airnya masih off.

#tepar dalam penantian air ledeng.

Rabu, 15 Maret 2017

MENULIS ITU...

Apapun alasannya aku tetap suka menulis.

Ilustrasi by. Farah Aissya

Menulis itu hebat.
Menulis itu sesuatu yang berkesan.
Menulis itu tantangan akan perasaan.
Menulis itu kejujuran.
Menulis itu kata yang tak mampu terucapkan.
Menulis itu intan yang tersembunyi.
Menulis itu tak akan tertandingi oleh apapun yang ada di dunia.
Menulis itu sesuatu yang tidak akan pernah bisa ku jelaskan dengan rangkaian kata-kata....
Aku tetap suka menulis.
      Tahukah kamu, betapa dulu aku pernah dibenci oleh karena kejujuran pada sebuah tulisan di buku catatan pribadiku (Diary)

      Setiap malam aku memanfaatkan tinta hitam yang tak berdosa untuk menodai kertas putih nun bersih. Melukai dengan tajamnya ujung penaku. Membasahinya dengan tetesan air mataku setiap waktu. Bahkan akupun pernah meremasnya untuk meluapkan amarahku yang terpendam. Meskipun begitu, kertas itu selalu setia menjadi teman, mendengarkan dan menungguiku di atas meja persegi panjang di pojok dinding sebelah kanan sekitar satu meter dari tempat tidurku

      Sering juga aku berusaha menutup mata, aku tidak peduli, aku berpura-pura semua baik-baik saja dihadapan buku catatan-ku. Tapi bersamanya selalu saja berujung pada sebuah kejujuran perasaanku. Lagi-lagi aku menulis. Aku mencoretnya dengan pena hitam legam milikku. Aku tetap suka menulis.

      Dan tentunya, dengan menulis aku menjadi lebih baik. Aku merasa rahasia dan kesedihanku dapat dijaga dengan baik oleh buku catatanku. Pena dan tinta hitam itu yang akan menjadi saksi bisu bahwa aku tidak dapat menjauhi kebiasaan menulis setiap waktu.

      Untuk mereka yang pernah tersakiti oleh tulisanku. Mohon... maafkanlah atas kejujuranku lewat tulisan itu. Ketahuilah bahwa tidak ada unsur untuk menyakiti dan menyibakkan keburukanmu dihadapan siapapun. Setiap tulisan yang aku tulis hanyalah untuk mengevaluasi diriku untuk menghadapi masa depan.

      Jika suatu hari nanti ada lagi mereka-mereka yang melarikan buku catatan dariku, mencabik-cabikkan kertas putih dihadapanku atau membuangkan pena sejauh mungkin dari pandanganku. Aku, aku sepertinya tidak dapat berhenti. Karena menulis sudah menjadi teman sejati untukku. Mungkin tanah, pasir dan air yang sedang kutapaki akan ku goresi dan kulingkari setiap hari. Hanya agar aku dapat terus menulis dan bersama dengan tulisan-tulisan sederhanaku.

    


     

Minggu, 12 Maret 2017

RAHASIA BESAR SEORANG AYAH YANG TIDAK DI KETAHUI SEORANG ANAK

Ilustrasi by. Farah Aissya
Mungkin ibuku lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku?

Semasa kecil, ibuku lah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih, ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku.

Saat aku sakit demam, ayah membentakku “Sudah diberitahu, Jangan minum es!
Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis di depan ibu.
Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata “Tidak boleh!”
Sadarkah aku, bahwa ayahku hanya ingin menjaga aku, karena beliau lebih tahu dunia luar, dibandingkan aku bahkan ibuku?
Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Saat aku sudah dipercayai olehnya, ayah pun melonggarkan peraturannya.

Maka kadang aku melanggar kepercayaannya.Ayah lah yang setia menunggu aku diruang tamu dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengontak beberapa temannya untuk menanyakan keadaanku, ”Dimana, dan sedang apa aku diluar sana ?”

Setelah aku dewasa, walau ibu yang mengantar aku ke sekolah untuk belajar, tapi tahukah aku, bahwa ayah lah yang berkata: “Ibu, temanilah anakmu, aku pergi mencari nafkah dulu buat kita bersama.”
Disaat aku merengek memerlukan ini – itu, untuk keperluan kuliahku, ayah hanya mengerutkan dahi, tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, "kemana aku harus mencari uang tambahan, padahal gajiku pas-pasan dan sudah tidak ada lagi tempat untuk meminjam."

Saat aku berjaya. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Ayah lah yang mengabari sanak saudara, ”Anakku sekarang sukses. Alhamdulillah”
Walau kadang aku cuma bisa membelikan baju koko itu pun cuma setahun sekali. Ayah akan tersenyum dengan bangga.

Dalam sujudnya ayah juga tidak kalah dengan doanya ibu, cuma bedanya ayah simpan doa itu dalam hatinya.
Sampai ketika nanti aku menemukan jodohku, ayahku akan sangat berhati – hati mengizinkannya.
Dan akhirnya, saat ayah melihat ku duduk diatas pelaminan bersama pasanganku, ayahpun tersenyum bahagia.

