Rabu, 15 November 2017

Perjalanan Waktu

Pernah mendengar kisah cinta yang harus berakhir karena tidak mendapat restu? Tentu pernah, bahkan banyak sekali. 

Seperti kita tahu, semua mempunyai alasan. Kalaupun  Bielalang sampaikan satu persatu, hanya akan membuang kata-tak berguna. Sebab, dunia sekarang sudah terlalu canggih. Semua orang menjadi hebat. Dengan satu klik pada kotak ajaib 'gedget', mereka dapat menembus ruang dan waktu. Apalagi jika Bielalang hanya menjelaskan tentang makna dan pengertian cinta. Ah, sudahlah... Sahabat Bielalang sudah tahu lebih dulu. 

Sahabat Bielalang yang bersedia mendengar kisah ini, duduklah bersamaku barang sebentar. Harus rilek dan santai. Jauhkan pikiran menggurui dan lebih pandai. Karena cerita (drable) ini hanya delusi yang tiba-tiba menyerang hati dan pikiran pada sunyinya malam. Masukan dan saran Bielalang tunggu di kolom komentarπŸ˜‰


Saat itu seorang wanita meneteskan air matanya tidak lama setelah mengirim pesan, 'Kita akhiri hari ini. Jangan lagi ber-angan untuk bersama. Kuharap ikhlas akan menguatkan kita.'

Diwaktu bersamaan, seorang laki-laki semampai berwajah oval di negeri seberang terkejut, tubuhnya terjatuh saat membaca pesan pujaan hati "Mengapa...?" kudengar suaranya bergetar bertanya pilu seorang diri.

Ditekannya nomor si pengirim pesan. Tuutt... tuutt... "Angkatlah,  Sabil," mulut laki-laki itu seperti tak bisa berhenti, harap cemas menunggu.

Puluhan kali mencoba tak kunjung ada jawaban. Ia membalas pesan yang diterima, 'Mengapa secara tiba-tiba mengirim pesan seperti ini? Jelaskan padaku, Sabila. Angkatlah teleponku...'

Aku menyaksikan kesedihannya. Ia terduduk- menunduk. Jelas terlihat betapa lemah dan rapuh hatinya saat mendapati pesan mengakhiri ikatan yang sudah lama dipertahankan.

"Dasar wanita kejam!" aku menggerutu dan mengutuk diri sendiri karena menyaksikan namun tak bisa membantu.

***
'Maaf, Ibrahim... Aku pilih orang tuaku.'
Wanita bernama Sabila membalas singkat pesan yang diterima dari laki-laki seberang.

Disaat bersamaan, aku juga menyaksikan luka nestapa dalam hatinya. Aku bingung hendak berpihak kepada siapa. Keduanya saling mencinta. Namun, ... "Apa yang harus kulakukan? Mengapa aku bisa berada ditempat ini? Tarik kembali diriku pada cahaya yang tadi menyala, Tuhan... Aku tak mau disini," sambil terisak diriku memohon agar dikeluarkan dari pemandangan kisah cinta sepasang kekasih yang tidak ingin kulihat sama sekali.

Cahaya yang kupinta tak kunjung hadir. Semua usaha untuk kembali sia-sia. Diriku benar-benar terperangkap di tempat antah berantah. Aku mencoba untuk lebih tenang. "Pasti ada alasan mengapa diriku yang dipilih menyaksikan kisah ini..."

Dengan hati-hati kudekati wanita yang telah mengirimkan pesan kepada laki-laki bernama Ibrahim itu. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menemaninya disitu. Aku baru menyadari bahwa tubuhku telah terseret ke dalam dimensi waktu. Ini adalah perjalanan melihat masa lalu.

Disaat bersamaan diriku memerhatikan Ibrahim. kupandangi lamat-lamat. Tubuhku menjadi panas dingin. Tidak salah, ia adalah sosok yang kukenali. Sepuluh tahun lalu kembali pada pemilikNya dengan cara bunuh diri. Adapun sosok wanita yang sekarang kutemani tidak lain adalah diriku sendiri.

Rasa bersalah telah membawaku melakukan perjalanan waktu-mengubur kisah dalam qalbu.

***




Rabu, 25 Oktober 2017

Pencuri Masa Depan

Cerita singkat Farah dan Fajri


Disebuah taman, duduk dua sahabat bernama Fajri dan Farah. Mereka seumuran. Farah mengenakan jilbab abu-abu sementara Fajri mengenakan jilbab merah jambu. Sekali dalam seminggu mereka saling bertemu. Meski keduanya sibuk dengan karir masing-masing, namun tali silaturrahim tetap dipelihara. Prinsip persahabatan mereka adalah, 'Selagi masih ada kesempatan bersua, lakukan!'

Hari ini Fajri menceritakan perbuatannya saat berkumpul bersama para Emak-emak.

Fajri: "Ra, kamu tau apa yang aku lakukan ketika berada diantara Emak-emak tempatku bekerja?"

Farah: "Melakukan apa?"

Fajri: "Aku mencuri."

Farah: "Maksud?"

Fajri: "Aku mencuri MASA DEPAN!"

Farah: "Kerren! Fajri si Pencuri Masa Depan."

Fajri: 😍😊😊

Tetiba angin bertiup kencang, mengibas-ngibaskan ujung jilbab mereka. Keduanya tertawa sambil menikmati keindahan taman pusat kota.

-SELESAI-



Minggu, 22 Oktober 2017

Hujan Kecil-kecil


Pagi ini langit bermuram durja
Tidak lama terdengar gluduk dimana-mana
Aku bingung mencari  dari mana sumbernya
Kulihat langit luas membentang diatas kepala
Angin berhembus kencang
Menyapu daun-daun kering di pohon cemara

Tiba-tiba, satu persatu air jatuh
Tepat mengenai pelipis mata
Semakin lama semakin banyak
Tanah kuberpijak terasa basah
Tubuhku pun telah kuyup 

"Waah, hujannya cantik!" seruku.
Kecil-kecil tapi deras
Pagiku menjadi berwarna
Aku suka!


Batam, 23.10.2017

Kasyf Cinta  


Cinta bukan tentang jauh atau dekat
Cinta bukan tentang bahagia atau sedih
Cinta juga bukan soal memberi atau menerima
Dan cinta juga bukan meluangkan waktu sepanjang hari
Untuk saling bertemu atau mengadu rindu.


Cinta adalah Kepercayaan
Saling melengkapi satu sama lain
Menutup kekurangan
Mengisi kekosongan
Dan menyempurnakan keimanan.


Bila sudah saling memahaminya
Yakinlah cinta kan bertahan
Bersinar sepanjang masa
Abadi hingga akhir zaman.


