Rabu, 31 Agustus 2016

A Little Briver Ost. Uncontrollably Fond

Kali ini, Bielalang mau share yang lagi di gandrungi anak-anak remaja zaman sekarang nih. Eh, engga cuma anak-anak remaja sih, orang tua, muda, ibu-ibu, sebagian bapak-bapak keren  juga sudah terhipnotis tuh. Iming-iming Sarangheo Oppa...!! "Amsyong" heheheh :*

Langsung saja, tanpa basa basi Untuk Komunitas Pencinta Drama Korea, aaha pasti sudah tidak asing lagi ya dengan Soundtrack yang satu ini :D lagunya enak banget. Adem pas di dengerin. Meskipun bielalang juga gak jago-jago amat sih dalam bidang bahasa, apalagi English. Aduuh Koreanya apa lagi, Hiks! ..
Ah it's no problem! Di zaman sekarang mah is so easy.

Sahabat Bielalang bisa guglingin aja.. Tap..tap... dapat ! :-)

Judul : A Little Briver Ost. Uncontrollably Fond


With december comes the glimmer on her face
And I get a bit nervous
I get a bit nervous now
In the twelve months on I won’t make friends with change
When everyone’s perfect
Can we start over again

The playgrounds they get rusty and your
Heart beats another ten thousand times before
I got the chance to say
I miss you

When it gets hard
I get a little stronger now
I get a little braver now

And when it gets dark
I get a little brighter now
I get a little wiser now
Before I give my heart away

Well we met each other at the house of runaways
I remember it perfectly we were running on honesty
We moved together like a silver lock and key
But now that your lock has changed
I know I can’t fit that way

The playgrounds they get rusty and your
Heart beats another ten thousand times before
I got the chance to say
I want you

When it gets hard
I get a little stronger now
I get a little braver now
And when it gets dark
I get a little brighter now
I get a little wiser now
Before I give my heart away

When it gets hard
I get a little stronger now
I get a little braver now
And when it gets dark
I get a little brighter now
I get a little wiser now
Before I give my heart away. 

 

Nih, sambil ngafalin lirik, silahkan di dengerin soundtracknya juga ya. Klik aja link di bawah ini. Lebih berasa ....

Jangan lupa, tonton serial dramanya ya. Ok punya ahhaha
Selamat Menikmati !!

Salam Persahabatan ! 
 



Minggu, 21 Agustus 2016

My Cup of Story

Nur... 
          Nur...
Suara yang terdengar samar dari ruang tengah memecah keheningan rumah di minggu malam. Nur mendongak keatas. Dilihatnya  jarum-jarum kecil itu baru menunjuk ke angka delapan.  
lagi-lagi suara yang memanggil namanya semakin jelas dan dekat sekali. Dia mengenali suara itu. tetapi hatinya ragu, biasanya panggilan seperti itu akan ia dengar jika jarum mungil di dinding kamarnya menunjuk ke angka sepuluh.  Ada apa ya? (Suara hati nur memberi tanda tanya).
Nur bergegas mengemasi dan menyiapkan berbagai perlengkapan yang akan dibawanya besok pagi.

Inspirasi dari Sosok Kemulyaan :)
Nur... Bisa bantu temenin ibu nak? 
Nur segera melirik dimana sumber suara. Oh... hehehe Kita mau kemana bu? (tersenyum menyeringai menutupi perasaan was-was yang dari tadi sebenarnya sudah menduga-duga bahwa suara itu adalah milik orang yang sama sepanjang kehidupan yang telah ia lalui. Tapi entah angin dari mana tiba-tiba saja melam ini ia meragukan sendiri kata hatinya. takut).
Temenin ibu ke warung sebentar yuk?
Ibu mau beli apa? Banyak? Ibu mau bikin apa? Sarapan sama bekal Nur sekolah besok ya? Biar Nur sendiri yang beli kalo gitu bu.. (Pertanyaannya tanpa jeda dengan satu hela nafas saja).
 Sudah... Yukk temenin ibu sebentar. Ibu balas menyeringai, menepuk lembut pundak gadis cerewetnya.  Nur pasrah dan tidak menagih lagi jawaban dari ibu.

