Nur...
Nur...
Suara yang terdengar samar dari ruang tengah memecah keheningan rumah di minggu malam. Nur mendongak keatas. Dilihatnya jarum-jarum kecil itu baru menunjuk ke angka delapan.
Suara yang terdengar samar dari ruang tengah memecah keheningan rumah di minggu malam. Nur mendongak keatas. Dilihatnya jarum-jarum kecil itu baru menunjuk ke angka delapan.
lagi-lagi suara yang memanggil namanya semakin jelas dan dekat sekali. Dia mengenali suara itu. tetapi hatinya ragu, biasanya panggilan seperti itu akan ia dengar jika jarum mungil di dinding kamarnya menunjuk ke angka sepuluh. Ada apa ya? (Suara hati nur memberi tanda tanya).
Nur bergegas mengemasi dan menyiapkan berbagai perlengkapan yang akan dibawanya besok pagi.
Nur bergegas mengemasi dan menyiapkan berbagai perlengkapan yang akan dibawanya besok pagi.
![]() |
| Inspirasi dari Sosok Kemulyaan :) |
Nur... Bisa bantu temenin ibu nak?
Nur segera melirik dimana sumber suara. Oh... hehehe Kita mau kemana bu? (tersenyum menyeringai menutupi perasaan was-was yang dari tadi sebenarnya sudah menduga-duga bahwa suara itu adalah milik orang yang sama sepanjang kehidupan yang telah ia lalui. Tapi entah angin dari mana tiba-tiba saja melam ini ia meragukan sendiri kata hatinya. takut).
Temenin ibu ke warung sebentar yuk?
Ibu mau beli apa? Banyak? Ibu mau bikin apa? Sarapan sama bekal Nur sekolah besok ya? Biar Nur sendiri yang beli kalo gitu bu.. (Pertanyaannya tanpa jeda dengan satu hela nafas saja).
Sudah... Yukk temenin ibu sebentar. Ibu balas menyeringai, menepuk lembut pundak gadis cerewetnya. Nur pasrah dan tidak menagih lagi jawaban dari ibu.
Warung yang dituju tidak begitu jauh dari rumah. berjarak empat rumah saja, tetapi jika dibandingkan dengan perumahan yang ada di kota, lebih kurang enam belas rumah harus mereka lewati.
Bu, kenapa ya kalo di kota itu rame sekali? Terus bangunannya rapet lagi? terus kalo jam segini pasti orang-orangnya masih lalu lalang diluar ya? Beda sama disini, jam segini kampung kita udah sepi. Kalo di warung Ncik pun cuma bapak-bapak dan laki-lakinya saja yang ada. Yang lain diam di rumah ya bu?
Bapak-bapak sama laki-laki bedanya dimana nur? (ibu menggoda dan balik bertanya)
Nur hanya menyeringai dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepanjang perjalanan mulut nur tidak berhenti bersuara. Ada-ada saja yang ia sampaikan. Ibu pun hanya tersenyum melihat tingkah anak gadisnya yang tidak mau diam. Beberapa pertanyaan yang dilontarkan Nur, tidak banyak dijawab, karena belum sempat ibunya menanggapi, Nur sudah lebih dulu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan sendiri. Ibu hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat anak gadisnya kini sudah tumbuh dewasa. Tingginya sudah sama. Baru kemarin rasanya ia mengayun-ayunkan tangannya agar nur berhenti dari tangisan manja. Baru kemarin rasanya ia menceritakan kisah-kisah tauladan sebagai pengantar Nur tidur. Baru kemarin rasanya ia melihat Nur merengek setiap pagi minta disekolahkan sama seperti saudara-saudaranya yang lain. Padahal umurnya masih belum mencukupi untuk mengecap pendidikan sebagai anak sekolah. Kini Nur yang manja, Nur yang selalu merengek pun sudah berdiri dan berjalan mendampingi hari-harinya. Tidak terasa waktu memang sangat cepat berlalu. Tidak terasa merekapun telah sampai.
