Allow Sahabat Bielalang!
Pecinta literasi umumnya tidak pernah lepas dari menulis puisi dan cerita-cerita mini, bukan? #eh
Apa iya?ππ
Tidak masalah benar atau tidak. Tapi sepertinya banyak yang jawab, "Iya." hihii
Di edisi hari ini, izinkan Bielalang mengupas secara tajam mengenai tips kejce dalam menulis Flash Fiction (FF) atau cerita mini yang banyak diminati para newbie literasi. Tips dari Bielalang dalam menyelesaikan cerita mini seperti ini, yang pasti harus ada; Tema, tokoh, latar/lokasi dan konfliknya. Karena jika tidak ada salah satu dari empat tersebut, rasanya belum pas. Hambar. Garing deh pasti. Kemudian ceritanya gak usah muluk-muluk, langsung ke ide pokok yang ingin disampaikan saja, pastikan tidak lari dari amanat yang akan disampaikan. Tapi tidak meringkas, loh! Bedakan. Dah segitu aja, ya #Ggrrr
Kalau sahabat masih penasaran dengan ketentuan menulis flash fiction sesuai kaidah kepenulisan lainnya, Silahkan... Bisa gugling di berbagai link atau URL mana suka, ya πΈπΈ Bakal banyak ulasan dan penjelasan yang akan sahabat dapatkan. Biasakan rajin membaca dan menyimak. Ok!
Sok atuh, demi menghemat waktu kita bersama, di bawah ini adalah contoh ff yang Bielalng ikut sertakan dalam sebuah event tantangan. Mohon arahan dan masukannya setelah di baca, ya...
Soalnya baru belajar juga, sih...π
Soalnya baru belajar juga, sih...π
Judul: PERTEMUAN
Oleh: Fajri Rahmi .red
Ainun,
apakabarmu disana? Lama sudah kita tak saling menyapa. Semoga dirimu
selalu sehat. Dalam suasana hati yang baik tentunya, ya? Surat ini
sengaja ku kirimkan hanya ingin tahu, sekarang dimana keberadaanmu.
Masihkah melayang terbang di udara? Atau telah menetap indah di
rumah-rumah megah ditengah peraiaran kota?
Ainun,
Ada banyak cerita yang ingin ku sampaikan.
Bila
surat ini kau terima, sempatkanlah membalasnya. Meski hanya satu
sampai tiga kalimat saja. Ohya, alamatku masih sama. Kampung halaman
kelahiran kita.
Peluk
rindu sahabatmu.
Bayyan
Inilah sepucuk surat
tanda persahabatan. Sebuah surat yang telah melewati perjalanan
panjang. Terombang ambing dilautan lepas, berlayar mengarungi
samudera dunia. Hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka.
Pertemuan Ainun dan Bayyan. Melalui deburan ombak yang menghembaskan
botol berisi sepucuk surat.
"Pertemuan ini
rasanya amat sangat suram. Dadaku menjadi sesak, hati kecil
mengambang dan jiwa ini tak mampu memelukmu erat. Karena kita bukan
lagi mahrom layaknya anak kecil tempo dulu. Kau menjadi pemeluk yang
taat Ainun. Tapi aku?" Suara Bayyan bergetar. Tertahan. Tak ada
gunanya melanjutkan rasa yang selama ini terpendam.
Anak-anak
berkejar-kejaran. Bermain dalam mekarnya pasir pantai, tak pedulikan
sengatan matahari yang dapat melepuhkan kulit mereka. Ainun
tersenyum. Ia teringat masa-masa kecilnya dahulu. Persis sama dengan
kelakuan anak-anak disana. Ainun dan Bayyan. Sahabat seperguruan yang
terpisah demi cita-cita.
"Bagaimana kabar
keluargamu?" Sepertinya Ainun mencoba untuk mengalihkan
pembicaraan. Karena pertemuan ini amat sangat di luar dugaan.
"Ainun,
izinkanlah aku memulainya dengan bercerita..." Bayyan penuh
harap. Ainun mengangguk.
"Semua tidak
seperti dulu. Jujur, hatiku menangis mengingat semua kejadian yang
menimpa perkampungan ini. Dua puluh dua tahun lalu, tepat tiga tahun
setelah kau meninggalkan tanah ini. Bencana besar terjadi. Ombak
menghapus semuanya. Entah mengapa ia hanya menyisakan seorang anak
berusia sebelas tahun. Enam tahun kemudian, kala fajar mulai
menyingsing, ia bertarung melawan ketakutan di tepian pantai demi
melepaskan sebuah surat dengan isi yang sama (merindukan kenangan
sahabat lama). Sampai hari ini jumlah surat tersebut mungkin sudah
mencapai lima ribu delapan ratus tiga puluh lebih.“ Menghela
nafas. Mata yang tadi terlihat sendu perlahan mulai berbinar kembali.
"Ainun, kabar
baiknya, aku sangat bahagia dapat bertemu denganmu lagi. Ternyata
laut ini tak sejahat yang ku sangkakan. Kau benar, bahwa dimasanya
nanti ombak selalu menjadi kawan sejati untuk jiwa yang bersedih
hati. Bahkan tidak hanya itu, dengan keelokannya ia menghantarkan
suratku kepadamu. Meski menikam rasa puluhan tahun lamanya."
Bayyan terlihat lebih baik. Bibirnya menghadiahkan senyum tulus
menatap Ainun.
Anak yang memiliki
kebiasaan mengirimkan surat melalui gulungan ombak itu adalah Bayyan.
Sebuah keadaan dan kenangan teramat pilu ingin ia kabarkan kepada
sahabatnya, Ainun.
Angin sayup-sayup
menerpa jilbab yang dikenakan, Ainun. Laut menghempaskan ombaknya ke
bebatuan pelindung bibir pantai. Tampiasnya menjadikan suasana hening
seketika.
***
Semoga bermanfaat, rajin membaca akan menorehkan nilai terbaik.
^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)