Akhirnya Kau Kutemukan (Episode 1)
"Aku seperti semakin dekat dengan kematian. Dan aku masih belum menemukan apa yang di cari. Jika kau tanya apa itu? Entahlah, akupun tak tahu. Yang pasti dalam setiap kesunyian, hanya ada angan-angan yang sulit untuk ku rangkai dengan untaian kata."
"Aku seperti semakin dekat dengan kematian. Dan aku masih belum menemukan apa yang di cari. Jika kau tanya apa itu? Entahlah, akupun tak tahu. Yang pasti dalam setiap kesunyian, hanya ada angan-angan yang sulit untuk ku rangkai dengan untaian kata."
Langit semakin gelap, awan hitam dengan cepat membungkus cakrawala. Anak-anak bersembunyi mendengar pekikan langit yang menggelegar. Dengan cepat pekikan itu berubah menjadi tetesan lembut dan menimpali wajah-wajah kesepian di muka bumi. Pohon-pohon menundukkan daunnya sebagai syukur kepada Sang Pencipta. Anak-anak yang tadi bersembunyi, mengendap-endap untuk bisa menyapa air mata langit yang menyejukkan hati.
Sementara diujung sana, tepat di sudut barat bersebelahan dengan dinding mihrab Masjid Al Hasanatain, seorang pemilik tubuh mungil dan hidung yang mancung, berumur sekitar sepuluh tahun hanya bisa memandangi dari kejauhan keadaan alam. Kedua bibir ditutup rapat, matanya menyorot jauh ke arah matahari terbit. Tatapan itu terlihat kosong. Tapi dari hatinya sangat jelas ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Apa?
***
"Sabil...? Sabila... Dimana, Nak?" Terdengar suara teduh seorang ibu berumur sekitar empat puluh lima tahun.
"Sabil...? Sabila... Dimana, Nak?" Terdengar suara teduh seorang ibu berumur sekitar empat puluh lima tahun.
"Ya, Bu... Sabila di kamar."
Sekejap saja Nyonya Syahidah langsung memasuki kamar putri kecilnya, Sabila.
Sekejap saja Nyonya Syahidah langsung memasuki kamar putri kecilnya, Sabila.
Nyonya Syahidah dan Sabila adalah harta karun bagi Tuan Khaidir. Keluarga terpandang yang memiliki kemewahan. Masyarakat sekitar menyukai mereka. Sebab, selain memiliki hati dermawan, mereka juga bermasyarakat dan tidak pernah membeda-bedakan dengan siapapun. Namun, dua tahun terakhir kebahagiaan itu luntur. Tak lagi menyisakan warna ceria sedikitpun. Kilauan yang dulu menundukkan pandangan, secepat kilat telah membelalakkan mata-mata kedengkian. Wajah-wajah yang menaruh hormat, mulai mengatur taktik untuk menggulingkan tahta Tuan Khaidir. Tuhan pun seolah mengizinkan. Hitungan satu jam saja, semua kemewahan di tarik oleh penciptanya. Tuan Kaidir pun menemui Sang Pencipta dalam keadaan bersujud di mushola kecil dalam sebuah bangunan perindustrian miliknya.
"Ibu, kenapa kita tidak pindah saja dari lingkungan ini?" Lirih suara Sabila hingga membuncah sukma Ibunda. Inilah Nestapa yang harus ditahan sejak kemewahan tak lagi ada. Setiap hari menahan kerinduan atas kepergian ayahanda, Tuan Khaidir.
"Mengapa Sabila ingin meninggalkan kelahiran kita? Sabila ingin meninggalkan ayah?" Nyonya Syahidah bertanya polos, berpura-pura tidak tahu. Padahal Ia sangat memahami kondisi putrinya saat ini. Menjadi anak yang menyukai kesunyian dan selalu menanti turunnya hujan. Anak yang malang.
"Maafkan Sabila, Bu. Tapi teman-teman disini tidak ada lagi yang mau berteman. Mereka mengatakan Sabil pembawa sial. Karena Sabil... ayah meninggal. Karena Sabil... usaha ayah dan ibu terbakar. Andai Sabil mendengarkan nasehat Ibu... tidak nakal, tidak menyembunyikan kunci ruang sholat dan tidak bermain-main api di ruang tengah. Pasti ayah masih disamping kita sekarang." Sebuah pengakuan gadis kecul dalam deraian air mata tak bersuara.
