![]() |
| Masjid Asam Pulau (Icon Kemaslahatan Masyarakat Asam Pulau) |
Salah satu peribahasa yang selalu di ingat oleh seorang perantau adalah, “Setinggi-tinggi terbang bangau surutnya ke
bubungan/pelimbahan juga”. Maknanya, “Sejauh apapun seseorang pergi
merantau ke negeri orang, maka akan kembali ke negeri asalnya. Setinggi
apapun kedudukan/pangkat seseorang, apabila sudah pensiun/berhenti
bekerja akan menjadi rakyat biasa juga”.
Ketetapan yang tidak dapat dihindari.
Peribahasa ini seolah sudah menjadi hukum alam untuk mereka yang telah
menjalani kehidupan di permukaan bumi. Kecuali alam sendiri yang telah
menginginkan bahwa kehidupan seseorang harus berhenti (mati). Maka
sepenuhnya menjadi tanggunganlah ketika menghadap Sang Pencipta untuk
mempertanggungjawabkan segala hal yang pernah di lakukan ketika mendiami
bumi dan menjunjung langit yang tinggi.
Sesuai dengan judul diatas, ini adalah
cerita mengenai kampung halaman. Asam Pulau namanya. Perkampungan kecil
yang dikelilingi pegunungan, aliran sungai, dan peta-petak sawah yang
membentang luas di setiap sudut rumah warga. Bila musim panen tiba, Asam
Pulau akan menguning karena serentaknya petani menyemai benih dan
bercocok tanam (padi). Dan ketika musim buah-buahan, Asam Pulau akan
semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan nusantara. Dan saat ini sedang
proses realisasi untuk wisatawan mancanegara. Terlebih untuk pecinta
buah durian. Silahkan berkunjung. Anda akan mendapati buah-buahan nan
super segar dan super sehat. Tanpa pengawet dan tidak mengandung zat-zat
kimiawi apapun. Semua murni super sehat. Sangat lengkap dan menawan.
Ditambah paduan keindalahan alam Asam Pulau. Uyee..
Dengan sedikit deskripsi diatas,
bagaimana mungkin hati orang-orang yang sudah pernah singgah apalagi
yang aslinya dilahirkan di kampung kecil seperti Asam Pulau akan
berpaling ke yang lain. Meski di kota perantauan sudah hidup mewah,
sejahtera, menjadi orang yang disegani, dan memiliki keluarga bahagia,
mereka tidak akan merasakan kedamaian yang agung seperti di Asam Pulau.
Meski hanya perkampungan kecil, perkampungan yang jauh dari pusat kota.
Tetapi pesonanya sangatlah menawan. Pesona masyarakat yang hidup
berdampingan, saling bergotong royong, saling menghargai satu sama lain
dan tentunya mempertahankan karakter religius yang berpondasi atas dasar
Adat Basandi Syarak – Syarak Basandi Kitabullah. Ingat, kembali kita
copy paste peribahasa di awal kalimat bahwa, “Setinggi-tinggi terbang
bangau surutnya ke bubungan/pelimbahan juga”. Maknanya, “Sejauh apapun
seseorang pergi merantau ke negeri orang, maka akan kembali ke negeri
asalnya. Setinggi apapun kedudukan/pangkat seseorang, apabila sudah
pensiun/berhenti bekerja akan menjadi rakyat biasa juga”.
Dunsanak Rantau.. Ayo kita pulang kampung
bersama. Bersama kita bangun Asam Pulau yang madani. Jangan lupakan
tanah kelahiran. Jangan lupakan Rumah Gadang si Bundo Kanduang. Silahkan
memperkaya diri di negeri rantau. Tetapi jangan sampai lupa daratan.
Apalagi lupa dengan Asam Pulau.
Simphony Asam Pulau
“Bila rindu tak menjamah hatimu,
Ingatlah masa-masa ketika dirimu bermain bersamaku?
Dimasa kita pernah berayun di pohon jambu,
Dimasa kita pernah dimarahi oleh guru-guru,
Dimasa kita pernah lari bersama, kemudian bersembunyi melihat si etek bisu,
Dimasa kita pernah belajar mengaji dengan Ungku,
Dimasa kita pernah tidur membujur tanpa alas/tikar di surau-surau,
Dimasa kita pernah ke ladang/rimba mengumpulkan potongan-potongan kayu,
Dimasa kita pernah merunduk.. meringkung.. bahu membahu,
Tidak peduli apakah dirimu dalam kondisi galau,
Tidak peduli apakah dirimu dalam keadaan jemu,
Aku selalu bersamamu.
Masih tidak merindukah dirimu akan aku?
Tidakkah dirimu merindukanku?
Akulah kampungmu..
Dimana kamu pernah menangis, tertawa, dan bercengkrama dengan Aku..
Setiap hari aku menemanimu,
Setiap hari juga dirimu mengadu kepadaku,
Kini masihkah hatimu membeku?
Akulah kampungmu..
Dimana kamu pernah menangis, tertawa, dan bercengkrama dengan Aku..
Setiap hari aku menemanimu,
Setiap hari juga dirimu mengadu kepadaku,
Kini masihkah hatimu membeku?
Katimaha, Ladang Bilan, Cubadak dan Sikayang Paku..
Menyatu menjadi namaku yang satu,
Akulah ASAM PULAU
Selalu merindukan kehadiranmu duhai sang perantau”.
===
Noted: Dunsanak, apabila ada tambahan terkait simfoni Perkampungan Asam Pulau, mohon ditambahkan di kolom komentar :D
*mj
![]() |
| Kebersamaan Anak-anak Asam Pulau |
Others, you can visit on https://fajrimjrahmi.wordpress.com/2016/10/28/asam-pulau-punya-cerita/


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)