Batam, 14/10/2017


Note:

Dalam ilmu Ma'rifat, Kasyf atau kasaf adalah sumber terbesar kedua setelah wahyu. Kasyf merupakan pengetahuan langsung yang membuka tabir atau dinding misteri ilahi. Ulama juga sepakat bahwa orang kasyf adalah orang yang memiliki kemampuan gaib sebagai rahmad dari Allah SWT. Menurut Imam Al Ghazali Kasyf adalah cahaya yang dihujamkan kedalam hati seorang hamba, sehingga hati dapat melihat dan merasakan sesuatu dengan 'ain al-yaqin. 


... Sajak berjudul Kasyf Cinta yang saya goreskan disini adalah sebuah pandangan akan cinta. Bagaimana seharusnya memaknai cinta. Pandangan inipun saya dapat setelah melalui, merasakan, melihat dan mengamati lingkungan bersama keluarga, sahabat dan orang-orang yang berbicara tentang cinta. 


Bila pandangan ini salah, mohon tidak sungkan meninggalkan pesan. Beri arahan dan masukan yang membangun, agar saya bisa memahami lebih baik dan memaknainya lebih dalam.  


Salam Literasi^^
(Fajri Mj Rahmi)


Sabtu, 30 September 2017

Janji yang Tergenggam

Setiap kali diberi kesempatan berdiri dan berkumpul bersama orang-orang hebat serta berilmu. Aku merasa janji yang sedang tergenggam ini akan segera kulepas pada pemilik hati teramat kusayangi. 

Dulu sebelum berlayar ke taman impian, Aku sering dibekali kisah-kisah teladan yang diceritakan oleh ibuku. Tentang perjuangan Nabi dan Rasul bersama keluarga serta para sahabatnya. Sesekali beliau juga bercerita tentang doa-doa yang selalu dipanjatkan seorang Ibu kepada anak. 

Aku hanya diam, perlahan menutup mata. Tidur dengan cepat. Tapi, tetap saja cerita dan doa itu beliau lanjutkan. Sepertinya ia tau anaknya sedang berpura-pura waktu itu.  Seorang ibu memang tidak bisa dibohongi. Kasih sayangnya terlalu cerdas untuk diakali. #hihii

Suatu hari aku pernah benar-benar ketiduran. Benar-benar tak sadarkan diri karena berkhayal tingkat tinggi mendengar kisah kesalehan seorang pemuda tampan tak tertandingi.

Esok pagi, setelah sholat shubuh. Aku coba untuk mengingat lagi sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. "Apa yang beda, ya?" pikirku. 

Kulirik wajah cantik yang mulai menua. Semakin dipandang garis-garis penuaannya semakin menghilang. Tersisihkan oleh senyuman tulusnya. Kubayangkan betapa cantik pemilik wajah itu dimasa muda. "Ibuku memang cantik!"

Di dalam hati aku bertanya lagi,  "Apa yang beda ya pagi ini?" disekelilingku tetap sama seperti kemarin. Hanya beda cuaca saja. Kemarin hujan. Sekarang cerah. "Mungkinkah kejanggalan ini hanya perasaan saja?" leraiku sendiri. 

Biasalah aku kecil dulu punya daya imaji diluar ekspektasi anak-anak lain. Apalagi anak masa kini. #hahaa

Kembali kupandang wajah paling cantik sedunia itu. Ia sudah selesai menghidangkan masakan penuh cintanya diatas meja bundar (bukan konferensi meja bundar, lho) berdiameter lebih kurang 110 cm dan tinggi 75 cm. Meja itu setidaknya cukup untuk enam orang. Aku, ibu, ayah, abang, kakak dan nenek. Semua hidangan tertata dengan apik layaknya menu yang terhidang di restoran mahal. Ada Teri lado mudo plus jariang batokok (jengki-jengkol), menu favoritku  #hahaa(2)

Ia berhasil menyulap hal-hal sederhana menjadi mewah. Termasuk dalam masakan. Soal rasa jangan ditanya. Dikumpulkan ribuan koki handal diseluruh penjuru negeri ini pun, kurasa belum tentu senikmat masakan ibuku. Ibuku tetap nomor satu!


***

Sekitar pukul tujuh lewat tiga belas menit, seragam kebanggaan segera dikenakan. Tas berisi perkakas dan perkikis kebutuhan selama dinas juga sudah dimasukan. Ibuku berangkat. Menjemput rezeki yang sudah Allah janjikan. "Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (Surah At-Taubah, ayat 105)

Tadi malam sebelum keblasan tidur, aku juga masih ingat, ibu sempat bercerita lebih kurang dua setengah bulan lagi padi akan menguning. Aku pun berdoa agar panen kali ini berhasil. Sebab sudah tiga tahun berturut-turut, sawah-sawah para petani dikuasai tikus-tikus tidak bertangungjawab. Pergi pagi pulang petang hanya menyemai keletihan. Namun, wajah ceria berbalut semangat harus tetap mereka pelihara, demi masa depan anak cucu di rumah.

Hebatnya lagi ibuku selalu menanamkan keyakinan bahwa Allah pasti membalas semua jerih payah yang sudah diselesaikan. Dan ibuku juga pernah mengatakan, "Orang yang bekerja sampai dirinya merasa lelah, Allah berikan hadiah sebuah pengampunan dosa." Dan ternyata ibu benar. Aku pernah mendapati hadits yang artinya,Dari Ibnu Abbas ra berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut." (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath VII/ 289).


***

Aku berdiri memandangi. Kuperhatikan langkah kakinya mantap tidak ada keraguan sedikitpun menyusuri pematang sawah yang sempit, becek dan berlumpur itu.  


Perlahan bulir bening telah menganak di sudut kelopak mata. Satu persatu menetes membasahi kedua pipi. Terdiam sejenak diujung dagu. Akhirnya jatuh membasahi tanah tempatku berpijak. Wusshh... angin berhembus pelan, kurasakan angin itu menggerakkan beberapa helai rambutku lembut.  Disaat itu terucap sebuah janji. Janji yang hingga kini masih tergenggam erat. Entah kapan akan kupenuhi ....
 
Ibu kembali. Kuhapus bulir-bulir kelemahan yang membasahi pipi tadi. "Ada yang lupa?" tanyaku pelan. 

"Tolong bawakan telekung, Nak." 
Aku bergegas memenuhi. Kuberikan dengan tunduk. 

Hal-hal kecil seperti ini, selalu kujadikan sebagai nasihat.  Seberat apapun pekerjaan yang dilakukan, sholat jangan tinggalkan. Sejauh apapun melangkah, jangan pernah melupakan Allah. 

"Jangan main jauh-jauh. Sebelum maghrib sudah di rumah." Pesan ibu sebelum berangkat lagi. 

Aku mengangguk menuruti perintah. Hari ini memang tidak ingin kemana-mana. Aku hanya ingin menuntaskan kebiasaan manjat pohon bersama teman-teman di halaman rumah saja. #hahaa(3)

***

Tidak terasa semakin hari tubuhku semakin tumbuh. Umurku juga bertambah. Bahkan berat badan pun mengikut, imbang. "Aku sudah dewasa."

