![]() |
| Setiap kali diberi kesempatan berdiri dan berkumpul bersama orang-orang hebat serta berilmu. Aku merasa janji yang sedang tergenggam ini akan segera kulepas pada pemilik hati teramat kusayangi. |
Dulu sebelum berlayar ke taman impian, Aku sering dibekali kisah-kisah teladan yang diceritakan oleh ibuku. Tentang perjuangan Nabi dan Rasul bersama keluarga serta para sahabatnya. Sesekali beliau juga bercerita tentang doa-doa yang selalu dipanjatkan seorang Ibu kepada anak.
Aku
hanya diam, perlahan menutup mata. Tidur dengan cepat. Tapi, tetap
saja cerita dan doa itu beliau lanjutkan. Sepertinya ia tau anaknya
sedang berpura-pura waktu itu. Seorang ibu memang tidak bisa
dibohongi. Kasih sayangnya terlalu cerdas untuk diakali. #hihii
Suatu
hari aku pernah benar-benar ketiduran. Benar-benar tak sadarkan diri
karena berkhayal tingkat tinggi mendengar kisah kesalehan seorang
pemuda tampan tak tertandingi.
Esok
pagi, setelah sholat shubuh. Aku coba untuk mengingat lagi sambil
menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. "Apa yang beda, ya?"
pikirku.
Kulirik
wajah cantik yang mulai menua. Semakin dipandang garis-garis
penuaannya semakin menghilang. Tersisihkan oleh senyuman tulusnya.
Kubayangkan betapa cantik pemilik wajah itu dimasa muda. "Ibuku
memang cantik!"
Di
dalam hati aku bertanya lagi, "Apa yang beda ya pagi ini?"
disekelilingku tetap sama seperti kemarin. Hanya beda cuaca saja.
Kemarin hujan. Sekarang cerah. "Mungkinkah kejanggalan ini hanya
perasaan saja?" leraiku sendiri.
Biasalah
aku kecil dulu punya daya imaji diluar ekspektasi anak-anak lain.
Apalagi anak masa kini. #hahaa
Kembali
kupandang wajah paling cantik sedunia itu. Ia sudah selesai
menghidangkan masakan penuh cintanya diatas meja bundar (bukan
konferensi meja bundar, lho) berdiameter lebih kurang 110 cm dan
tinggi 75 cm. Meja itu setidaknya cukup untuk enam orang. Aku, ibu,
ayah, abang, kakak dan nenek. Semua hidangan tertata dengan apik layaknya menu yang terhidang di restoran mahal. Ada Teri lado mudo plus jariang batokok (jengki-jengkol), menu favoritku
#hahaa(2)
Ia
berhasil menyulap hal-hal sederhana menjadi mewah. Termasuk dalam
masakan. Soal rasa jangan ditanya. Dikumpulkan ribuan koki handal
diseluruh penjuru negeri ini pun, kurasa belum tentu senikmat masakan
ibuku. Ibuku tetap nomor satu!
***
Sekitar pukul
tujuh lewat tiga belas menit, seragam
kebanggaan segera dikenakan. Tas berisi perkakas dan perkikis
kebutuhan selama dinas juga sudah dimasukan. Ibuku berangkat.
Menjemput rezeki yang sudah Allah janjikan. "Dan katakanlah:
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin
akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada
(Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu
diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (Surah
At-Taubah, ayat 105)
Tadi
malam sebelum keblasan tidur, aku juga masih ingat, ibu sempat
bercerita lebih kurang dua setengah bulan lagi padi akan menguning.
Aku pun berdoa agar panen kali ini berhasil. Sebab sudah tiga tahun
berturut-turut, sawah-sawah para petani dikuasai tikus-tikus tidak
bertangungjawab. Pergi pagi pulang petang hanya menyemai keletihan.
Namun, wajah ceria berbalut semangat harus tetap mereka pelihara,
demi masa depan anak cucu di rumah.