Langit ditaburi ribuan bintang. Cahayanya telah membentuk galaxi yang indah untuk dipandang. Meleburkan suasana sunyi. Suasana begitu ramai. dari ujung kanan ke kiri semuanya dipenuhi bapak-bapak dan laki-laki saja (seperti yang nur ceritakan kepada ibunya tadi). Ruqayyah langsung masuk ke ruang tengah mengambil barang dititipankan tadi siang. Aini sibuk memerhatikan Ncik Fatimah sedang asyik mengaduk-aduk air hitam di dalam sebuah cangkir bening. Dari tadi banyak sekali yang memesan minuman hitam seperti itu kepada ncik Fatimah. Bahkan sesekali bapak-bapak yang dari tadi duduk ramai di kursi ujungpun meminta Aini untuk tidak hanya melihat saja tetapi membantu Ncik Fatimah yang dari tadi tidak berhenti menyediakan minuman hitam yang begitu diminati. Aini tampak tidak begitu tertarik. Tetapi hatinya terus memanggil untuk menyuruh belajar membuat minuman berwarna hitam dihadapannya itu. Aromanya begitu menggugah selera. Ditambah lagi suasana terlihat begitu bersahabat dengan suguhan secangkir minuman hangat berwarna hitam tersebut. Tapi sayang warnanya tidak senikmat aromanya. Desih suara Aini lamat.
Tidak ingin mencoba Nur? Rasanya sangat nikmat. Ncik Fatimah menawarkan Nuraini.
Eheh nggak usah ncik, terimakasih. tadi di rumah saya sudah minum banyak sebelum menemani ibu kesini. (Nur menyeringai menolak halus tawaran ncik fatimah).
Ibunya telah selesai. Ruqayyah menghampiri Nur yang dari tadi sibuk memerhatikan warung Ncik Fatimah. Ruqayyah dan Nuraini mohon pamit untuk kembali ke rumah dan berterimakasih karena telah bersedia membelikan titipannya kemarin sore. Sebetulnya Nur tidak tahu apakah yang sebenarnya dititipkan Ibunya pada Ncik Fatimah. Sampai ibunya harus menjemput barang titipannya di malam yang lengang seperti sekarang.
Sepanjang perjalanan pulang yang berjarak empat rumah saja, tetapi jika dibandingkan dengan perumahan
yang ada di kota, lebih kurang enam belas rumah harus mereka lewati (copas sebelumnya :D), Nur menyuguhi ibunya dengan berbagai pertanyaan kembali. Kali ini pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu ia jawab sendiri. Karena memang hanya Ruqayyah yang tau jawaban atas pertanyaan Nuraini.
Ibu, itu apa sih? kenapa harus malam ini juga kita jemput? Kenapa tidak besok saja? Itu penting sekali ya? Kenapa tidak Nur sendiri saja yamh jemput ke rumah Ncik Fatimah? Kan cuma sebungkus gitu? (Pertanyaannya tanpa jeda dengan satu hela nafas saja).
Iih Nur kepo sekali sih? (Ibunya menyeringai menggoda Nuraini yang dari tadi tidak berhenti bertanya).
Perjalanan malam Nur ketika menemani Ibunya Ruqayyah masih dihinggapi tanda tanya besar di dalam hatinya. Lagi-lagi ia masih mencari tahu sampai ia mendapatkan jawaban.
Kenapa ya orang-orang di warung Ncik Fatimah suka sekali dengan minuman hitam yang dibuatkan Ncik ya bu? Warnanya saja hitam seperti itu?
Nanti saja pas sudah sampai Ibu beritahu. (Ibu mengelus pundak Nur dan tersenyum).
Perkampungan yang begitu tenang. Hanya disini perjalanan setapak yang di iringi oleh nyanyian jangkrik yang seirama dengan suara-suara katak tepian sawah. Hembusan angin menghantarkan kesejukan kedalam jiwa Nur dan Ruqayyah. Kerlap kerlip cahaya kunang-kunang menambah keharmonisan perjalanan singkat ibu dan anaknya. Tidak terasa sudah sampai di istana kecil mereka.
Sudah terlalu malam untuk melanjutkan cerita Nur dan Ruqayyah. Besok pagi akan ada jawaban dari pertanyaan Nuraini. Sudah waktunya untuk Nur menghampiri bantalnya. Jarum kecil di dinding kamarnya pun sudah menyeringai menyuruh ia lelap dan melepas semua kepenatan hari ini. Nur tersenyum sedang berlayar di taman impian.
Bersambung... :-)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)