Sebuah kisah menggunakan sudut pandang orang pertama.
Tiba-tiba pada hari itu, Senin 7 November aku menjadi seseorang yang pemberontak. Aku tidak terima ketika posisiku harus dipindahkan ke orang lain. Aku seolah dibuang dari posisi yang telah membuatku nyaman sampai sekarang. Aku telah mengikuti semua aturan dan prosedur di dalam perusahaan. Tapi mengapa posisiku malah diganti dan dipindah kebagian yang sama sekali bukan tipikal diriku untuk posisi itu. "Apa salahku?" Pertanyaan itu selalu muncul dan sangat mengganggu.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menemui atasan dan langsung menanyakan perihal rotasi kerja yang sudah mengganggu konsentrasiku ini. "Mengapa aku di rotasi? Kenapa tanpa persetujuan karyawan yang bersangkutan terlebih dahulu? Apakah selama ini saya bekerja tidak memenuhi standar yang bapak inginkan? Apakah saya pernah merugikan pada divisi ini pak? Kenapa saya dirotasi dan dipindahkan kebagian itu?"
Aku terus mengajukan pertanyaan kepada atasan, berharap mendapat jawaban yang membuat hati ini menerima keputusan sepihak ini.
Aku terus mengajukan pertanyaan kepada atasan, berharap mendapat jawaban yang membuat hati ini menerima keputusan sepihak ini.
"...Sudahlah, Terima saja! Ini sudah ketetapan perusahaan. Pokoknya keputusan ini sudah fix. Mingggu depan kamu harus menyesuaikan diri pada divisi sebelah".
Inilah jawaban dari atasanku. Beliau tidak memberikan alasan yang dapat hatiku terima. Amarahku semakin memuncak. Tapi air mata juga tak dapat untuk ku bendung. Ia terus mengalir membuat tubuhku semakin lemah.
Inilah jawaban dari atasanku. Beliau tidak memberikan alasan yang dapat hatiku terima. Amarahku semakin memuncak. Tapi air mata juga tak dapat untuk ku bendung. Ia terus mengalir membuat tubuhku semakin lemah.
"Haruskah aku menerima begitu saja?" Kembali hatiku bergumam dengan sendirinya. Hatiku belum puas dengan jawaban atasan seperti itu. Meskipun sudah ketetapan perusahaan tetapi, pasti ada alasan lain yang membuat hati ini dapat menerima. Aku terus memikirkannya.
Siang, tepat pukul 13.30 wib karena hatiku belum puas. Aku memutuskan menemui atasan yang lebih tinggi. Ya, ku putuskan untuk menghadap menejer. Mungkin dengan beliau aku akan mendapatkan jawaban yang logis dan kemudian dapat menerima keputusan rotasi ini.
Akhirnya hatiku mulai tenang. 45 menit lamanya berdiskusi. Beliau menjelaskan dengan detail. Dan dengan kebijaksanaannya dalam memberikan penjelasan tersebut membuatku merasa lebih baik. Bahkan aku berfikir kembali. Kenapa tidak terfikirkan olehku sebelumnya? Mengapa aku harus mengurung diriku pada satu divisi saja? Bukankah aku harusnya bersyukur karena dibagian yang baru aku akan mendapatkan ilmu diluar kemampuanku dan akupun akan mendapatkan teman-teman baru.
Akhirnya, dengan Bismillah aku memutuskan menerima keputusan perusahaan. Aku putuskan aku akan keluar dari zona aman. Jangan sampai diriku berkutat pada satu kemahiran saja. Ini adalah dunia. Semua orang memiliki potensi untuk mengembangkan karirnya. Sukses tidak harus dengan bidang akademik yang pernah kita pelajari. Tetapi akan sangat berharga dan sangat bernilai jika kesuksesan dibarengi dengan pengetahuan di bidang lain. Jangan batasi kemampuan. Keluarlah dari zona aman yang kita jalani saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)