Lantas pernahkah aku memergoki, bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis?
Ayah menangis karena ayah sangat bahagia. Dan beliau pun berdoa, “Ya Allah Rabbi, tugasku telah selesai dengan baik dengan pertolongan-Mu. Kami mohon kepada-Mu, bahagiakan lah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya.”

Pesan ibu ke anak untuk seorang Ayah :
⇒Anakku..Memang ayah tidak mengandungmu, tapi darahnya mengalir di darahmu, namanya melekat di namamu..
⇒ Memang ayah tak melahirkanmu… Memang ayah tak menyusuimu... Tapi dari keringatnya lah setiap tetesan yang menjadi air susumu…
⇒Nak…. Ayah memang tak menjagai-mu setiap saat… tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya…
⇒ Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…
⇒Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda,…karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu…
⇒ Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri..
⇒Bunda hanya ingin kau tahu Nak..bahwa…Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda.
⇒Anakku… Ketahui lah bahwa pada diri ayahmu lah juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu.

Oleh:  Zainal Abidin bin Syamsuddin, حفظه الله تعالى


Tulisan ini adalah saduran dari Bapak/Ibu pengajian yang ada di Majelis Taqlim Al-Ikhlas. Tepatnya sebuah organisasi internal perusahaan tempat Bielalang bekerja menjemput rezeki dan tambahan ilmu. Semoga bermanfaat dan menjadi catatan amal untuk kita kita semua. Aamiin


Minggu, 05 Maret 2017

Embun Pagi 5

Tentang Qalbu

Malam sebelum tidur, aku menanyai diriku tentang apa yang sudah aku lakukan hari ini.
Sudahkah aku menyapa mereka yang sepi?
Apakah aku bangga akan diriku sendiri?
 Hatiku menjawab, "Ya, Aku bangga."
Tapi aku merasa tidak puas dengan jawaban itu. Karena, naluriku telah berkata lain.
"Aku tidak bangga."

Aku telah berada pada dua pilihan yang sangat sulit untuk ku putuskan sendiri. Ini karena egoisme-ku.
Aku kemudian diam. Menutup mataku. Memikirkan, mengapa ada keraguan atas jawabanku sendiri. (sebuah kebiasaan yang selalu ku lakukan ketika berada di dalam kebimbangan, kecemasan, ketakutan, dan semua yang bersifat ambigu).
Dan aku putuskan. Taubat. Mohon ampun kepada Allah.
Hasilnya adalah tanpa ku sadari dengan sendirinya telah membuat pikiran, hati dan naluriku menyatu.
"Aku bangga ketika Allah masih mengizinkanku memiliki tiga element kemanusiaan itu"
Dan setiap apapun yang telah ku lewati sepanjang hari ini, aku menyerahkan semua kepada Pemilik Kekuasaan yang sesungguhnya.
Jika kau tanya lagi tentang bangga atau tidak akan hidupmu hari ini, jawabnya ada disini (qalbu).
Wasi'a kursii yuhussamawati wal ard.

Sabtu, 04 Maret 2017

Embun Pagi 4

Impian Sepertiga Malam


     Dalam suasana spertiga malam yang sunyi, tiada terdengar sorak-riuhnya kehidupan anak cucu Adam. Aku terjaga. Sepertinya alam menyapaku dengan sengaja. Aku pasrah saja. Tanpa ku sadari, aku telah terbawa suasana berandai-andai sejadi-jadinya....

- Alangkah indahnya bila hidup ini, bila saling bertegur sapa.
- Alangkah indahnya hidup ini, bila tiada kata dusta.
- Alangkah indahnya hidup ini, bila semua rukun dan sejahtera.
- Alangkah indahnya hidup ini, bila yang di dambakan tercapai segara.
- Alangkah indahnya hidup ini, bila setiap doa langsung diijabah oleh Sang Kuasa.
- Alangkah indahnya hidup ini, bila semua terwujud dalam sekejab mata.
- Alangkah indahnya hidup ini, bila semua bersatu membela kekejian dan kemungkaran dunia.
- Alangkah indahnya... Alangkah indah itu semua.
"Namun, apalah dayaku, semua hanya ada dalam bayang-bayang kerinduan. Merindu dalam kehampaan. Mungkinkah ada keajaiban untuk itu semua?"

     Tak ku sadari, di suasana malam nan lengang, sunyi dan tak berkawan ini, sebongkah hati kecil milik Illahi telah bersenandung dalam dimensi alam penuh misteri. Jiwaku hanya mampu berandai-andai dalam kesunyian. Berharap akan benar-benar menyaksikan manusia saling bergandengan tangan, berkumpul bersama menjadi satu keluarga. Alangkah indahnya itu semua....

     Semoga sebelum aku benar-benar kembali dalam pelukan Sang Pemilik Hati, aku putuskan bahwa, "Aku akan  bertanggung jawab atas pikiranku dan aku akan bertanggungjawab atas semua perbuatanku."
Aamiin....