Pagi ini begitu cerah. Dari ufuk timur hingga ke barat hanya ada nuansa biru. Gumpalan-gumpalan putih yang biasanya menjadi teman sejati bagi sang langit, hari ini mereka bersembunyi. Tidak ada yang tahu entah dimana. Mungkin hanya bola raksasa yang menggantung dilangit itu saja yang dapat memberikan sedikit informasi dimana mereka menepi. Ataukah mungkin mereka sedang berbaik hati menemani Murni yang sedang terbaring lemah, dengan tangan yang sudah dibaluti perban putih dan tubuhnya masih dikelilingi oleh peralatan medis transet/infus set yang tak kunjung dilepaskan oleh pihak rumah sakit tempat ia terbaring. Padahal hari ini sudah memasuki hari ke sebelas. Entah apa yang ada didalam pikiran murni. Tidak ada yang tahu. Tatapannya kosong. Bagian pipinya seperti lembab disebabkan berlian-berlian kecil yang terus mengalir lembut. Ia terlihat bersusah payah menahan dan menghentikan berlian itu. Ah, sepertinya kali ini berlian-berlian itu terus memaksa ingin keluar, mungkin mereka ingin bertemu dengan sahabat langit yang kini sedang menepi dan bersembunyi. Lagi. Pintu kamarnya tertutup rapat. Dari kaca kecil yang terpasang dibagian pintu masuk kamar, ada banyak orang yang berlalu lalang silih berganti. tetapi tidak ada yang singgah atau sekedar mampir saja di ruangan itu. Kamar Anggrek kosong tiga, kelas dua, lantai empat itu kecuali dokter, perawat, petugas kebersihan, dan pengantar makanan rumah sakit. Tak terlihat seorangpun yang menunggui murni, layaknya pasien lain yang tak pernah kosong dari kunjungan dan pantauan keluarga mereka. Tetapi hari ini sedikit berbeda, di rak pojok tempat murni berbaring terlihat sekantong buah apel dan jeruk yang menemani. Sepertinya baru saja ada seseorang yang datang menjenguk dan melihat keadaannya. Entah siapa sosok itu. Tidak ada yang tahu, tetapi murni tentu mengenalnya. Lalu mengapa masih ada air mata? Hati ini mulai bertanya-tanya. Apakah keluarga murni baru mengetahui? lalu kenapa pergi lagi? (kepo sekali)
***
Dari kejauhan seorang gadis muda berkerudung corak abu tua perlahan terus melangkahkan kakinya. Tatapannya begitu lurus dan teduh. Diam-diam ia selalu mengamati dibagian pojok lorong bangunan. Sebuah ruangan dengan tulisan Anggrek kosong tiga, kelas dua. Dengan hati-hati diletakkannya tangan ke bagian gagang pintu. Jemarinya semakin kuat menggenggam dan ingin membukanya. Entah dengan alasan apa segera saja ia ingin menghampiri penghuni kamar.
Assalamu'alaikum... Selamat pagi?
Sapa gadis muda dengan penuh kehati-hatian. Khawatir dan was-was jika nanti penghuni kamar merasa tidak nyaman atas kedatangannya.
Wa'alaikumsalam.. Selamat pagi juga suster, silahkan masuk.
(sahut murni sambil tersenyum dan menyeka bagian pipinya).
Si gadis muda terlihat sedikit tenang, rasa was-wasnya mulai memudar karena penghuni kamar menyambutnya dengan ramah dan wajahnya terlihat sangat bersahabat meskipun ia tidak tahu siapakah gadis muda yang mengunjunginya di hari rabu pagi ini tepat pukul 09.35 wib tanggal 3 November 2010, atau dihari ke sebelas ia telah di rawat.
Maaf mba, saya bukan suster. Ini hanya kebetulan saya mengenakan baju ini dan polanya ternyata memang sedikit mirip dengan perawat rumah sakit ini. (si gadis muda tersenyum simpul meluruskan).Murni tidak banyak menanyai dan tidak tampak menyidik sedikitpun entah siapa, darimana, dan ada tujuan apakah sebenarnya si gadis ini muda masuk ke ruangannya. Ia hanya diam dan tersenyum sambil menyilahkannya duduk. Sepertinya murni menunggu biar gadis itu saja yang memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud serta tujuan menemui dirinya.
