Sabtu, 23 Juli 2016

Air Mata Murni

Pagi ini begitu cerah. Dari ufuk timur hingga ke barat hanya ada nuansa biru. Gumpalan-gumpalan putih yang biasanya menjadi teman sejati bagi sang langit, hari ini mereka bersembunyi. Tidak ada yang tahu entah dimana. Mungkin hanya bola raksasa yang menggantung dilangit itu saja yang dapat memberikan sedikit informasi dimana mereka menepi. Ataukah mungkin mereka sedang berbaik hati menemani Murni yang sedang terbaring lemah, dengan tangan yang sudah dibaluti perban putih dan tubuhnya masih dikelilingi oleh peralatan medis transet/infus set yang tak kunjung dilepaskan oleh pihak rumah sakit tempat ia terbaring. Padahal hari ini sudah memasuki hari ke sebelas. Entah apa yang ada didalam pikiran murni. Tidak ada yang tahu. Tatapannya kosong. Bagian pipinya seperti lembab disebabkan berlian-berlian kecil yang terus mengalir lembut. Ia terlihat bersusah payah menahan dan menghentikan  berlian itu. Ah, sepertinya kali ini berlian-berlian itu terus memaksa ingin keluar, mungkin mereka ingin bertemu dengan sahabat langit yang kini sedang menepi dan bersembunyi. 

Lagi. Pintu kamarnya tertutup rapat. Dari kaca kecil yang terpasang dibagian pintu masuk kamar, ada banyak orang yang berlalu lalang silih berganti. tetapi tidak ada yang singgah atau sekedar mampir saja di ruangan itu. Kamar Anggrek kosong tiga, kelas dua, lantai empat itu kecuali dokter, perawat, petugas kebersihan, dan pengantar makanan rumah sakit. Tak terlihat seorangpun yang menunggui murni, layaknya pasien lain yang tak pernah kosong dari kunjungan dan pantauan keluarga mereka. Tetapi hari ini sedikit berbeda, di rak pojok tempat murni berbaring terlihat sekantong buah apel dan jeruk yang menemani. Sepertinya baru saja ada seseorang yang datang menjenguk dan melihat keadaannya. Entah siapa sosok itu. Tidak ada yang tahu, tetapi murni tentu mengenalnya. Lalu mengapa masih ada air mata? Hati ini mulai bertanya-tanya. Apakah keluarga murni baru mengetahui? lalu kenapa pergi lagi?  (kepo sekali)
***
Dari kejauhan seorang gadis muda berkerudung corak abu tua perlahan terus melangkahkan kakinya. Tatapannya begitu lurus dan teduh. Diam-diam ia selalu mengamati dibagian pojok lorong bangunan. Sebuah ruangan dengan tulisan Anggrek kosong tiga, kelas dua. Dengan hati-hati diletakkannya tangan ke bagian gagang pintu. Jemarinya semakin kuat menggenggam dan ingin membukanya. Entah dengan alasan apa segera saja ia ingin menghampiri penghuni kamar.
Assalamu'alaikum... Selamat pagi?
Sapa gadis muda dengan penuh kehati-hatian. Khawatir dan was-was jika nanti penghuni kamar merasa tidak nyaman atas kedatangannya.
Wa'alaikumsalam.. Selamat pagi juga suster, silahkan masuk.
(sahut murni sambil tersenyum dan menyeka bagian pipinya).
Si gadis muda terlihat sedikit tenang, rasa was-wasnya mulai memudar karena penghuni kamar menyambutnya dengan ramah dan wajahnya terlihat sangat bersahabat meskipun ia tidak tahu siapakah gadis muda yang mengunjunginya di hari rabu pagi ini tepat pukul 09.35 wib tanggal 3 November 2010, atau dihari ke sebelas ia telah di rawat.
Maaf mba, saya bukan suster. Ini hanya kebetulan saya mengenakan baju ini dan polanya ternyata memang sedikit mirip dengan perawat rumah sakit ini. (si gadis muda tersenyum simpul meluruskan).
Murni tidak banyak menanyai dan tidak tampak menyidik sedikitpun entah siapa, darimana, dan ada tujuan apakah sebenarnya si gadis ini muda masuk ke ruangannya. Ia hanya diam dan tersenyum sambil menyilahkannya duduk. Sepertinya murni menunggu biar gadis itu saja yang memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud serta tujuan menemui dirinya.
***
Keesokan harinya si gadis muda  kembali mengunjungi murni. Dan ini adalah hari keempat ia berkunjung. Mereka terlihat akrab, sesekali murni masih meneteskan berlian kecil di sela pipinya kemudian kembali menyeka. Murni tampak lebih baik meskipun rangkaian transet masih belum bisa dilepaskan dari anggota tubuhnya.
(Sebenarnya siapa gadis muda yang setia menemani murni?  Kenapa murni harus dirawat? Sakit apa? Dimana keluarganya?) belum ada pencerahan.
 ***
Si gadis muda belajar banyak dari pengalaman hidup yang diceritakan oleh murni. Ia menjadi orang terdekat untuk murni saat ini. Kepedulian dan ketulusannya membuat murni terbuka tentang masalah yang pernah ia hadapi. Meskipun ia masih muda terpaut perbedaan usia 15 tahun, tetapi pola pikirnya bisa disesuaikannya dengan masalah kehidupan yang telah dilewati murni. 