Warung yang dituju tidak begitu jauh dari rumah. berjarak empat rumah saja, tetapi jika dibandingkan dengan perumahan yang ada di kota, lebih kurang enam belas rumah harus mereka lewati.
Bu, kenapa ya kalo di kota itu rame sekali? Terus bangunannya rapet lagi? terus kalo jam segini pasti orang-orangnya masih lalu lalang diluar ya? Beda sama disini, jam segini kampung kita udah sepi. Kalo di warung Ncik pun cuma bapak-bapak dan laki-lakinya saja yang ada. Yang lain diam di rumah ya bu? 
Bapak-bapak sama laki-laki bedanya dimana nur? (ibu menggoda dan balik bertanya)
Nur hanya menyeringai dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepanjang perjalanan mulut nur tidak berhenti bersuara. Ada-ada saja yang ia sampaikan. Ibu pun hanya tersenyum melihat tingkah anak gadisnya yang tidak mau diam. Beberapa pertanyaan yang dilontarkan Nur, tidak banyak dijawab, karena belum sempat ibunya menanggapi, Nur sudah lebih dulu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan sendiri. Ibu hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat anak gadisnya kini sudah tumbuh dewasa. Tingginya sudah sama. Baru kemarin rasanya ia mengayun-ayunkan tangannya agar nur berhenti dari tangisan manja. Baru kemarin rasanya ia menceritakan kisah-kisah tauladan sebagai pengantar Nur tidur. Baru kemarin rasanya ia melihat Nur merengek setiap pagi minta disekolahkan sama seperti saudara-saudaranya yang lain. Padahal umurnya masih belum mencukupi untuk mengecap pendidikan sebagai anak sekolah. Kini Nur yang manja, Nur yang selalu merengek pun sudah berdiri dan berjalan mendampingi hari-harinya. Tidak terasa waktu memang sangat cepat berlalu. Tidak terasa merekapun telah sampai.

Langit ditaburi ribuan bintang. Cahayanya telah membentuk galaxi yang indah untuk dipandang. Meleburkan suasana sunyi. Suasana begitu ramai. dari ujung kanan ke kiri semuanya dipenuhi bapak-bapak dan laki-laki saja (seperti yang nur ceritakan kepada ibunya tadi). Ruqayyah langsung masuk ke ruang tengah mengambil barang dititipankan tadi siang. Aini sibuk memerhatikan Ncik Fatimah sedang asyik mengaduk-aduk air hitam di dalam sebuah cangkir bening. Dari tadi banyak sekali yang memesan minuman hitam seperti itu kepada ncik Fatimah. Bahkan sesekali bapak-bapak yang dari tadi duduk ramai di kursi ujungpun meminta Aini untuk tidak hanya melihat saja tetapi membantu Ncik Fatimah yang dari tadi tidak berhenti menyediakan minuman hitam yang begitu diminati. Aini tampak tidak begitu tertarik. Tetapi hatinya terus memanggil untuk menyuruh belajar membuat minuman berwarna hitam dihadapannya itu. Aromanya begitu menggugah selera. Ditambah lagi suasana terlihat begitu bersahabat dengan suguhan secangkir minuman hangat berwarna hitam tersebut. Tapi sayang warnanya tidak senikmat aromanya. Desih suara Aini lamat. 
Tidak ingin mencoba Nur? Rasanya sangat nikmat. Ncik Fatimah menawarkan Nuraini. 
Eheh nggak usah ncik, terimakasih. tadi di rumah saya sudah minum banyak sebelum menemani ibu kesini.  (Nur menyeringai menolak halus tawaran ncik fatimah).
Ibunya telah selesai. Ruqayyah menghampiri Nur yang dari tadi sibuk memerhatikan warung Ncik Fatimah. Ruqayyah dan Nuraini mohon pamit untuk kembali ke rumah dan berterimakasih karena telah bersedia membelikan titipannya kemarin sore. Sebetulnya Nur tidak tahu apakah yang sebenarnya dititipkan Ibunya pada Ncik Fatimah. Sampai ibunya harus menjemput barang titipannya di malam yang lengang seperti sekarang.
Sepanjang perjalanan pulang yang berjarak empat rumah saja, tetapi jika dibandingkan dengan perumahan yang ada di kota, lebih kurang enam belas rumah harus mereka lewati (copas sebelumnya :D), Nur menyuguhi ibunya dengan berbagai pertanyaan kembali. Kali ini pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu ia jawab sendiri. Karena memang hanya Ruqayyah yang tau jawaban atas pertanyaan Nuraini.
Ibu, itu apa sih? kenapa harus malam ini juga kita jemput? Kenapa tidak besok saja? Itu penting sekali ya? Kenapa tidak Nur sendiri saja yamh jemput ke rumah Ncik Fatimah? Kan cuma sebungkus gitu?  (Pertanyaannya tanpa jeda dengan satu hela nafas saja).
Iih Nur kepo sekali sih? (Ibunya menyeringai menggoda Nuraini yang dari tadi tidak berhenti bertanya).
Perjalanan  malam Nur ketika menemani Ibunya Ruqayyah masih dihinggapi tanda tanya besar di dalam hatinya.  Lagi-lagi ia masih mencari tahu sampai ia mendapatkan jawaban.
Kenapa ya orang-orang di warung Ncik Fatimah suka sekali dengan minuman hitam yang dibuatkan Ncik ya bu? Warnanya saja hitam seperti itu?
Nanti saja pas sudah sampai Ibu beritahu. (Ibu mengelus pundak Nur dan tersenyum).
Perkampungan yang begitu tenang. Hanya disini perjalanan setapak yang di iringi oleh nyanyian jangkrik yang seirama dengan suara-suara katak tepian sawah. Hembusan angin menghantarkan kesejukan kedalam jiwa Nur dan Ruqayyah. Kerlap kerlip cahaya kunang-kunang menambah keharmonisan perjalanan singkat ibu dan anaknya. Tidak terasa sudah sampai di istana kecil mereka.