Berbekal banyak kisah teladan, nasihat serta amanah untuk melaksanakan kewajiban sholat fardhu lima waktu dalam sehari, aku mencoba memenuhi janji yang telah terucap waktu itu. Meski belum tahu kapan terpenuhi. Namun, setiap kali diberi kesempatan berdiri dan berkumpul bersama orang-orang hebat serta berilmu. Aku merasa janji yang sedang tergenggam ini akan segera kulepas pada pemilik hati teramat kusayangi. Meskipun kusadari ini akan sama sulitnya bak memunguti daun-daun yang jatuh tersapu hilang kedalam jurang. 

Semoga aku menjadi anak pemeluk janji sejati dan Allah ridho dengan janji yang masih kugenggam hingga kini. "(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran ayat 76).




Selasa, 12 September 2017

Teka Teki Hakam dan Sabil

Akhirnya Kau Kutemukan (Episode 1)


"Aku seperti semakin dekat dengan kematian. Dan aku masih belum menemukan apa yang di cari. Jika kau tanya apa itu? Entahlah, akupun tak tahu. Yang pasti dalam setiap kesunyian, hanya ada angan-angan yang sulit untuk ku rangkai dengan untaian kata."

Langit semakin gelap, awan hitam dengan cepat membungkus cakrawala. Anak-anak bersembunyi mendengar pekikan langit yang menggelegar. Dengan cepat pekikan itu berubah menjadi tetesan lembut dan menimpali wajah-wajah kesepian di muka bumi. Pohon-pohon menundukkan daunnya sebagai syukur kepada Sang Pencipta. Anak-anak yang tadi bersembunyi, mengendap-endap untuk bisa menyapa air mata langit yang menyejukkan hati.

Sementara diujung sana, tepat di sudut barat bersebelahan dengan dinding mihrab Masjid Al Hasanatain, seorang pemilik tubuh mungil dan hidung yang mancung, berumur sekitar sepuluh tahun hanya bisa memandangi dari kejauhan keadaan alam. Kedua bibir ditutup rapat, matanya menyorot jauh ke arah matahari terbit. Tatapan itu terlihat kosong. Tapi dari hatinya sangat jelas ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Apa?
***

"Sabil...? Sabila... Dimana, Nak?" Terdengar suara teduh seorang ibu berumur sekitar empat puluh lima tahun.

"Ya, Bu... Sabila di kamar."

Sekejap saja Nyonya Syahidah langsung memasuki kamar putri kecilnya, Sabila.

Nyonya Syahidah dan Sabila adalah harta karun bagi Tuan Khaidir. Keluarga terpandang yang memiliki kemewahan. Masyarakat sekitar menyukai mereka. Sebab, selain memiliki hati dermawan, mereka juga bermasyarakat dan tidak pernah membeda-bedakan dengan siapapun. Namun, dua tahun terakhir kebahagiaan itu luntur. Tak lagi menyisakan warna ceria sedikitpun. Kilauan yang dulu menundukkan pandangan, secepat kilat telah membelalakkan mata-mata kedengkian. Wajah-wajah yang menaruh hormat, mulai mengatur taktik untuk menggulingkan tahta Tuan Khaidir. Tuhan pun seolah mengizinkan. Hitungan satu jam saja, semua kemewahan di tarik oleh penciptanya. Tuan Kaidir pun menemui Sang Pencipta dalam keadaan bersujud di mushola kecil dalam sebuah bangunan perindustrian miliknya.

"Ibu, kenapa kita tidak pindah saja dari lingkungan ini?" Lirih suara Sabila hingga membuncah sukma Ibunda. Inilah Nestapa yang harus ditahan sejak kemewahan tak lagi ada. Setiap hari menahan kerinduan atas kepergian ayahanda, Tuan Khaidir.

"Mengapa Sabila ingin meninggalkan kelahiran kita? Sabila ingin meninggalkan ayah?" Nyonya Syahidah bertanya polos, berpura-pura tidak tahu. Padahal Ia sangat memahami kondisi putrinya saat ini. Menjadi anak yang menyukai kesunyian dan selalu menanti turunnya hujan. Anak yang malang.

"Maafkan Sabila, Bu. Tapi teman-teman disini tidak ada lagi yang mau berteman. Mereka mengatakan Sabil pembawa sial. Karena Sabil... ayah meninggal. Karena Sabil... usaha ayah dan ibu terbakar. Andai Sabil mendengarkan nasehat Ibu... tidak nakal, tidak menyembunyikan kunci ruang sholat dan tidak bermain-main api di ruang tengah. Pasti ayah masih disamping kita sekarang." Sebuah pengakuan gadis kecul dalam deraian air mata tak bersuara.

"Jangan bersedih, Nak... Masih ada Tuhan yang menemani kita. Kelak, empat sampai enam belas tahun lagi, kamu akan memahami semua ini. Doakanlah agar ayahmu ditempatkan bersama orang-orang yang mulia. Dan kita berdua diberikan kekuatan untuk menghadapi semua ujian." Dipeluknya dan dikuatkannya anak yatim yang sedari tadi menahan pilu. Sabila merindukan masa-masa indah dulu.
**

Lima belas tahun berlalu.
Langit mulai meredupkan senyumannya. Panorama jingga mulai melintasi cakrawala. Burung-burungpun beriringan terbang untuk kembali menyumpai sarang mereka. Pertanda senja telah tiba.

"Sabila!" Terdengar suara yang tiba-tiba menyentakkan hati seorang gadis yang kini sudah tumbuh dewasa. Dirinya berdiri hikmat sedang menikmati panorama alam di bibir pantai.

"Umm, apakabar?" Sosok wajah teduh seusianya menyapa dengan hangat.

"Alhamdulillah..." Sabila mengingat-ingat siapa gerangan yang telah menyapanya. Sosok yang tidak asing. Ia seperti mengenal laki-laki di hadapannya sekarang.

"Aku teman masa kecilmu dulu." Sosok misterius yang seolah dapat menebak pikiran Sabila.

"Hakam, namaku Hakam. Kita pernah berpijak di satu tanah yang sama lima belas tahun lalu. Aku sering memerhatikanmu. Tapi karena orang tuaku yang selalu berpindah tugas, melihatmu dari kejauhan rasanya sudah cukup." Hakam menjelaskan sambil tersenyum mengingat-ingat kenangan masa lalu.

"Lalu?" Sabila menimpali singkat. Tapi garis wajahnya menampakkan kebahgiaan dan haru.
"Selama ini aku menyusuri kota demi kota, mengikuti tugas yang mengemban ayahku. Disetiap lokasi yang kami singgahi, Aku mencoba untuk menemukan teman yang bisa saling berbagi. Tapi sangat sulit menyesuaikan, karena durasi waktu maksimal 2 bulan saja. Kemudian harus berpindah lagi sesuai perintah kerja, Ayah."