Setiap hari murni bercerita mengenai kisah dan perjalanan kehidupan yang pernah ia lewati.
Murni adalah Ibu dari seorang anak yang menginjak usia 2 tahun dan kini sedang di asuh oleh ibunya yang menetap di sebuah perkampungan kecil diujung Pulau Sumatera. Ia menikah di usia 22 menuju 23tahun. Namun pernikahan itu tidak bertahan lama setelah buah hati mereka lahir. Banyak rintangan dan ujian yang sudah mereka lewati. awalnya mereka tetap bertahan dan sabar demi mewujudkan keluarga yang barokah di hadapan Allah. Tetapi semakin hari ujian yang datang silih berganti. Hinga Allah memutuskan untuk menjemput seorang pemilik tulang rusuk yang ada di dalam tubuhnya saat ini. Saudara-saudaranya pun mulai menjauhi, mertuanya benci. Ibarat sudah jatuh kemudian tertimpa tangga lagi. Tetapi murni tidak menyalahkan keadaan. Ia semakan kuat dan mengikhlaskan. 

Menitipkan dan meninggalkan buah hati yang masih berusia 13 bulan menjadi keputusan paling  berat yang harus ia lakukan. Hal ini harus dilakukan dengan harapan dapat memperbaiki keadaan, ia tidak ingin anak yang sudah diamanahkan malah tersia-siakan. Apapun yang terjadi demi si buah hati, apapun jenis pekerjaan akan ia terima. Tidak masalah, meskipun itu tidak sesuai dengan bidang akademiknya. Yang penting halal dan kerja keras sepeti ini tidak bertentangan dengan syari'at agama. Air mata murni jatuh tepat mengenai telapak tangan si gadis muda, mungkin teringat anak semata wayangnya. Kemudian ia bergumam:
..."Di dunia ini setiap manusia yang diciptakan akan memiliki masalah, berbagai macam problemik kehidupan akan diujikan. Harus kuat dan berhati-hati menyikapinya. Air mata yang dikeluarkan akan menjadi saksi bagaimana hati ini terus rindu akan sebuah penyelesaian. Langkah kaki menjadi saksi bahwa diri ini selalu berjuang menemukan solusi untuk menghentikan tangisan. Dari mulut ini akan selalu keluar doa-doa pengharapan agar semua yang diujikan menjadi ladang amal untuk seorang insan. Dan semua kepedihan ini adalah cara Tuhan untuk penggugur dosa atas kesilapan yang pernah dilakukan".
Begitulah sekilas awal kisah jatuhnya Air Mata Murni. Hingga pada akhirnya ia pun harus di rawat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan di kamar Anggrek kosong tiga kelas dua lantai empat.

Si gadis muda dengan takzim terus mendengarkan kisah dan perjuangan hidup murni. Ia pun tak henti menyemangati. Layaknya seorang adik yang menguatkan kakaknya ditengah kelemahan yang menimpa diri. Ia yakin murni akan mampu melewati semua prahara yang terjadi  dan semua ujian ini akan berakhir dengan kedamaian serta kemenangan yang hakiki.

Murni terlelalap. Ia bisikkan lamat-lamat ditelinga wanita itu bahwa "Suatu hari nanti air mata murni akan menjadi bongkahan berlian paling indah di muka bumi". 