Sudah terlalu malam untuk melanjutkan cerita Nur dan Ruqayyah. Besok pagi akan ada jawaban dari pertanyaan Nuraini. Sudah waktunya untuk Nur menghampiri bantalnya. Jarum kecil di dinding kamarnya pun sudah menyeringai menyuruh ia lelap dan melepas semua kepenatan hari ini. Nur tersenyum sedang berlayar di taman impian.

Bersambung... :-)

Kamis, 18 Agustus 2016

Mata-Hati

"Mata-Hati"

Bismillahirrahmanirrahimi..
Awan sembab menutupi panorama pagi hari
Airnya turun membasahi bumi
Membangunkan kembali jiwa-jiwa yang telah mati
Menghidupkan kembali semangat yang tak bertepi.

Di sana sini
Raga-raga terus berlari mengejar mimpi
Tak hiraukan bola raksasa yang sedang bersembunyi
Teguhnya hati
Demi halalnya rezeki

Ku pandangi dengan matahati
Langitan telah di buka kembali
Bola raksasa berbinar menampakkan jati diri
Mata-hari... Mata-hati..
Terbit menanyai raga yang menepi
Hadirnya menorehkan jawaban suci.

Bagaimana suasana hatimu di pagi ini?
Berapa nikmat yang telah engkau ingkari?
Kapan terakhir kali dirimu bersyukur kepada Illahi?
Ku dengar bisikan kesucian hati
Memberi jawaban indah yang hakiki.

Lihatlah saat ini,
Jawabanmu kembali membasahi bumi...
(Farah...)

Sabtu, 06 Agustus 2016

Hati yang Tertatih

Bagaimana rasanya disalahkan ketika tidak melakukan sesuatu?
Bagaimana rasanya disangkakan buruk ketika hati telah berjanji untuk baik?
Bagaimana rasanya direndahkan ketika air mata telah lebih dulu menyibakkan permukaan bumi?
Bagaimana rasanya dituduhkan ketika itu bertentangan dengan prinsipil kehidupan?
Bagaimana rasanya dituntut ketika semua sudah dilakukan dengan peluh keikhlasan?
Bagaimana rasanya duhai jiwa yang lirih? 
Bagaimana rasanya duhai hati yang tertatih?

Masih sanggupkah mereka yang tertuduh semena-mena memproklamirkan kebenaran dirinya di hadapan orang-orang yang sudah lebih dulu mengintimidasi dan menjudge mereka sebagai orang yang tidak benar?

