Sabtu, 30 September 2017

Janji yang Tergenggam

Setiap kali diberi kesempatan berdiri dan berkumpul bersama orang-orang hebat serta berilmu. Aku merasa janji yang sedang tergenggam ini akan segera kulepas pada pemilik hati teramat kusayangi. 

Dulu sebelum berlayar ke taman impian, Aku sering dibekali kisah-kisah teladan yang diceritakan oleh ibuku. Tentang perjuangan Nabi dan Rasul bersama keluarga serta para sahabatnya. Sesekali beliau juga bercerita tentang doa-doa yang selalu dipanjatkan seorang Ibu kepada anak. 

Aku hanya diam, perlahan menutup mata. Tidur dengan cepat. Tapi, tetap saja cerita dan doa itu beliau lanjutkan. Sepertinya ia tau anaknya sedang berpura-pura waktu itu.  Seorang ibu memang tidak bisa dibohongi. Kasih sayangnya terlalu cerdas untuk diakali. #hihii

Suatu hari aku pernah benar-benar ketiduran. Benar-benar tak sadarkan diri karena berkhayal tingkat tinggi mendengar kisah kesalehan seorang pemuda tampan tak tertandingi.

Esok pagi, setelah sholat shubuh. Aku coba untuk mengingat lagi sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. "Apa yang beda, ya?" pikirku. 

Kulirik wajah cantik yang mulai menua. Semakin dipandang garis-garis penuaannya semakin menghilang. Tersisihkan oleh senyuman tulusnya. Kubayangkan betapa cantik pemilik wajah itu dimasa muda. "Ibuku memang cantik!"

Di dalam hati aku bertanya lagi,  "Apa yang beda ya pagi ini?" disekelilingku tetap sama seperti kemarin. Hanya beda cuaca saja. Kemarin hujan. Sekarang cerah. "Mungkinkah kejanggalan ini hanya perasaan saja?" leraiku sendiri. 

Biasalah aku kecil dulu punya daya imaji diluar ekspektasi anak-anak lain. Apalagi anak masa kini. #hahaa

Kembali kupandang wajah paling cantik sedunia itu. Ia sudah selesai menghidangkan masakan penuh cintanya diatas meja bundar (bukan konferensi meja bundar, lho) berdiameter lebih kurang 110 cm dan tinggi 75 cm. Meja itu setidaknya cukup untuk enam orang. Aku, ibu, ayah, abang, kakak dan nenek. Semua hidangan tertata dengan apik layaknya menu yang terhidang di restoran mahal. Ada Teri lado mudo plus jariang batokok (jengki-jengkol), menu favoritku  #hahaa(2)

Ia berhasil menyulap hal-hal sederhana menjadi mewah. Termasuk dalam masakan. Soal rasa jangan ditanya. Dikumpulkan ribuan koki handal diseluruh penjuru negeri ini pun, kurasa belum tentu senikmat masakan ibuku. Ibuku tetap nomor satu!


***

Sekitar pukul tujuh lewat tiga belas menit, seragam kebanggaan segera dikenakan. Tas berisi perkakas dan perkikis kebutuhan selama dinas juga sudah dimasukan. Ibuku berangkat. Menjemput rezeki yang sudah Allah janjikan. "Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (Surah At-Taubah, ayat 105)

Tadi malam sebelum keblasan tidur, aku juga masih ingat, ibu sempat bercerita lebih kurang dua setengah bulan lagi padi akan menguning. Aku pun berdoa agar panen kali ini berhasil. Sebab sudah tiga tahun berturut-turut, sawah-sawah para petani dikuasai tikus-tikus tidak bertangungjawab. Pergi pagi pulang petang hanya menyemai keletihan. Namun, wajah ceria berbalut semangat harus tetap mereka pelihara, demi masa depan anak cucu di rumah.

Hebatnya lagi ibuku selalu menanamkan keyakinan bahwa Allah pasti membalas semua jerih payah yang sudah diselesaikan. Dan ibuku juga pernah mengatakan, "Orang yang bekerja sampai dirinya merasa lelah, Allah berikan hadiah sebuah pengampunan dosa." Dan ternyata ibu benar. Aku pernah mendapati hadits yang artinya,Dari Ibnu Abbas ra berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut." (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath VII/ 289).


***

Aku berdiri memandangi. Kuperhatikan langkah kakinya mantap tidak ada keraguan sedikitpun menyusuri pematang sawah yang sempit, becek dan berlumpur itu.  


Perlahan bulir bening telah menganak di sudut kelopak mata. Satu persatu menetes membasahi kedua pipi. Terdiam sejenak diujung dagu. Akhirnya jatuh membasahi tanah tempatku berpijak. Wusshh... angin berhembus pelan, kurasakan angin itu menggerakkan beberapa helai rambutku lembut.  Disaat itu terucap sebuah janji. Janji yang hingga kini masih tergenggam erat. Entah kapan akan kupenuhi ....
 
Ibu kembali. Kuhapus bulir-bulir kelemahan yang membasahi pipi tadi. "Ada yang lupa?" tanyaku pelan. 

"Tolong bawakan telekung, Nak." 
Aku bergegas memenuhi. Kuberikan dengan tunduk. 

Hal-hal kecil seperti ini, selalu kujadikan sebagai nasihat.  Seberat apapun pekerjaan yang dilakukan, sholat jangan tinggalkan. Sejauh apapun melangkah, jangan pernah melupakan Allah. 

"Jangan main jauh-jauh. Sebelum maghrib sudah di rumah." Pesan ibu sebelum berangkat lagi. 

Aku mengangguk menuruti perintah. Hari ini memang tidak ingin kemana-mana. Aku hanya ingin menuntaskan kebiasaan manjat pohon bersama teman-teman di halaman rumah saja. #hahaa(3)

***

Tidak terasa semakin hari tubuhku semakin tumbuh. Umurku juga bertambah. Bahkan berat badan pun mengikut, imbang. "Aku sudah dewasa."

Berbekal banyak kisah teladan, nasihat serta amanah untuk melaksanakan kewajiban sholat fardhu lima waktu dalam sehari, aku mencoba memenuhi janji yang telah terucap waktu itu. Meski belum tahu kapan terpenuhi. Namun, setiap kali diberi kesempatan berdiri dan berkumpul bersama orang-orang hebat serta berilmu. Aku merasa janji yang sedang tergenggam ini akan segera kulepas pada pemilik hati teramat kusayangi. Meskipun kusadari ini akan sama sulitnya bak memunguti daun-daun yang jatuh tersapu hilang kedalam jurang. 

Semoga aku menjadi anak pemeluk janji sejati dan Allah ridho dengan janji yang masih kugenggam hingga kini. "(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran ayat 76).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)