 Hakam terus bercerita. Sementara Sabila semakin tak mengerti.

"Sabila, maafkan aku jika harus jujur di hari ini. Aku tak ingin kehilangan kesempatan lagi. Pertemuan ini seperti jawaban atas apa yang selama ini kucari. Semoga hatimu berkenan mengingat dan menerimaku sebagai teman sejati. Tidak hanya sekarang, tapi sampai nanti. Sampai Tuhan meminta kita untuk menemuinya bersama." Hakam menjelaskan dengan ketulusan yang terpancar dari gerak tubuhnya.

Sabila terus menatap tajam sosok yang dihadapannya. Kilauan matanya dengan cepat menembus kenangan lama bersama sang ibu, Nyonya Zainab. "Mungkinkah ini jawaban atas kesedihan sejak 12 tahun silam? Ada yang lebih menderita karena tak memiliki teman sama sekali. Jangankan untuk bermain, teman-teman yang memusuhipun tidak punya. Alangkah beruntungnya diriku meski dikelilingi dengan kesepian, tapi masih ada teman-teman yg peduli, meski kepeduliannya didapatkan dengan ikhlas menerima olok-olok an. Maafkan Sabila, Bu. Telah meminta untuk meninggalkan tanah kelahiran kita sebab tak memahami apa yang lebih menyakitkan di luar sana". Sabila berkedip, air matanya jatuh menyadari kekhilafan yang ia lakukan.

Senja telah hilang berganti sinar rembulan nun anggun. Sebuah anggukan dari Sabila telah menjawab penantian panjang Hakam. Mereka saling tersenyum disaksikan galaxi langit yang mulai mengintip.

To be continued ....

Minggu, 13 Agustus 2017

Kita Akan Bertemu

Picture by. farah Aissya
Suatu hari nanti kau dan aku akan saling bertemu. Menjalani kehidupan baru. mewujudkan angan-angan yang pernah kita lukis di langit biru. Bersabarlah....

Kita hanya perlu berjuang menakhlukkan waktu. Aku disini dan kau tetaplah disitu. Tidak perlu cemburu dan mencemaskan keadaanku. Tetaplah berjuang dengan caramu. Akupun akan berjuang dengan caraku. Hingga waktu merasa lelah dan menyerah dengan sendirinya karena telah membuat kita sama-sama menunggu. Yakinlah, Jodoh tak akan pernah tertukar. Kita akan bertemu.

Harapanku, tetap titipkan doa kepada Allah yang satu. Agar ketika kau dan aku sudah diizinkan bertemu, kita benar-benar sudah siap untuk duduk dan hidup berdampingan seperti pasangan yang ada dibelakangku itu. Tentu, setelah ijab dan qabul diucap dihadapan 2 saksi dan penghulu.^^





Minggu, 28 Mei 2017

Ketetapan


Nak, dengarlah ...
Karena Allah, dirimu diciptakan
Karena Allah, dirimu dinantikan
Karena Allah, dirimu dimuliakan
Karena Allah, dirimu dilahirkan
Karena Allah, dirimu dikembalikan
Dan karena Allah, dirimu kami lepaskan_
Nak,
Terima kasih sudah hadir bersama kami
Terima kasih sudah berdoa dengan kami
Terima kasih sudah menghiasi hari kami
Terima kasih sudah menasehati diri kami
Terima kasih, Nak_
Nak,
Andai waktu adalah hak insani
Akan ku atur sesuka hati
Akan ku putar seorang diri
Akan ku ... Akan ku tangguhkan untukmu
Agar ... Hidupmu dipanjangkan lagi_
Nak,
Namun ini sudah ketetapan Illahi
Semua harus kembali
Meski hanya terbilang 120 hari
Dirimu sudah ada di hati kami
Dirimu bagian peneguh iman kami_
Nak,
Bersama dekapan AllahuRobbi
Kami ikhlaskan kepergianmu
Kami ridhakan perjalananmu
Dan kami relakan semua tentangmu_
Nak,
Tersenyumlah di A'rs nanti
Peluk sayang selalu untukmu dari kami
Bila waktunya tiba
Kita akan bertemu kembali
Dan akan bersama lagi dengan Bapak, Kakak, Etek, Nenek, Kakek, dan semua keluarga yang telah memeluk gerak lincahmu selama dalam rahim, Bundamu_
Batam, 29 Mei 2017 -0:24 wib
***

Kamis, 25 Mei 2017

Tips Menemui Ramadhan

Dalam hitungan jari, kita akan segera berjumpa Ramadhan. Kata Bapak/Ibu guru dulu, “Kalo ingin ketemu dengannya, semua harus bersih. Jangan cuma bersihkan pekarangan rumah atau memperindah bangunan-bangunan suram saja. Tapi bersihkan dan indahkanlah Pribadi kita.”
Caranya?

It's so easy... 3 cara cukup!

(1) Coba dadanya ditekan dulu, apakah jantung masih berdetak normal? Kalo belum, ajak kompromi dan rehat sejenak dulu, Istighfar. Biar besok ibadah puasa benar-benar lancar.

(2) Hatinya di rasa, apakah sudah enteng? Kalo masih belum, bolak-balikkan lagi sampai bekas-bekas nodanya luruh dan hilang, ya.. Kan gak nyaman, mau puasa tapi hatinya masih menyisakan noda. Entar berasa jadi pahit, loh #eh kopi kali yah?

(3)Terus bagian kepala jangan lupa ya, usap lembut (keseluruhan dari wajah sampai bagian kepala belakang). Apakah terasa panas atau kasar?
Kalo panas, dinginkan dulu. Boleh pake es batu. Minta es batunya lebih baik sama orang yang udah buat kepalamu jadi panas seperti itu
Nah, kalo kasar, coba haluskan dengan senyuman. Senyumin aja orang yang diam-diam udah bikin kepalamu berasa jadi kasar gituh. Entar jadi lembut lagi deh! Insya Allah.

Catatan Penting!
Semua ini bisa dan akan sangat mudah diterapkan untuk kita yang hatinya ingin mendapat ketenangan. Dan untuk pribadi yang ingin mencapai kemenangan dalam keridhoan Allah.
**
 
(Selamat Menyambut Bulan Suci Ramadhan, Bapak, Ibu, Kakak-kakak, sahabat dan teman-teman sekalian. Maafkan segala kekhilafan dan keegoan hati yang tanpa sengaja mungkin menyikat habis kepercayaan dan kepedulian kita untuk saling berbagi. Semoga kita masih bisa dipertemukan di Ramadhan berikutnya, yah...)
Taqobbalallah...