Masih mampukah mereka yang tertuduh mengapresiakan harga diri dihadapan orang-orang yang telah menghantamkan cambukan panas ke tubuh lemahnya, menghunuskan pedang ke tulang belulangnya yang semakin rapuh, dan melemparkan untaian kalimat-kalimat hitam yang telah meleburkan batinnya?

Adakala mereka yang tertuduh hanya memiliki problema "sepele". Problema yang tidak mesti dipermaslahatkan sampai ke "meja bundar". Mereka hanya tertuduh, namun inspeksi yang dilakukan seakan mereka telah berada di lorong kesalahan fatal. Bahkan dikala mereka yang menganggap dirinya ingin mengungkap kebenaran, malah terjebak dengan persepsinya sendiri. Tidak mampu memfilter omongan yang akan ia lontarkan kepada mereka yang telah tertuduh. Menuntut mereka yang tertuduh membenarkan "apa kata dia" tanpa berusaha untuk membicarakannya dahulu, tanpa berusaha memuat klarifikasi lebih lanjut kepada mereka yang telah tertuduh.

Lalu bagaimana mereka yang tertuduh mampu membela diri dihadapan orang-orang telah menganggap mereka paling benar?  Bagaimana mereka yang tertuduh menata kembali hati yang telah di cabik-cabik oleh sajak-sajak tajam pemilik kalimat hitam?

Hai !
Tidakkah kita ketahui di dalam lingkaran dan kondisi memprihatinkan seperti ini, mereka yang tertuduh hanya memiliki kekuatan doa dan kelebihan spiritual kepada Tuhannya. Pun mereka hanya mampu untuk diam. Diam sejenak dan hanya mampu membela diri melalui bahasa jiwa. Menyanjung kepada Sang Pemilik Kebenaran untuk memberikan keadilan atas informasi tidak benar yang telah bergelimang di dalam diri si penuduh*.

Di dalam muhasabah diri, pernahkah kita mengingat dan membolak-balikkan kembali kepada jiwa yang pernah merasa suci, jiwa yang merasa benar (lebih benar daripada oranglain)? Betapa seringnya kita berada  pada posisi menjustifikasi seseorang. Baru sedikit fakta yang kita tahu tentang cuplikan kehidupannya, kita telah menuduhnya dengan stigma yang sangat tak pantas. Tatkala seorang bawahan tak mampu terbuka kepada atasan, seketika itu muncul anggapan bahwa ia tertutup kepada semua orang. Padahal di balik itu ia sedang dirundung masalah dan kesedihan yang mendalam. Di saat seorang karyawan hanya duduk diam di dalam hiruk pikuk suasana kerja, malah menduga ia terlalu ego dengan urusan dan tugas-tugasnya sendiri. Padahal sebenarnya ia memikirkan bagaimana agar hasil kerja yang ia lakukan dapat diterima dengan baik oleh semua orang. Dikala seorang teman yang tak membalas pesan/menyapa ketika berpapasan dengannya sekali waktu, seketika muncul anggapan bahwa ia sombong. Padahal di balik itu, ia sedang sibuk, ia sedang terburu-buru dan ia sedang tak melihat kita. Di saat seorang sahabat tak memberi kita pinjaman uang, seketika itu juga beropini bahwa ia pelit. Padahal di balik itu ia sedang berusaha mendapatkan banyak uang untuk kebutuhan ibunya, menabung untuk impiannya atau untuk membayar utang-utangnya. Di saat sang sahabat karib tak memenuhi undangan kita, terlintas di benak jika ia seorang yang tak menghargai. Padahal di balik itu, dia mendapatkan sebuah tanggungan yang harus segera diselesaikan hari itu juga sementara ia sungkan untuk memohon izin dikarenakan penghormatannya. 

Semoga hati mereka yang tertuduh menjadi lebih kuat. Semua kesalahpahaman akan terungkap dengan kebenaran yang telah Allah janjikan bagi mereka yang mengadu lirih di dalam ke khusyukan sujud dan doanya.* 
Aamiin :-)

**
Landasan Al-Qur'an & Hadits tentang Larangan Berburuk Sangka (Su'udzon):
  1. Q.S Al-Hujarat ayat 12:
    "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain".
  2.  HR. Bukhari/Muslim
    "Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dustanya ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara".