Malam ini, sebelum tubuh beringsut landai menuju zona nyamannya, alias kasur paling empuk sedunia (kata saya). Tiba-tiba ada satu notif yang membuat gadget kesayangan sayup-sayup berkedip, menyala, menyilaukan mata. "Ah, biarkan saja. Sudah malam. Mengganggu saja". Terdengar sepotong hati berbisik menjawab tanpa diminta. Bukan bisik-bisik tetangga, ya. Itu bisikan hati saya, loh. #lol
Tapi yang namanya notif apalagi udah dari medsos kesayangan. Mata seperti enggak mau merem. Tanganpun sepertinya terus gatel memohon untuk membukanya. Sampai angin lautpun seperti menanari-nari di kisi-kisi jendela luar, tidak lain tidak bukan menyeringai, merayu dan menyuruh untuk segera melihat apa isi dibalik notif yang berkedap-kedip, menyala mengalahkan cahayanya galaxi di langit.
Baiklah, sepertinya saya benar-benar harus mengalah dan menuruti keinginan mereka semua. Segera jari-jari mungil melejit cepat menuju sasaran. Notification. Oh, ternyata benar, ada yang spesial di notif facebook malam ini. Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh enam tahun mengirimkan beberapa foto lengkap dengan pertanyaan. "Dik, kenal dengan foto yang uni kirim?" tidak lupa pertanyaan pendek tersebut dilengkapi dengan beberapa emoticon tertawa lebar (😆). Pertanda bahagia.
Lagi-lagi si jari mungil bermanja gesit membalasnya. Emoticon "😆"yang dikirim saya balas dengan emo "😊". Emoticon ini maknanya sangat dalam. Bisa menjadi senyum bahagia penghantar tidur sekaligus menjadi senyum ketulusan karena mendapat kiriman luar biasa dari seberang sana. "Waah, itu mak-mak handal super hero saya semua ya, Ni? Kapan mereka sampai? Tidur di rumah, Uni?" Pertanyaan yang dikirim untuk membalas pesan Uni seberang, sebagai hadiah juga untuk notif yang dari tadi menyela saya karena enggan membukanya.
"Mereke reunian di rumah Uni, Dik. Kangen-kangen bertemu kawan lama." Uni diseberang begitu semangat mengabarkan. Saya semakin bahagia melihat wajah-wajah teduh mereka. Di dalam foto yang dikirim ada wajah pahlawan kehidupan saya (Sang lentera jiwa-AMak). Ia bersama dengan sahabat-sahabatnya. Sudah lama sekali mereka tidak bersua dan bercengkerama, berbagi cerita seperti terlihat di foto.
Saking senangnya, saya menitipkan doa dan meminta angin laut yang dari tadi masih menyeringai setia dibalik jendela untuk menyampaikan kepada Sang Pencipta.
Assalamu'alaikum yaa Haq,
"Senang dan bahagia rasanya melihat ibuku tersenyum rapih bersama teman-temannya. Maafkanlah, tiada kata pembuka yang mampu untuk ku ucap dalam memohon belas kasihMu. Hanyalah syukur dan terima kasih tak terhingga yang terlontar dalam menggambarkan kebahagiaan melihat ini semua. Jika Engkau berkenan, terimalah pesan ini, pesan dari hatiku. Sengajaku titipkan bersama angin lautMu...."
Tuhanku yang Kuasa, tanpa mengurangi rasa cinta hati padaMu, sengaja ku tuliskan harapan sederhana ini. Untuk Ibuku.
"Diusianya yang semakin senja, izinkan si pemilik hati yang Engkau amanahkan ini untuk terus berkarya dan memuliakannya. Bantulah Ibuku melupakan kesedihan yang selama ini terlalu akrab menemaninya. Hindarkan Ibuku dari para hambaMu yang bermuka dua. Buatlah Ibuku semakin kuat. Seperti Engkau yang selalu memberi kekuatan kepada orang-orang sholeh dan sholeha. Lindungilah Ibuku dimana saja. Tetap kokohkanlah hatinya bersamaMu. Seperti ia yang selalu meminta kapadaMu agar diberi ketangguhan untukku dalam menghadapi perjalanan kehidupan di dunia. Jangan lagi ada bulir kesedihan yang jatuh dari pelupuk matanya. Karena setiap hari pipinya sudah selalu basah ketika sujud menghadap kiblatMu. Jagalah kebersamaan, kebahagiaan dan keindahan bersama sahabat-sahabatnya seperti malam ini. Damaikan orang-orang yang ada disekelilingnya. Bukan karena Engkau iba melihatnya. Bukan pula karena Engkau tersentuh dengan pesan dan doa yang hatiku titipkan lewat angin lautMu. Tapi karena Engkau memang Mencintainya. Ibuku."
Wassalam,
Hamba yang Mencintai Bundanya karena Sang Pencipta. Allah.
**
![]() |
| Picture 1 by. Uni Mardiati, Bojong Gede-Bogor, Indonesia |
![]() |
| Picture 2 by. Uni Mardiati, Bojong Gede-Bogor, Indonesia |
Semoga foto dari Uni seberang ini menjadi bukti bahwa semua orang ingin bahagia. Ia dan sahabat-sahabatnya sama dengan orang-orang lainnya. Tidak ada beda. Bertemu dan melepas rindu di usia senja. Romantika luar biasa. Tidak lupa, bahwa media sosial telah memberi pengaruh besar untuk suasana di malam ini. Jadi, jangan lupa buka dan baca notif-notif apa saja sebelum Sahabat Bielalang tidur, ya? Jangan sampai melewatkan satu momentpun. Siapa tahu dibalik notif yang berkedip-kedip manja, ada sesuatunya. Kejutaann!!! (menurut saya part-2) hehee...
Baiklah, karena sudah terlalu larut. Akhir tulisan malam ini adalah salam rindu untuk pejuang tangguh. Penyemangat dalam keresahan. Penawar dalam kesakitan dan penguat di dalam kerapuhan. Perantau muda. Anakmu, Mak... :-)
Selamat tidur dalam bingkaian senyum menawan. Selamat malam dalam binar ketulusan seorang Insan. Afwan...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)