Rabu, 19 April 2017

FLASH FICTION - Pertemuan

Allow Sahabat Bielalang!

Pecinta literasi umumnya tidak pernah lepas dari menulis puisi dan cerita-cerita mini, bukan? #eh 
Apa iya?😎😎

Tidak masalah benar atau tidak. Tapi sepertinya banyak yang jawab, "Iya." hihii
 
Di edisi hari ini, izinkan Bielalang mengupas secara tajam mengenai tips kejce dalam menulis Flash Fiction (FF) atau cerita mini yang banyak diminati para newbie literasi. Tips dari Bielalang dalam menyelesaikan cerita mini seperti ini, yang pasti harus ada; Tema, tokoh, latar/lokasi dan konfliknya. Karena jika tidak ada salah satu dari empat tersebut, rasanya belum pas. Hambar. Garing deh pasti. Kemudian ceritanya gak usah muluk-muluk, langsung ke ide pokok yang ingin disampaikan saja, pastikan tidak lari dari amanat yang akan disampaikan. Tapi tidak meringkas, loh! Bedakan. Dah segitu aja, ya #Ggrrr

Kalau sahabat masih penasaran dengan ketentuan menulis flash fiction sesuai kaidah kepenulisan lainnya, Silahkan... Bisa gugling di berbagai link atau URL mana suka, ya 😸😸 Bakal banyak ulasan dan penjelasan yang akan sahabat dapatkan. Biasakan rajin membaca dan menyimak. Ok!

Sok atuh, demi menghemat waktu kita bersama, di bawah ini adalah contoh ff yang Bielalng ikut sertakan  dalam sebuah event tantangan. Mohon arahan dan masukannya setelah di baca, ya...
Soalnya baru belajar juga, sih...😜

Judul: PERTEMUAN
Oleh: Fajri Rahmi .red

Ainun, apakabarmu disana? Lama sudah kita tak saling menyapa. Semoga dirimu selalu sehat. Dalam suasana hati yang baik tentunya, ya? Surat ini sengaja ku kirimkan hanya ingin tahu, sekarang dimana keberadaanmu. Masihkah melayang terbang di udara? Atau telah menetap indah di rumah-rumah megah ditengah peraiaran kota? 

 Ainun, Ada banyak cerita yang ingin ku sampaikan.

 Bila surat ini kau terima, sempatkanlah membalasnya. Meski hanya satu sampai tiga kalimat saja. Ohya, alamatku masih sama. Kampung halaman kelahiran kita. 

Peluk rindu sahabatmu.
Bayyan

Inilah sepucuk surat tanda persahabatan. Sebuah surat yang telah melewati perjalanan panjang. Terombang ambing dilautan lepas, berlayar mengarungi samudera dunia. Hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka. Pertemuan Ainun dan Bayyan. Melalui deburan ombak yang menghembaskan botol berisi sepucuk surat.

"Pertemuan ini rasanya amat sangat suram. Dadaku menjadi sesak, hati kecil mengambang dan jiwa ini tak mampu memelukmu erat. Karena kita bukan lagi mahrom layaknya anak kecil tempo dulu. Kau menjadi pemeluk yang taat Ainun. Tapi aku?" Suara Bayyan bergetar. Tertahan. Tak ada gunanya melanjutkan rasa yang selama ini terpendam.

Anak-anak berkejar-kejaran. Bermain dalam mekarnya pasir pantai, tak pedulikan sengatan matahari yang dapat melepuhkan kulit mereka. Ainun tersenyum. Ia teringat masa-masa kecilnya dahulu. Persis sama dengan kelakuan anak-anak disana. Ainun dan Bayyan. Sahabat seperguruan yang terpisah demi cita-cita.

"Bagaimana kabar keluargamu?" Sepertinya Ainun mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Karena pertemuan ini amat sangat di luar dugaan.

"Ainun, izinkanlah aku memulainya dengan bercerita..." Bayyan penuh harap. Ainun mengangguk.

"Semua tidak seperti dulu. Jujur, hatiku menangis mengingat semua kejadian yang menimpa perkampungan ini. Dua puluh dua tahun lalu, tepat tiga tahun setelah kau meninggalkan tanah ini. Bencana besar terjadi. Ombak menghapus semuanya. Entah mengapa ia hanya menyisakan seorang anak berusia sebelas tahun. Enam tahun kemudian, kala fajar mulai menyingsing, ia bertarung melawan ketakutan di tepian pantai demi melepaskan sebuah surat dengan isi yang sama (merindukan kenangan sahabat lama). Sampai hari ini jumlah surat tersebut mungkin sudah mencapai lima ribu delapan ratus tiga puluh lebih.“ Menghela nafas. Mata yang tadi terlihat sendu perlahan mulai berbinar kembali.

"Ainun, kabar baiknya, aku sangat bahagia dapat bertemu denganmu lagi. Ternyata laut ini tak sejahat yang ku sangkakan. Kau benar, bahwa dimasanya nanti ombak selalu menjadi kawan sejati untuk jiwa yang bersedih hati. Bahkan tidak hanya itu, dengan keelokannya ia menghantarkan suratku kepadamu. Meski menikam rasa puluhan tahun lamanya." Bayyan terlihat lebih baik. Bibirnya menghadiahkan senyum tulus menatap Ainun.

Anak yang memiliki kebiasaan mengirimkan surat melalui gulungan ombak itu adalah Bayyan. Sebuah keadaan dan kenangan teramat pilu ingin ia kabarkan kepada sahabatnya, Ainun.

Angin sayup-sayup menerpa jilbab yang dikenakan, Ainun. Laut menghempaskan ombaknya ke bebatuan pelindung bibir pantai. Tampiasnya menjadikan suasana hening seketika.
 *** 

Semoga bermanfaat, rajin membaca akan menorehkan nilai terbaik.
^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)