"Farah Aissya"
Sinopsis.

Kamis, 21 Juli 2016

Aku Bersama Kehidupanku


Tepat di hari jum'at bulan ke sebelas tahun 1993 Masehi, Aku di percayakan oleh Allah untuk dapat melihat semua karunia dan ciptaannya nya yang ada di dunia.  Betapa bersyukurnya hati ini, aku dilahirkan dari seorang ibu yang luar biasa. Dan memiliki seorang ayah yang begitu bijaksana. Mereka mutiara hati di dalam tubuh ini. Tak akan pernah terganti oleh kilauan apapun yang ada di perut bumi. Mereka mengajarkan arti hidup dan apa itu kesederhaan yang hakiki. Mengajarkan makna di dalam pencapaian sebuah harapan. Mengajarkan arti meraih impian yang sejati. Dan mengajarkan semua hal yang tidak pernah ku dapati dari orang lain. Terimakasih duhai Ibuku yang senantiasa menjadi pelita di dalam kegelapan. Terimakasih duhai Ayahku yang senantiasa menjadi tokoh inspirasi di dalam perjalanan hidupku. Ayahku, Ibuku terimakasih cinta tulus dan kasih sayang mu untukku. Anakmu.

Dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang sederhana. Kehidupan yang apa adanya lantas tidak membuat aku dan saudara-saudaraku yang lainnya merasa berbeda dari orang-orang dan teman-teman yang memiliki kekayaan dan kelebihan di dunia. Orang tua ku dengan sangat bijak meminta untuk terus mendoakan mereka yang telah Allah beri kelebihan. Berpesan untuk terus mensyukuri setiap apa yang telah Allah berikan. Meskipun itu hidup di dalam kesederhanaan. Apabila tidak hari ini mungkin esok, minggu depan, bulan depan, tahun depan,  ataupun  beberapa tahun yang akan datang Allah akan karuniakan sesuatu yang sangat baik dan sesuatu itu tidak pernah terpikirkan oleh siapapun sebelumnya. Yang pasti rencana Sang Pencipta jauh lebih indah untuk anak-anak yang memiliki cita-cita mulia. Untuk anak-anak yang menghambakan diri hanya kepada Tuhannya. Dan sungguh akupun meyakini akan hal itu.  Terimakasih duhai Ibuku yang senantiasa menjadi pelita di dalam kegelapan. Terimakasih duhai Ayahku yang senantiasa menjadi tokoh inspirasi di dalam perjalanan hidupku. Ayahku, Ibuku terimakasih cinta tulus dan kasih sayang mu untukku. Anakmu.

Inilah sedikit cerita tentang Aku. Tentang Aku yang menjalani kehidupan dengan melalang buana di usia muda. Tentang Aku yang berpegang teguh  dengan semua amanah orang tua. Tentang Aku yang hanya ingin menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupan di dunia. Tentang Aku yang akan menghambakan diri hanya kepada Sang Pencipta. Tentang Aku yang menggoreskan kisah-kisah sederhananya. Dan tentang Aku yang memiliki mimpi bahwa sepanjang perjalanan kehidupanku akan menjadi indah dengan restu orang tua dan ridho Allah azza wa jalla. Semoga setiap tulisan yang ada pada halaman dan beberapa postingan ini akan memberikan inspirasi dan tambahan ilmu untuk semua sahabat (bielalang) dimanapun berada.

Terimakasih duhai Ibuku yang senantiasa menjadi pelita di dalam kegelapan. Terimakasih duhai Ayahku yang senantiasa menjadi tokoh inspirasi di dalam perjalanan hidupku. Ayahku, Ibuku terimakasih cinta tulus dan kasih sayang mu untukku. Anakmu. Engkau akan selalu terpatri di dalam qalbuku. Disepanjang perjalanan hidupku akan selalu ku lukis wajah kasihmu. Akan ku ukir setiap amanahmu di dalam catatan kehidupanku.

Minggu, 10 Juli 2016

Bergumam di Awan Kelam Bertabur Bintang

Bergumam di awan kelam bertabur bintang
Angin menghunuskan pedang di dalam kegelapan
Raganya terbang menjelma rintikan hujan
Merintih tak berdaya dalam dekapan Tuhan

Bergumam di awan kelam bertabur bintang
Sang belalang terbang menembus langitan
Pekikannya menyambar untaian bintang di balik awan
Menghancurkan gulungan ombak ditengah lautan
Mencabik perut bumi dengan satu alasan
Impian.