Sabtu, 20 Mei 2017

Menuju Kemenangan

Hari ini adalah tantangan yang sangat luar biasa. Hari Yang tidak pernah terduga. Dan ini adalah tantangan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Sahabat Bielalang tau? Farah di amanahkan oleh perusahaan tempat bekerja untuk mengikuti ajang tingkat Indonesia. Bahkan Farah sendiri tidak tahu sebelumnya apa yang akan diperlombakan. Yang pasti ini masih dalam konsep ilmu komunikasi dan pelayanan.

Sayang seribu sayangnya adalah, Farah bukan dari akademik komunikasi. Hiks... Tapi, keyakinan Farah saat ini hanyalah; jika sudah diutus dan dipercayakan, maka tugas selanjutnya adalah memenuhi dan menjaga kepercayaan tersebut. Menang tidak menang bukan beban. Tapi apapun hasilnya tetaplah yang terbaik. Selama Farah telah belajar dan berani mengambil tantangan ini, maka semuanya sudah ada jalan. Jalan untuk menjadi pemenang. Jika tidak menjadi pemenang dalam perlombaan ini. Farah yakin, sudah menjadi pemenang di hadapan Allah dan orang-orang yang sudah dimohonkan doanya.

Keyakinan Farah saat ini; usaha tidak akan mengkhianati hasil. Belajar dan terus belajar. Menghafal, menyimak, menulis dan menerapkan.

Untuk semua Sahabat Bielalang dimanapun berada dan yang tidak sengaja membaca untaian kecil ini, mohon bantu doakan Farah, ya? :-)

Insya Allah jam 13.25 wib, Farah akan terbang menuju Ibukota Jakarta. Disanalah lomba diadakan. Lebih kurang ada lima puluh perusahaan besar yang mengikuti kompetensi ini, termasuk perusahaan tempat Farah bekerja. Semoga nama perusahaan yang Farah wakilkan akan mendapat tempat di kemenangan esok hari.

Oh... Farah lupa.
Kemenangan itu memang Penting. Tapi yang paling terpenting saat ini adalah bagaimana proses menuju pencapaiannya itu yang lebih penting. Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya. "...."
^^

See u....

Rabu, 10 Mei 2017

Mimpi yang Mencekam

Malam telah mengulum garis cakrawala
Panorama yang indah untuk disaksikan
Tiada yang dapat mendustakan
Ketika cahaya jingganya berganti
Menjadi galaxi yang asyik tersenyum
Terus tersenyum dengan hantaran kemilaunya...

Namun berbeda dengan rasa tegang
yang tiba-tiba menyinggahi sekeping hati
Kekayaan malam telah duduk di pundak ini
Ia tak berat, tidak juga ringan
Hanya terkadang membuatku lepas kendali
Karena mimpi besar yang ingin aku dapatkan
Dan amanah yang sedang di emban
Membuatnya harus sangat berhati-hati
Takut bila malam ini berakhir dengan...
Dengan kecemasan yang masih mencekam.

Minggu, 07 Mei 2017

Menjemput Cahaya

Menata senja yang hampir menyapa
Keluh kesah yang ada sirna
Namun bayangmu tetap ada
Mencekam dalam sengatan asa
Menghujam dalam lerai jiwa

Ku kata...
Biarkan luruh bersama angin jingga
Moga esok ku dapati embun penuh cahaya
Karena Agungnya Sang Kuasa
Menjawab doa yang dipinta....

Selasa, 02 Mei 2017

SEGURAT GARIS SUMATERA

Sebuah karya yang lahir dari rasa cinta dan keikhlasan itu rasanya memang beda, yach?
Tau tuh rasanya beda aja. hehehe
Seperti yang satu ini. Alhamdulillah saya dan teman-teman meluncurkan satu karya lagi. Lebih tepatnya dikenal dengan Antologi. Berjudul: SEGURAT GARIS SUMATERA. Kami kemas dengan sangat spesial. Paket komplit.. Plittt... Plittt. Tidak hanya disugukan sajak-sajak indah maupun cerita-cerita singkat yang sangat menawan, tapi kami juga menyajikan beberapa artikel tentang kekayaan Sumatera, loh πŸ˜‹πŸ˜‹

So, Rugi banget kalo sahabat sekalian belum memiliki karya penuh cinta yang satu ini. Sebuah buku yang amat bersahaja dijadikan teman dikala sendirian. #eh... Jangan-jangan yang nulis pada galau semua kali yah? Kok dikala sendirian sih? #kahk!

Aslinya sih enggak kok, para penulis di buku ini gak jomblo loh. Kami semua punya pasangan. Pasangannya buku-buku juga sih. #weeekkk hahaa

Baiklah, tanpa berlama-lama dan bertele-tele. Langsung saja inih, saya hadirkan sekilas penampakan dari Buku Ketjeh SEGURAT GARIS SUMATERA. Cekidoottt...!!!

Cover Segurat Garis Sumatera
Waah... Dari covernya saja sudah kerren gitu. Apalagi isinya coba? Wooww... Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata deh! πŸ˜… 
Yukk segera miliki dengan cara kunjungi saya di WA 0853 7506 7893 / facebook: Fajri Mj Rahmi/ Farah Aissya atau email: fajri.mj03@gmail.com. Atau tinggalkan komen dibawah ini ya πŸ™
Sangat ditunggu...

Salam Literasiii!!!

Minggu, 23 April 2017

Embun Pagi 8

Picture by. Farah Aissya
Betapa bangganya menjadi seseorang yang bergelar muslim maupun muslimah. Wajahnya teduh karena rindu dengan Sang Pencipta. Matanya tajam karena tak henti memandangi kebenaran ajaran Qur'an. Sentuhan tangannya memberi kehangatan karena amalan yang ia lakukan diselimuti ketulusan. Langkah kakinya pun tegap, kuat mencekam karena berjalan di dalam keimanan. Sungguh damainya menjadi seorang muslim-muslimah sejati. 

Menjadi muslim dan muslimah sejati adalah impian semua hati yang mengakui bahwa Tuhan itu Esa. Tunggal tidak ada duanya. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tentulah tidak ada duanya dibanding dengan siapapun. Pemahaman ini sudah dijelaskan lebih lanjut melalui ayat-ayat mulia di dalam Al-Kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya; Daud AS. (Kitab Zabur), Musa AS. (Kitab Taurat), Isa AS (Kitab Injil). dan Muhammad SAW(Kitab Al-Qur'an). 

Saat ini kita tinggal menerapkan apa yang ada di dalamnya saja. Jangan menyimpang. Dan jangan berpedoman kepada segala sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Apalagi yang sudah di rubah isinya oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab, oleh kepala-kepala yang merasa dirinya paling hebat.

Apabila ada keraguan hendaklah bertanya kepada yang lebih memahami isi kandungan kitab tersebut. Jangan mengikuti sekehendak sanubari yang pada akhirnya menuju kesesatan. Allah jelas-jelas menghadiahkan akal untuk dapat berpikir. Menyelipkan hati untuk memfilter ulang setiap yang dipikirkan. Mengapa tidak membolak-balikkannya? Gunakan sebaik mungkin. Mohonkan pada Tuhan yang satu untuk memberi petunjuk. Petunjuk yang benar-benar lurus. Tidak menyimpang, lagi keliru.