Hebatnya lagi ibuku selalu menanamkan keyakinan bahwa Allah pasti membalas semua jerih payah yang sudah diselesaikan. Dan ibuku juga pernah mengatakan, "Orang yang bekerja sampai dirinya merasa lelah, Allah berikan hadiah sebuah pengampunan dosa." Dan ternyata ibu benar. Aku pernah mendapati hadits yang artinya, “Dari Ibnu Abbas ra berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut." (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath VII/ 289).
Hebatnya lagi ibuku selalu menanamkan keyakinan bahwa Allah pasti membalas semua jerih payah yang sudah diselesaikan. Dan ibuku juga pernah mengatakan, "Orang yang bekerja sampai dirinya merasa lelah, Allah berikan hadiah sebuah pengampunan dosa." Dan ternyata ibu benar. Aku pernah mendapati hadits yang artinya, “Dari Ibnu Abbas ra berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut." (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath VII/ 289).
***
Aku
berdiri memandangi. Kuperhatikan langkah kakinya mantap tidak ada keraguan sedikitpun menyusuri pematang sawah yang sempit, becek dan berlumpur itu.
Perlahan bulir bening telah menganak di sudut kelopak mata. Satu persatu menetes membasahi kedua pipi. Terdiam sejenak diujung dagu. Akhirnya jatuh membasahi tanah tempatku berpijak. Wusshh... angin berhembus pelan, kurasakan angin itu menggerakkan beberapa helai rambutku lembut. Disaat itu terucap sebuah janji. Janji yang hingga kini masih tergenggam erat. Entah kapan akan kupenuhi ....
Perlahan bulir bening telah menganak di sudut kelopak mata. Satu persatu menetes membasahi kedua pipi. Terdiam sejenak diujung dagu. Akhirnya jatuh membasahi tanah tempatku berpijak. Wusshh... angin berhembus pelan, kurasakan angin itu menggerakkan beberapa helai rambutku lembut. Disaat itu terucap sebuah janji. Janji yang hingga kini masih tergenggam erat. Entah kapan akan kupenuhi ....
Ibu
kembali. Kuhapus bulir-bulir kelemahan yang membasahi pipi tadi. "Ada
yang lupa?" tanyaku pelan.
"Tolong
bawakan telekung, Nak."
Aku bergegas memenuhi. Kuberikan dengan tunduk.
Aku bergegas memenuhi. Kuberikan dengan tunduk.
Hal-hal
kecil seperti ini, selalu kujadikan sebagai nasihat. Seberat
apapun pekerjaan yang dilakukan, sholat jangan tinggalkan. Sejauh
apapun melangkah, jangan pernah melupakan Allah.
"Jangan
main jauh-jauh. Sebelum maghrib sudah di rumah." Pesan ibu
sebelum berangkat lagi.
Aku
mengangguk menuruti perintah. Hari ini memang tidak ingin kemana-mana. Aku
hanya ingin menuntaskan kebiasaan manjat pohon bersama teman-teman di
halaman rumah saja. #hahaa(3)
***
Tidak
terasa semakin hari tubuhku semakin tumbuh. Umurku juga bertambah.
Bahkan berat badan pun mengikut, imbang. "Aku
sudah dewasa."
Berbekal banyak kisah teladan, nasihat serta amanah untuk melaksanakan kewajiban sholat fardhu lima waktu dalam sehari, aku mencoba memenuhi janji yang telah terucap waktu itu. Meski belum tahu kapan terpenuhi. Namun, setiap kali diberi kesempatan berdiri dan berkumpul bersama orang-orang hebat serta berilmu. Aku merasa janji yang sedang tergenggam ini akan segera kulepas pada pemilik hati teramat kusayangi. Meskipun kusadari ini akan sama sulitnya bak memunguti daun-daun yang jatuh tersapu hilang kedalam jurang.
Semoga aku menjadi anak pemeluk janji sejati dan Allah ridho dengan janji yang masih kugenggam hingga kini. "(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran ayat 76).
