Jumat, 09 Mei 2025

Tujuh Tahun Sudah Kapalku Berlayar, tapi Terlalu Banyak Luka

Mentari bersinar terang. Sudah tidak lagi pagi hampir mendekati siang. Udara panas semakin menyala melelehkan peluh-peluh yang menempel ditubuhku. Lelah!

Aku teringat dengan mimpi dan impian tujuh tahun silam. Ingin sekali punya masa depan gemilang. Hingga akhirnya aku melabuhkan impian ini ke laki-laki yang menunjukkan bahwa dirinya memang layak mendampingi hidupku. 

Waktu itu masih ada sedikit keraguan. Tapi aku tepis, "Aku pasti mendapati yang dicari. Ia baik dan menepati janji." Motivasi perjalanan cintaku saat itu. 

Kami mulai berlayar tapi entah kenapa langsung terjadi kejadian yang membuatku tidak nyaman. Hatiku perih. Impianku kandas. Kupikir kapal yang ditumpangi sangatlah kokoh, ternyata ... 

Sudahlah! aku mencoba melapangkan dada. Berdiri tegak dan menatap tajam masa depan. "Sudah terlanjur berlayar," gumamku dengan air mata yang terus mengalir seolah tak mau kering. "Apa yang harus aku lakukan? Aku harus teruskan. Semua akan baik-baik saja." Gumamku.

Oh tidak. Tujuh tahun sudah kapal ini berlayar. Nahkoda yang kupercayai ternyata tak sehebat itu. Jauh sekali dari mimpiku selama ini. Dermaga terlihat malah semakin jauh. Tapi menurut penumpang lain Nahkoda yang membawa kapal ini "Sangat Luar Biasa."

Ternyata luar biasanya hanya untuk orang lain, belum untukku. Aku masih tetap  menahan bulir-bulir bening di mata ini. Tak kudapati sosok nahkoda impian. Aku tertipu. Dulu sebelum berlayar, ia benar-benar bak kapten gagah berani. Setiap kata yang diucapkannya membuatku terkesan. Hingga membuatku memutuskan untuk berlayar bersamanya. Sekarang entahlah apakah aku akan terus bertahan di tengah kehampaan ini. Hidupku sepi. Aku tak punya teman. Aku ingin bercerita tentang perjalanan ini. Aku ingin bercerita tentang perasaanku. Aku ingin bersandar sebentar saja, melepas penat, lelah yang tidak berujung. Entah sampai kapan?

Tuhan, ampuni aku yang mungkin tidak bersyukur. Ampuni aku yang mengeluh dengan perjalanan kehidupan ini. Maafkan aku yang memiliki ekspektasi terlalu tinggi ketika memilih pelabuhan hati. Tolong jangan bagikan perih ini kepada siapapun, termasuk anakku. Izinkan aku bertahan dan menikmatinya sampai titik terakhir. Astaghfirullahal 'adziim 3x....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)