Dan ingat!
Jangan menyombongkan diri. Ingatlah Allah itu maha Kuasa akan segala sesuatu. Rendahkan diri kita ketika meminta. Namun keraskan tekad ketika berdoa.

Semoga kita menjadi insan sholeh-sholehah sesuai keinginan hati nun suci.




Rabu, 19 April 2017

FLASH FICTION - Pertemuan

Allow Sahabat Bielalang!

Pecinta literasi umumnya tidak pernah lepas dari menulis puisi dan cerita-cerita mini, bukan? #eh 
Apa iya?😎😎

Tidak masalah benar atau tidak. Tapi sepertinya banyak yang jawab, "Iya." hihii
 
Di edisi hari ini, izinkan Bielalang mengupas secara tajam mengenai tips kejce dalam menulis Flash Fiction (FF) atau cerita mini yang banyak diminati para newbie literasi. Tips dari Bielalang dalam menyelesaikan cerita mini seperti ini, yang pasti harus ada; Tema, tokoh, latar/lokasi dan konfliknya. Karena jika tidak ada salah satu dari empat tersebut, rasanya belum pas. Hambar. Garing deh pasti. Kemudian ceritanya gak usah muluk-muluk, langsung ke ide pokok yang ingin disampaikan saja, pastikan tidak lari dari amanat yang akan disampaikan. Tapi tidak meringkas, loh! Bedakan. Dah segitu aja, ya #Ggrrr

Kalau sahabat masih penasaran dengan ketentuan menulis flash fiction sesuai kaidah kepenulisan lainnya, Silahkan... Bisa gugling di berbagai link atau URL mana suka, ya 😸😸 Bakal banyak ulasan dan penjelasan yang akan sahabat dapatkan. Biasakan rajin membaca dan menyimak. Ok!

Sok atuh, demi menghemat waktu kita bersama, di bawah ini adalah contoh ff yang Bielalng ikut sertakan  dalam sebuah event tantangan. Mohon arahan dan masukannya setelah di baca, ya...
Soalnya baru belajar juga, sih...😜

Judul: PERTEMUAN
Oleh: Fajri Rahmi .red

Ainun, apakabarmu disana? Lama sudah kita tak saling menyapa. Semoga dirimu selalu sehat. Dalam suasana hati yang baik tentunya, ya? Surat ini sengaja ku kirimkan hanya ingin tahu, sekarang dimana keberadaanmu. Masihkah melayang terbang di udara? Atau telah menetap indah di rumah-rumah megah ditengah peraiaran kota? 

 Ainun, Ada banyak cerita yang ingin ku sampaikan.

 Bila surat ini kau terima, sempatkanlah membalasnya. Meski hanya satu sampai tiga kalimat saja. Ohya, alamatku masih sama. Kampung halaman kelahiran kita. 

Peluk rindu sahabatmu.
Bayyan

Inilah sepucuk surat tanda persahabatan. Sebuah surat yang telah melewati perjalanan panjang. Terombang ambing dilautan lepas, berlayar mengarungi samudera dunia. Hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka. Pertemuan Ainun dan Bayyan. Melalui deburan ombak yang menghembaskan botol berisi sepucuk surat.

"Pertemuan ini rasanya amat sangat suram. Dadaku menjadi sesak, hati kecil mengambang dan jiwa ini tak mampu memelukmu erat. Karena kita bukan lagi mahrom layaknya anak kecil tempo dulu. Kau menjadi pemeluk yang taat Ainun. Tapi aku?" Suara Bayyan bergetar. Tertahan. Tak ada gunanya melanjutkan rasa yang selama ini terpendam.

Anak-anak berkejar-kejaran. Bermain dalam mekarnya pasir pantai, tak pedulikan sengatan matahari yang dapat melepuhkan kulit mereka. Ainun tersenyum. Ia teringat masa-masa kecilnya dahulu. Persis sama dengan kelakuan anak-anak disana. Ainun dan Bayyan. Sahabat seperguruan yang terpisah demi cita-cita.

"Bagaimana kabar keluargamu?" Sepertinya Ainun mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Karena pertemuan ini amat sangat di luar dugaan.

"Ainun, izinkanlah aku memulainya dengan bercerita..." Bayyan penuh harap. Ainun mengangguk.

"Semua tidak seperti dulu. Jujur, hatiku menangis mengingat semua kejadian yang menimpa perkampungan ini. Dua puluh dua tahun lalu, tepat tiga tahun setelah kau meninggalkan tanah ini. Bencana besar terjadi. Ombak menghapus semuanya. Entah mengapa ia hanya menyisakan seorang anak berusia sebelas tahun. Enam tahun kemudian, kala fajar mulai menyingsing, ia bertarung melawan ketakutan di tepian pantai demi melepaskan sebuah surat dengan isi yang sama (merindukan kenangan sahabat lama). Sampai hari ini jumlah surat tersebut mungkin sudah mencapai lima ribu delapan ratus tiga puluh lebih.“ Menghela nafas. Mata yang tadi terlihat sendu perlahan mulai berbinar kembali.

"Ainun, kabar baiknya, aku sangat bahagia dapat bertemu denganmu lagi. Ternyata laut ini tak sejahat yang ku sangkakan. Kau benar, bahwa dimasanya nanti ombak selalu menjadi kawan sejati untuk jiwa yang bersedih hati. Bahkan tidak hanya itu, dengan keelokannya ia menghantarkan suratku kepadamu. Meski menikam rasa puluhan tahun lamanya." Bayyan terlihat lebih baik. Bibirnya menghadiahkan senyum tulus menatap Ainun.

Anak yang memiliki kebiasaan mengirimkan surat melalui gulungan ombak itu adalah Bayyan. Sebuah keadaan dan kenangan teramat pilu ingin ia kabarkan kepada sahabatnya, Ainun.