Batam, 10 Juli 2016
Farah Aissya

Pekikannya menyambar untaian bintang






Rabu, 06 Juli 2016

RAMADHAN KU, MENGAPA CEPAT BERLALU

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh...
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H.

Bulan Ramadhan jangan tinggalkan Al-Qur'an
Sahabat Bielalang tidak terasa ya kita sudah melewati 1 bulan penuh bulan Ramadhan yang diliputi dengan keberkahan. Dan sekarang kita sudah masuk bulan Syawal. Tentunya kita semua berharap dan berdoa semoga Allah menerima ibadah dan setiap pengharapan yang telah kita ikhrarkan selama bulan Ramadhan berlangsung. Aamiin :-)

Sejujurnya, sangat sedih ditinggalkan dan harus meninggalkan bulan yang penuh berkah (Ramadhan). Bulan yang hanya satu kali kita dapati diantara dua belas bulan yang Allah anugerahkan untuk kita bersama. Terkadang saya pun sering merenungkan dan berfikir dengan sendirinya, "memang apa saja yang telah saya lakukan selama ramadhan? memangnya saya segera mendapati apa yang telah saya idamkan ataupun saya niatkan selama ramadhan? memangnya Rasulullah  memeluk saya selama ramdhan? dan sampai terlintas memangnya Allah melihatkan Rupa Indahnya jika saya mampu berpuasa penuh, menuntaskan bacaan/mengkhatamkan Al-Qur'an berulang-ulang dalam rentang 1 bulan penuh (Ramadhan)?"
Ah.. sepertinya tidak, saya tidak mampu menjawab. Tetapi tetap saja, mengapa harus sedih? Mengapa saya harus menangis ketika Ramadhan pergi? Apa sebenarnya yang saya sedihkan? Apa yang saya tangisi?

Sahabat Bielalang yang senasib dan seperjuangan di jalan Allah. 
Ingin sekali mengakui bahwa saya sering meminta agar saya:
"Dijadikan sebagai seorang yang lebih baik, meminta Allah tidak meninggalkan saya, meminta agar Allah menjaga Ibu, melindungi keluarga, memelihara teman-teman saya, menempatkan ayah saya bersama orang-orang yang Ia muliakan di surga. Jangan memberikan rasa sakit kepada ibu saya di usia yang sedang beliau lalui saat ini. Namun apabila rasa sakit tersebut terpaksa Allah hadiahkan kepada ibu saya untuk *menghapuskan dosanya. Allah.. izinkanlaah, biarkan sosok anak hina dihadapanMu ini saja yang merasakan kepedihan dari sakit yang engkau timpakan. Karena saya adalah anak mudanya, saya adalah titipanMu untuknya, Mohon pantaskanlah pengharapan ini di hadapanMu".
Berulang-ulang doa seperti itu terus terucap. Jika ibadah sholat wajib ditunaikan lima kali dalam satu hari. Maka permohonan seperti inipun terlontar tidak kurang dari jumlah sholat wajib tersebut. Bait-bait ini mengalir begitu saja. Apakah mungkin karena permohonan seperti ini  yang menjadi salah satu penyebab saya harus bersedih dan menangis ketika harus mendengar gema takbir berkumandang silih berganti di penghujung ramadhan? haruskah saya kehilangan kesempatan dimana Allah menjanjikan **melipatgandakan amalan yang sangat menggiyurkan sepanjang Ramadhan?. Haruskah saya menunggu kesempatan tahun depan agar setiap permohonan/amalan saya dilipatgandakan kembali?

Biarlah Allah yang menentukan, saya percaya Allah lebih memahami apa yang saya butuhkan. Berlalulah Ramadhan, selamat datang hari kemenangan 1 Syawal 1437H. Semoga tahun depan Allah perkenankan untuk kita bertemu dan bersama kembali di dalam nuansa keimanan yang lebih baik dan lebih berkualitas disetiap amalan kemulyaan yang akan saya lakukan.
^^^^^^^^^^^^^^^
Landasan Hadits.
*"Tiada seorang mu'min yang merasakan sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapuskan dosa-dosanya". (HR. Bukhori)
**"Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah, maka ia mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan tersebut ia mendapat sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf. Tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf". (HR. Tirmidzi).