"Jangan bersedih, Nak... Masih ada Tuhan yang menemani kita. Kelak, empat sampai enam belas tahun lagi, kamu akan memahami semua ini. Doakanlah agar ayahmu ditempatkan bersama orang-orang yang mulia. Dan kita berdua diberikan kekuatan untuk menghadapi semua ujian." Dipeluknya dan dikuatkannya anak yatim yang sedari tadi menahan pilu. Sabila merindukan masa-masa indah dulu.
**
Lima belas tahun berlalu.
Lima belas tahun berlalu.
Langit mulai meredupkan senyumannya. Panorama jingga mulai melintasi cakrawala. Burung-burungpun beriringan terbang untuk kembali menyumpai sarang mereka. Pertanda senja telah tiba.
"Sabila!" Terdengar suara yang tiba-tiba menyentakkan hati seorang gadis yang kini sudah tumbuh dewasa. Dirinya berdiri hikmat sedang menikmati panorama alam di bibir pantai.
"Umm, apakabar?" Sosok wajah teduh seusianya menyapa dengan hangat.
"Alhamdulillah..." Sabila mengingat-ingat siapa gerangan yang telah menyapanya. Sosok yang tidak asing. Ia seperti mengenal laki-laki di hadapannya sekarang.
"Aku teman masa kecilmu dulu." Sosok misterius yang seolah dapat menebak pikiran Sabila.
"Hakam, namaku Hakam. Kita pernah berpijak di satu tanah yang sama lima belas tahun lalu. Aku sering memerhatikanmu. Tapi karena orang tuaku yang selalu berpindah tugas, melihatmu dari kejauhan rasanya sudah cukup." Hakam menjelaskan sambil tersenyum mengingat-ingat kenangan masa lalu.
"Hakam, namaku Hakam. Kita pernah berpijak di satu tanah yang sama lima belas tahun lalu. Aku sering memerhatikanmu. Tapi karena orang tuaku yang selalu berpindah tugas, melihatmu dari kejauhan rasanya sudah cukup." Hakam menjelaskan sambil tersenyum mengingat-ingat kenangan masa lalu.
"Lalu?" Sabila menimpali singkat. Tapi garis wajahnya menampakkan kebahgiaan dan haru.
"Selama ini aku menyusuri kota demi kota, mengikuti tugas yang mengemban ayahku. Disetiap lokasi yang kami singgahi, Aku mencoba untuk menemukan teman yang bisa saling berbagi. Tapi sangat sulit menyesuaikan, karena durasi waktu maksimal 2 bulan saja. Kemudian harus berpindah lagi sesuai perintah kerja, Ayah."
Hakam terus bercerita. Sementara Sabila semakin tak mengerti.
Hakam terus bercerita. Sementara Sabila semakin tak mengerti.
"Sabila, maafkan aku jika harus jujur di hari ini. Aku tak ingin kehilangan kesempatan lagi. Pertemuan ini seperti jawaban atas apa yang selama ini kucari. Semoga hatimu berkenan mengingat dan menerimaku sebagai teman sejati. Tidak hanya sekarang, tapi sampai nanti. Sampai Tuhan meminta kita untuk menemuinya bersama." Hakam menjelaskan dengan ketulusan yang terpancar dari gerak tubuhnya.
Sabila terus menatap tajam sosok yang dihadapannya. Kilauan matanya dengan cepat menembus kenangan lama bersama sang ibu, Nyonya Zainab. "Mungkinkah ini jawaban atas kesedihan sejak 12 tahun silam? Ada yang lebih menderita karena tak memiliki teman sama sekali. Jangankan untuk bermain, teman-teman yang memusuhipun tidak punya. Alangkah beruntungnya diriku meski dikelilingi dengan kesepian, tapi masih ada teman-teman yg peduli, meski kepeduliannya didapatkan dengan ikhlas menerima olok-olok an. Maafkan Sabila, Bu. Telah meminta untuk meninggalkan tanah kelahiran kita sebab tak memahami apa yang lebih menyakitkan di luar sana". Sabila berkedip, air matanya jatuh menyadari kekhilafan yang ia lakukan.
Senja telah hilang berganti sinar rembulan nun anggun. Sebuah anggukan dari Sabila telah menjawab penantian panjang Hakam. Mereka saling tersenyum disaksikan galaxi langit yang mulai mengintip.
To be continued ....
To be continued ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)