Sabtu, 28 Januari 2017

Munajat

Pictue by. Farah Aissya (Masjid Baitul Ma'mur Tanjung Uban)

-Farah A.-


Jumat, 20 Januari 2017

Jiwa yang Masygul

Asaku sirna
Mimpiku raib
Cita-citaku musnah
Hatiku pudar
Jiwaku rapuh
Tubuhku lemah
Terkulai tak lagi berdaya
Semua telah pupus

Musnah dihembas gulungan ombak 
Terbang diterpa angin kegagalan
Katanya...

Andai langit memahami
Andai bumi dapat mengerti
Jiwaku takkan buncah
Bathinku takkan pilu

Jerit hatinya...
Menjauhlah
Pergilah
Aku ingin hidup
Aku ingin seperti mereka
Mengapa?

Lagi... 
Tak mampu untukku menolak
Inilah ketetapan.

Dan semua...
Akan ku simpan hingga diriku dilahirkan kembali
Dan meyakini bahwa semua hanyalah mimpi

Batam, 23 Januari 2017

Minggu, 15 Januari 2017

Embun Pagi 3

Picture by. Farah Aissya
Alkisah seorang anak yang memiliki cita-cita sangat sederhana sepanjang hidupnya.
"Ingin Memelihara Senyuman".

Setiap hari inginnya adalah tersenyum. Meski pedih, ia tetap tersenyum.Ketika terluka ia masih berusaha tersenyum. Kala kecewa, ia masih juga inginkan senyum itu ada. Inginnya bahwa senyuman tidak pernah meninggalkan dirinya.

Pada malam hari sebelum ia berlayar ke taman impian. Ia selalu menghadiahkan sebuah senyuman pada alam. "Alam pasti senang dan esok pagi alampun akan menyambutku dengan binar embun pagi yang mendamaikan hatiku lagi". Gumam anak pemilik cita-cita ingin memelihara senyum sepanjang hidup itu.

Namun, malam ini ia terlihat murung. Mukanya sembab. Tak terlihat senyuman di wajah berparas lembutnya. Akupun mendekati dan bertanya. Mengapa?

Tiba-tiba aku melihat ada tetesan bening mulai menggantung di pelupuk matanya. Perlahan turun mengenai pipinya. Dan menggelayut disela dagu berbentuk W-nya. Kembali ku tanya dengan hati-hati. Kenapa?

Ia memelukku sambil terisak.
"Aku telah menyakiti dan membuat kecewa seseorang karena ucapanku malam ini. Aku tidak mengira lidahku bisa seperti ini. Bahkan aku melakukannya sesaat ketika aku hendak berlayar ke taman impian... Aku mengira satu kata itu bisa menjadi candaan, namun hasilnya mengecewakan orang lain".
Pengakuan anak itu lamat-lamat terdengar ditelingaku. Air matanya terus mengalir hingga bahuku terasa lembab.

Aku hanya bisa merangkul dan memeluknya sebagai reinkarnasi dari jiwaku yang telah hilang.
Perlahan kisah anak yang ingin memelihara senyuman inipun mengajarkan bahwa; Ucapan baik itu wajib. Bertutur bahasalah dengan benar agar lingkungan selalu menyayangi dan menghormatimu.

Satu perkataan yang terucap menunjukkan kedewasaan.
Dan... Manusia tidak selalu bisa tersenyum, kadang kala butuh menangis.
Kawan...
Menangislah karena air mata juga harus mengetahui bahwa dunia ini tidak seindah embun pagi yang selalu memberi kesejukan.

Please visit Embun Pagi 2 on : https://mjsenandung.blogspot.co.id/2017/01/embun-pagi-2.html

Rabu, 11 Januari 2017

Embun Pagi 2

Picture by. Farah Aissya
Saya teringat ucapan seorang Ibu setengah baya yang sedang duduk menasehati anak bungsunya. Mereka duduk di sebuah kursi kayu berbalut rotan tua dan berwarna coklat muda.

Sang Ibu berkata, "Suatu masa seorang yang memiliki kejayaan akan mengalami pasang surut harta dan tahta."

...Harta dapat menjatuhkan pemiliknya ke lembah neraka. Tahtapun mampu menyeret tubuh pemiliknya ke dalam  limbah penuh kobaran api yang menyala".

Setiap teringat nasehat sederhana itu....

Acap hati ini menunduk dan meneteskan air mata dikala duduk diam seorang diri. Tak berkawan. Sepi dan sunyi. Bergumam bersama angin selatan yang tak pernah memberi jawaban. Jiwa hanya tertegun. Tak bersuara.

Mengapa kesenangan itu adanya karena punya tahta? Mengapa kekayaan itu harus dengan harta?

Mungkinkah diri ini akan terjebak dengan permainan Harta dan Tahta dunia?
.
.
.
.
Sebelum terlambat, tidak ada salahnya memuhasabah jiwa yang masih di jaga kejernihannya oleh Tuhan Sang Pemilik Semesta.

Ucapkanlah pengakuan Kesalahan.
Tangkap lembaran positif yang menemani lembar kehidupan.
Jauhkan diri dari kesombongan harta...tahta.
Bukankah kita tahu bahwa kehidupan di dunia hanya senda gurau semata.

Harta dan tahta dunia hanya titipan sementara.
.
.
Duhai praktisi dunia...
Tanyakan pada diri yang sedang sibuk mengumpulkan harta dan tahta dunia. Sudah punya amalan apa saja untuk alam kedua?

Sabtu, 07 Januari 2017

Embun Pagi 1

Picture by. Farah Aissya
Pelaut yang tangguh tidak berlayar di laut yang teduh.  Pepatah Afrika ini menjadi simbol dalam menelusuri kehidupan. Segala sesuatunya pasti ada tantangan. Banyak lika-liku yang mesti dilewati. Ketika tantangan sudah dilewati, Srrtt... Anda Berhasil!

Pejamkan matamu sejenak.
Hirup dan rasakan sentuhan angin yang mulai membelai lembut,
Pelukan alam yang memberikan kekuatan
Damai... Teduh...  
Lamat-lamat buka kembali mata indah itu
Dan... tersenyumlah...


Jangan mudah menyerah. Jika sudah memulai, putuskan untuk menyelesaikan!
Karena... Saya bertekad seperti itu.
Kamu?

...Semoga diri ini tetap disiplin dan konsisten dengan prinsip hidup yang sudah di ciptakan.