***
Keesokan harinya si gadis muda kembali mengunjungi murni. Dan ini adalah hari keempat ia berkunjung. Mereka terlihat akrab, sesekali murni masih meneteskan berlian kecil di sela pipinya kemudian kembali menyeka. Murni tampak lebih baik meskipun rangkaian transet masih belum bisa dilepaskan dari anggota tubuhnya.
(Sebenarnya siapa gadis muda yang setia menemani murni? Kenapa murni harus dirawat? Sakit apa? Dimana keluarganya?) belum ada pencerahan.
***
Si gadis muda belajar banyak dari pengalaman hidup yang diceritakan oleh murni. Ia menjadi orang terdekat untuk murni saat ini. Kepedulian dan ketulusannya membuat murni terbuka tentang masalah yang pernah ia hadapi. Meskipun ia masih muda terpaut perbedaan usia 15 tahun, tetapi pola pikirnya bisa disesuaikannya dengan masalah kehidupan yang telah dilewati murni. Setiap hari murni bercerita mengenai kisah dan perjalanan kehidupan yang pernah ia lewati.
Murni adalah Ibu dari seorang anak yang menginjak usia 2 tahun dan kini sedang di asuh oleh ibunya yang menetap di sebuah perkampungan kecil diujung Pulau Sumatera. Ia menikah di usia 22 menuju 23tahun. Namun pernikahan itu tidak bertahan lama setelah buah hati mereka lahir. Banyak rintangan dan ujian yang sudah mereka lewati. awalnya mereka tetap bertahan dan sabar demi mewujudkan keluarga yang barokah di hadapan Allah. Tetapi semakin hari ujian yang datang silih berganti. Hinga Allah memutuskan untuk menjemput seorang pemilik tulang rusuk yang ada di dalam tubuhnya saat ini. Saudara-saudaranya pun mulai menjauhi, mertuanya benci. Ibarat sudah jatuh kemudian tertimpa tangga lagi. Tetapi murni tidak menyalahkan keadaan. Ia semakan kuat dan mengikhlaskan.
Menitipkan dan meninggalkan buah hati yang masih berusia 13 bulan menjadi keputusan paling berat yang harus ia lakukan. Hal ini harus dilakukan dengan harapan dapat memperbaiki keadaan, ia tidak ingin anak yang sudah diamanahkan malah tersia-siakan. Apapun yang terjadi demi si buah hati, apapun jenis pekerjaan akan ia terima. Tidak masalah, meskipun itu tidak sesuai dengan bidang akademiknya. Yang penting halal dan kerja keras sepeti ini tidak bertentangan dengan syari'at agama. Air mata murni jatuh tepat mengenai telapak tangan si gadis muda, mungkin teringat anak semata wayangnya. Kemudian ia bergumam:
..."Di dunia ini setiap manusia yang diciptakan akan memiliki masalah, berbagai macam problemik kehidupan akan diujikan. Harus kuat dan berhati-hati menyikapinya. Air mata yang dikeluarkan akan menjadi saksi bagaimana hati ini terus rindu akan sebuah penyelesaian. Langkah kaki menjadi saksi bahwa diri ini selalu berjuang menemukan solusi untuk menghentikan tangisan. Dari mulut ini akan selalu keluar doa-doa pengharapan agar semua yang diujikan menjadi ladang amal untuk seorang insan. Dan semua kepedihan ini adalah cara Tuhan untuk penggugur dosa atas kesilapan yang pernah dilakukan".
Begitulah sekilas awal kisah jatuhnya Air Mata Murni. Hingga pada akhirnya ia pun harus di rawat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan di kamar Anggrek kosong tiga kelas dua lantai empat.
Si gadis muda dengan takzim terus mendengarkan kisah dan perjuangan hidup murni. Ia pun tak henti menyemangati. Layaknya seorang adik yang menguatkan kakaknya ditengah kelemahan yang menimpa diri. Ia yakin murni akan mampu melewati semua prahara yang terjadi dan semua ujian ini akan berakhir dengan kedamaian serta kemenangan yang hakiki.
Murni terlelalap. Ia bisikkan lamat-lamat ditelinga wanita itu bahwa "Suatu hari nanti air mata murni akan menjadi bongkahan berlian paling indah di muka bumi".
"Farah Aissya"
Sinopsis.
Sinopsis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)