Angin sayup-sayup menerpa jilbab yang dikenakan, Ainun. Laut menghempaskan ombaknya ke bebatuan pelindung bibir pantai. Tampiasnya menjadikan suasana hening seketika.
 *** 

Semoga bermanfaat, rajin membaca akan menorehkan nilai terbaik.
^^

Senin, 17 April 2017

Rezeki Bukan Hanya Materi

Tadi siang saya dan seorang sahabat sempat berbincang mengenai panorama hati di perantauan. Cerita susah-senang, pahit- manis, dan asam-garamnya hidup di rantau sama-sama kami sudahi dengan saling tertawa saja. Tidak akan ada yang memahami situasi kami pada saat itu. Karena suasana perantauan itu tak semuanya sama. Hakikatnya mereka yang menjalani kehidupan di rantau akan memiliki kisah sendu dan pilu yang berbeda. Pokoknya perantau itu memiliki kekuatan khusus dalam menjalani kehidupan. Anggap saja seperti itu. Setuju tidak setuju. Maaf keun Bielalang, yah? Kali ini sengaja ingin kelihatan ego dulu. #eh

Tak lama setelah tertawa seperti itu, tiba-tiba seorang sahabat dari kontrakan sebelah datang mengangetkan kami. Suaranya terdengar riang lengkap dengan lagu yang ia dendangkan. Entahlah saya kurang tahu, ia menyanyikan lagu apa. Karena hanya terdengar dudududuu-nya saja. Tapi tak masalah, melihat sahabat ceria, saya ikut merasa bahagia. "Lagi apa tuuh? Cieeh yang lagi kaya. Udah gajian ya?" Celetuknya sambil menghampiri kami yang memang dari tadi menikmati cemilan sambil berbincang-bincang. "Heehh... Jangan dekat... Jangan mendekat, cuci tangan dulu sanah!" timpal sahabat yang tepat disamping saya, Bielalang. Ucapan seperti ini hanyalah candaan sesama teman, tujuannya pun adalah menjalin keakraban satu sama lain. Jangan dikira serius, karena setelah itupun, kami semua tertawa lebar dan sahabat yang di suruh cuci tangan pun, boro-boro mau. Weleh mah langsung makan aja. Enggak peduli apakah sudah ditawarkan atau belum. (Saran khusus: Jangan asal menimpali atau menabok kawan seperti kelakuan kami diatas, ya! Sebaiknya sahabat menyesuaikan situasi dan kondisi yang sedang berlangsung. Pastikan orang yang akan ditimpali celetukan seperti tadi memiliki tingkat humor yang tinggi dan kenal satu sama lain. Jika tidak, nanti yang dengar bisa sakit hati. #fiuuh

"Nikmat mana lagi yang hendak kau dustakan, kawan. Sudahlah gajimu besar. Kedudukan di kantormu juga bagus. Sedang aku masih begini-begini saja." Sambil menikmati cemillan beraneka ragam, sahabat yang baru datang ini memuji sahabat yang dari tadi berbincang dengan saya." Alhamdulillah, aku mensyukuri apa yang dikasih, Jenk." Sahabat berbincangpun membalas. *Anggap saja kata "Jenk" sebagai sapaan akrab dalam persahabatan kami ya. πŸ˜‹
↣Ciptakanlah persahabatan itu senyaman mungkin, saling menerima satu sama lain. Dan ciptakanlah kekonyolan beradap  sebagai pengikat antar sesama sahabat.^^

Menyimak dari sedikit obrolan diatas, kira-kira apa yang terbayangkan oleh sahabat? Apakah gaji besar? Persahabatan yang solid? atau rezeki tak terduga? atau adakah hal lainnya? Yupz, Tentu beraneka ragam yang terpikirkan. Karena benar kata pepatah, "Rambut saja sama hitam, tapi pemikiran kita tidaklah sama." Hehee

Sebenarnya jika kita berpikir besar, semua yang sudah diterima adalah rezeki. Sering juga Bielalang duduk merenung seorang diri, "Andai semua orang memahami bahwa rezeki bukan hanya sekedar materi. Kehidupan yang dijalaninya akan menjadi lebih lapang dan it be wonderful-lah kalo denger-denger istilah sekarang! 😊 Pokoknya hidup sahabat akan terasa lebih berkah. Mengapa? Karena berpikir besar itu menjadikan hati tenang. Ketenangan adalah segalanya. Maaf keun sekali lagi, karena saya memaparkan persepsi seperti ini ya? Bukan apa-apa karena saya, Bielalang sudah merasakan dan menikmati sebelumnya. Sebab itu sekarang berani menulis, sampai juga mempublikasikannya di blog ini. Apa guna memiliki harta berlimpah, namun hati selalu rusuh. Bahkan tahta/ kedudukan tidaklah sedikitpun menjamin ketenangan. Alasannya? Untuk Sahabat Bielalang, cobalah lihat disekitar kita, berapa banyak ditemukan keududukan telah membuat mereka menjadi lupa daratan. Hatinya sombong, angkuh, keras kepala, tamak, merasa paling berkuasa, dan masih banyak dampak negatif lain yang ditimbulkan. Naudzubillah... Semoga kita dijauhkan dari hal yang demikian.

Sekali lagi, apapun yang sahabat terima hari ini, semua adalah rezeki. Sunggingan senyum di bibir adalah rezeki, karena tidak semua orang dapat tersenyum karena menahan sakit yang dideritanya. Persahabatan adalah rezeki, karena tidak semua orang dapat berteman baik seperti yang sahabat miliki. Jantung yang masih bertdetakpun adalah rezeki. Apapun yang diterima hari ini tetaplah disyukuri. Semua merupakan rezeki. Janji Tuhan adalah pasti untuk yang mensyukuri setiap rezeki. So, untuk Sahabat Bielalang dimanapun berada, "Jalani kehidupan dengan kesederhanaan dan tetaplah berpikir besar untuk mendapatkan hasil yang luar biasa. Ingat! Rezeki bukan hanya materi, melainkan ketenangan dan lapangnya hati ".

Wah, ternyata sudah siang. Sengatan mentari mulai merah merona di alun-alun kota, dan awan-awan utara semakin meronta-ronta di tiup angin badai. Sstt apa hubungannya? Enggak ada kok.  πŸ˜±πŸ˜†

Have a nice day! you will be fresh on this world... !

😊😊😊

Minggu, 16 April 2017

Kala Hijrah Menyapa

      Hijrah. Sering sudah kita mendengar kata ini bukan? Apa yang sahabat bayangkan ketika mendengarnya? Apakah orang yang mengenakan hijab? Dari berpakaian ketat menjadi gamis-gamis manis? hihii Ya, bisa jadi ya? Mengingat beberapa tahun terakhir banyak industri yang bergerak di bidang konveksi pakaian muslim, rata-rata telah menyulap design mereka menjadi pakaian syar'i. Pakaian serba panjang, lebar, besar dan tentu tetap elegant. Benar yah? πŸ˜…

      Tapi tahukah sahabat, bahwa kata Hijrah bukan berarti mengubah bentuk pakaian saja. Melainkan  "akhlaq dan aqidah santunlah yang lebih di prioritaskan."

      Bagi sahabat bielalang yang menyandang gelar muslim-muslimah; kata hijrah, bukan lagi istilah asing bukan? Karena sedari kecil sudah mendengar cerita tentang Rasulullah yang diperintahkan Allah. Hijrah yang dimaksud tentu sahabat sudah tau ya? Jangan bilang, tidak! Malu sama Allah, malu dengan agama. Tapi kalau memang tidak sengaja lupa, sok atuh... Boleh kunjungi saya dengan mengirimkan email atau media mana saja untuk kita diskusikan kembali nantinya.  Eh, tidak untuk sahabat muslim bielalang saja. Jika sahabat non muslim ada yang merasa penasaran, juga boleh. Hehe ☺

      Atau lekas gugling sekarang, deh! Biar langsung dapat jawabannya dari Mbah Google. 

