Bagaimana rasanya disalahkan ketika tidak melakukan sesuatu?
Bagaimana rasanya disangkakan buruk ketika hati telah berjanji untuk baik?
Bagaimana rasanya direndahkan ketika air mata telah lebih dulu menyibakkan permukaan bumi?
Bagaimana rasanya dituduhkan ketika itu bertentangan dengan prinsipil kehidupan?
Bagaimana rasanya dituntut ketika semua sudah dilakukan dengan peluh keikhlasan?
Bagaimana rasanya duhai jiwa yang lirih?
Bagaimana rasanya duhai hati yang tertatih?
Masih sanggupkah mereka yang tertuduh semena-mena memproklamirkan kebenaran dirinya di hadapan orang-orang yang sudah lebih dulu mengintimidasi dan menjudge mereka sebagai orang yang tidak benar?
Masih mampukah mereka yang tertuduh mengapresiakan harga diri dihadapan orang-orang yang telah menghantamkan cambukan panas ke tubuh lemahnya, menghunuskan pedang ke tulang belulangnya yang semakin rapuh, dan melemparkan untaian kalimat-kalimat hitam yang telah meleburkan batinnya?
Adakala mereka yang tertuduh hanya memiliki problema "sepele". Problema yang tidak mesti dipermaslahatkan sampai ke "meja bundar". Mereka hanya tertuduh, namun inspeksi yang dilakukan seakan mereka telah berada di lorong kesalahan fatal. Bahkan dikala mereka yang menganggap dirinya ingin mengungkap kebenaran, malah terjebak dengan persepsinya sendiri. Tidak mampu memfilter omongan yang akan ia lontarkan kepada mereka yang telah tertuduh. Menuntut mereka yang tertuduh membenarkan "apa kata dia" tanpa berusaha untuk membicarakannya dahulu, tanpa berusaha memuat klarifikasi lebih lanjut kepada mereka yang telah tertuduh.
Lalu bagaimana mereka yang tertuduh mampu membela diri dihadapan orang-orang telah menganggap mereka paling benar? Bagaimana mereka yang tertuduh menata kembali hati yang telah di cabik-cabik oleh sajak-sajak tajam pemilik kalimat hitam?
Hai !
Tidakkah kita ketahui di dalam lingkaran dan kondisi memprihatinkan seperti ini, mereka yang tertuduh hanya memiliki kekuatan doa dan kelebihan spiritual kepada Tuhannya. Pun mereka hanya mampu untuk diam. Diam sejenak dan hanya mampu membela diri melalui bahasa jiwa. Menyanjung kepada Sang Pemilik Kebenaran untuk memberikan keadilan atas informasi tidak benar yang telah bergelimang di dalam diri si penuduh*.
Di dalam muhasabah diri, pernahkah kita mengingat dan membolak-balikkan kembali kepada jiwa yang pernah merasa suci, jiwa yang merasa benar (lebih benar daripada oranglain)? Betapa seringnya kita berada pada posisi menjustifikasi seseorang. Baru sedikit fakta yang kita tahu tentang cuplikan kehidupannya, kita telah menuduhnya dengan stigma yang sangat tak pantas. Tatkala seorang bawahan tak mampu terbuka kepada atasan, seketika itu muncul anggapan bahwa ia tertutup kepada semua orang. Padahal di balik itu ia sedang dirundung masalah dan kesedihan yang mendalam. Di saat seorang karyawan hanya duduk diam di dalam hiruk pikuk suasana kerja, malah menduga ia terlalu ego dengan urusan dan tugas-tugasnya sendiri. Padahal sebenarnya ia memikirkan bagaimana agar hasil kerja yang ia lakukan dapat diterima dengan baik oleh semua orang. Dikala seorang teman yang tak membalas pesan/menyapa ketika berpapasan dengannya sekali waktu, seketika muncul anggapan bahwa ia sombong. Padahal di balik itu, ia sedang sibuk, ia sedang terburu-buru dan ia sedang tak melihat kita. Di saat seorang sahabat tak memberi kita pinjaman uang, seketika itu juga beropini bahwa ia pelit. Padahal di balik itu ia sedang berusaha mendapatkan banyak uang untuk kebutuhan ibunya, menabung untuk impiannya atau untuk membayar utang-utangnya. Di saat sang sahabat karib tak memenuhi undangan kita, terlintas di benak jika ia seorang yang tak menghargai. Padahal di balik itu, dia mendapatkan sebuah tanggungan yang harus segera diselesaikan hari itu juga sementara ia sungkan untuk memohon izin dikarenakan penghormatannya.
Semoga hati mereka yang tertuduh menjadi lebih kuat. Semua kesalahpahaman akan terungkap dengan kebenaran yang telah Allah janjikan bagi mereka yang mengadu lirih di dalam ke khusyukan sujud dan doanya.*
Aamiin :-)
**
Landasan Al-Qur'an & Hadits tentang Larangan Berburuk Sangka (Su'udzon):
- Q.S Al-Hujarat ayat 12:
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain". - HR. Bukhari/Muslim
"Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dustanya ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara".

Baik sekali ,,,,,yahh...
BalasHapusBaik sekali ,,,,,yahh...
BalasHapusTerima kasih atas kunjungannya om :-)
Hapus