      Sebenarnya kali ini, bielalang hanya ingin cerita satu kisah menarik dari rekan kerja saja. Dimana tanpa sengaja, mulai dari kata coba-coba; Alhamdulillah beliau sudah merekatkan hijabnya di kepala. Datang tanpa penutup kepala. Pulangnya sudah dibaluti jilbab bercorak merah muda.  Sungguh kelihatan sangat cantik dan anggun. Semoga kewajiban sebagai muslimahnya selalu di pelihara oleh Azza wa jalla. Doakan agar tetap istiqomah ya?

      Ooh jadi kita bukan mau ngebahas mengenai hijrah ya? xixixiii πŸ˜…

      Umm begini, Bielalang hanya ingin kasih tau. Tapi janji tidak beranggapan bahwa Bielalang itu menggurui ya? Ini hanya persepsi. Kalo sahabat setuju, alhamdulillah. Kalau tidak. Hehe tidak apa-apa. Namun, tidak ada salahnya memberi masukan dan pendapat lainnya dengan klik kolom komen di bawah. #eh...

***

      Hidayah itu datangnya dari Allah. Kalau tidak dijemput, sepertinya akan nihil juga. Hasilnya Nol besar. Dan dalam menuju jalan kebaikan, tidak ada jalan yang lurus. Tidak akan anteng-anteng begitu saja. Kapan Iblis insyafnya coba?  #maksudnya?? 
Udah ah, masa lupa lagi. Kan Iblis udah janji akan menggangu umat manusia. Menghalangi jalan menuju kebenaran. Apalagi bagi mereka yang baru mulai menuju jalan mulia. Akan banyak godaannya!

      Nah, lebih kurang seperti itulah yang sedang dirasakan rekan kerja bielalang hari ini. Yang bermula dari coba-coba. Terus kami di ruang kerja dukung bersama. Kemudian di luar sana malah banyak sekali yang melirik penuh tanda tanya. Ada yang tertawa terpingkal seperti mengolokkannya bilang, "tak percaya, mimpikah, sekarang hari apa? Tadi tak terlindas keretakan?" Bahkan ada yang memanggil ulang hanya untuk memastikan bahwa itu benar adalah dia. Was-was kalau-kalau salah lihat. Butuh kaca mata atau aqua kali ya mereka? iih kadang saya suka kesal juga dengar ucapan tak bersahabat seperti itu. Apa salahnya diam saja. Terus di doakan sambil beri pujian ke yang baru mengenakan hijabnya. Kan suasana jadi adem. Tapi memang seperti itulah. Harap dimaklumi saja. Jalan menuju kebenaran itu tidak mulus. Banyak ranjaunya.

      Sahabat bielalang, banyak sekali olok-olokkan yang didapatinya pas di hari pertama, kedua, ketiga atau di minggu-minggu mula mengenakan hijab. Tapii...Jangan segera mundur. Jangan lemah. Itu adalah cara istimewa yang di anugerahkan Allah untuk kita agar benar-benar memahami makna hijrah sebenarnya. Allah menghadirkan manusia agar memahami kehidupan tidak dengan cara sederhana melainkan dapat menjalani kehidupan dengan pemikiran luar biasa. Aamiin.

      Mungkin sekian dulu cerita hari ini. Kalo mau tahu kelanjutan dari sahabat sekaligus rekan diatas, boleh japri or contact Bielalang secara exclusive loh! 
See you πŸ˜…

Rabu, 05 April 2017

Embun pagi 7

         
Picture by. Farah Aissya
Sharing kali ini, sepertinya saya ingin mengajak Sahabat Bielalang semua untuk flashback kejadian-kejadian yang tanpa disadari telah mengganggu orang lain. Dimana pada mulanya, sering kita beranggapan bahwa yang telah kita lakukan saat itu wajar dan biasa-biasa saja. Tapi bagaimana? Ternyata tidak. Ada dari mereka yang pasti merasa tidak nyaman dan risih dengan tindakan yang kita lakukan. Kata orang, "Kepala saja sama hitam, hatinya siapa yang tahu."

          Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika kita lebih berhati-hati dalam bertindak, berkomentar dan menanggapi sesuatu. Dan jangan mudah terpancing juga ya! Terkadang di dalam situasi dan kondisi yang sedang bersenang-senang, kita sampai lupa bahwa itu sudah tidak wajar dilakukan. Akhirnya orang-orang yang sebelumnya respek, alih-alih akan beranggapan bahwa kita itu tidak punya pendirian. Mudahnya dipengaruhi. Lemah iman dan yang lebih parah lagi nanti dibilang orang yang buruk.

          Tuh kan, pasti engga enak banget rasanya digituin. Di sangka bahwa kita makhluk buruk. Tidak bisa kontrol diri. Jadi, intinya apapun yang akan sahabat bielalang lakukan, selalulah bersikap santun dan bijaksana dalam menanggapi segala hal.

          Jika sahabat bielalang, kurang paham dengan yang saya sampaikan. Nggeh, santai aja. Cepat atau lambat akan paham, hahaaa,...


Selasa, 04 April 2017

Embun Pagi 6

       
Picture by. Farah Aissya
    Malam ini, saya ingin mengatakan, "Aku siap!"

        Apapun yang terjadi esok hari, maka itu adalah kehendak-Nya. Jika hasilnya baik, Dia memberi kepercayaan bahwa saya bisa berbagi kebaikan dan memiliki kualitas diri  yang layak diterima orang lain. Namun jika hasilnya gagal, maka sungguhlah Dia menginginkan agar saya dapat memperbaiki diri dan terus meningkatkan kualitas hati agar tetap suci, bebas dari dengki, iri, sok dan terus meyakini bahwa ini adalah permulaan untuk menuju hasil yang lebih baik di kemudian hari. 

           Saya akan siap menghadapi segala yang dikehendaki oleh-Nya. Apapun hasilnya nanti, maka itulah yang terbaik. Yang pasti tugas utama terhitung dari malam ini adalah; meningkatkan kualitas hati, percaya diri, ikhtiar, belajar, konsentrasi pada tujuan dan terakhir... Meyakini bahwa hasilnya akan baik. Aamiin

           Sebelum, embun pagi ini disudahi. Sahabat Bielalang jangan sampai melupakan satu hal bahwa, "Janji Allah itu pasti." Jika hambanya berusaha maka Ia mengabulkan".

           So, masih pesimis menghadapi hari esok?
See you!

NB. Siap tersenyum di hari kemenangan yang sudah ditetapkan Allah karena melihat upaya kita luar biasa.