Minggu, 11 Desember 2016

Kutukan Siul

Alkisah seorang pemuda yang tiba-tiba saja, entah mengapa merasa lemah. Tulang belulangnya seolah-olah merapuh. Tubuhnya menggigil kedinginan bak tertimbun salju kutub selatan. Sesekali ia juga menyeka wajah yang tiada henti menghujan peluh. Di tekuknya kepala dan  merapatkan telinganya ke bagian dada,
"Ah, ketukan apa ini? Mengapa bisa bergetar?" gumamnya tak mengerti.

Semakin lama semakin kencang. Detak jantungnya sudah melebihi detak maksimum perdetik. Termasuk nadi lehernya sudah melebihi 90 ketukan perdetik. "Ada apa ini Tuhan...?" Pemuda itu berusaha mengeluarkan sisa-sisa suaranya untuk meminta pertolongan siapa saja. Malang tak dapat di tolak, ia  tersungkur dan tak sadarkan diri.

Tiba-tiba seorang gadis berkerudung merah muda sedang menyeberangi lorong-lorong bangunan dimana sang pemuda tergeletak tak sadarkan diri. "Innalillah..." gumam sang gadis berkerudung merah muda.
  "Apakah pemuda ini adalah korban pembunuhan?" nuraninya tak henti bertanya sendiri. Ia bingung tak mengerti.

Hembusan angin menerbangkan tepi kerudungnya. Bergelombang membentuk rambut-rambut artis ibukota ketika hendak ke pesta.
"Hhh... dia masih hidup". Sang gadis terperanjat. 

Sang pemuda bangun kembali. Matanya sayu. Tubuhnya masih lemah.
"Apa yang terjadi denganku?" tanya pemuda kepada sang gadis.
"Maaf mas, saya juga tidak tahu. Saya pun hanya melihat sudah tergeletak disini, Apakah ada orang yang hendak menyakitimu mas?" sang gadis bertanya balik.

Sang pemuda tidak mengingat lagi kejadian yang baru saja ia lewati. Gadis berkerudung merah mudapun semakin tidak mengerti. Kini mereka sama-sama tidak memahami apa yang sudah terjadi. Yang pasti ini bukan pembunuhan apalagi calon-calon korban mutilasi.

Mereka meninggalkan lorong bangunan itu. Disepanjang perjalanan pulang, pemuda terus memikirkan apa yang telah ia alami. Begitupun sang gadis berkerudung merah muda.

Sekitar dua meter dari jarak tempat ia berdiri. Sang gadis mendengar percakapan sosok misterius tak dikenalinya. Meski sosok misterius itu berbicara sambil berbisik kepada salah seorang teman disampingnya. Tetapi ia masih dapat mendengar dengan jelas. 

Segera ia meninggalkan tempatnya berdiri. Belok kiri dan gadis berkerudung merah muda berlari sejadi-jadinya. 

"Masss... Brentiii...!! Maass...!!" ia bersorak memanggil pemuda itu lagi.

Pemuda itu menoleh dan menatapnya sambil menanti jawaban kenapa disuruh berhenti.
"Da apa?" tanya sang pemuda.
"Tadi saya tidak sengaja mendengar percakapan dua orang misterius" jawab sang gadis berkerudung merah muda.
"Lalu?" sang pemuda bertanya kembali sambil mengusap mulutnya tidak mengerti.
"Mas terkena kutukan! Orang-orang misterius itu mengatakan kutukan Siul namanya. Mas suka bersiul di sembarang tempatkan? Tidak meletakkannya pada kondisi yang tepat..."
Gadis muda menghela nafas dan melanjukan ucapannya kembali.

"Mas tau, konon bangunan tadi adalah peninggalan seorang raja. Orang-orang memanggilnya Raja Siul. Raja itu sangat pandai bersiul. Tapi, sang raja sangat membenci orang-orang yang bersiul sembarangan...
Coba mas ingat-ingat lagi tadi bersiul bukan pada tempatnya kan?"
Gadis muda antusias menjelaskan dan menanyakan kepastian tentang asumsinya yang baru saja di dengarnya dari sosok misterius di pinggir jalan.

Pemuda terdiam tampak memikirkan sesuatu.
"Hhh... Kamu benar, aku memang suka sekali bersiul. Menggoda wanita pun ku lakukan dengan bersiul." Jawab pemuda itu.

Suasana menjadi hening. Dedaunan menyeringai di terpa hembusan angin.

"Mas, tampaknya siulmu kali ini sial hehee". Ledek sang gadis.

Sang pemuda tersenyum malu. Hatinya tertegun dan mendapat hikmah dari kejadiannya hari ini. Beruntung ia bertemu sang gadis muda, mengingatkan dirinya akan kebiasaan bersiul tidak pada tempatnya. 

Diam-diam gadis berkerudung merah muda berbisik dalam hatinya kepada pemuda.
"Yaa...Inilah jawabannya.. Ternyata karena siul... Hhhh siul itu sialnya kamu hari ini mas. Kamu tak mendapat wanita, tetapi malah mendapat kutukan sang raja karena bersiul tidak pada tempatnya."

Si gadis berkerudung merah muda berlalu meninggalkan sang pemuda. Sambil tersenyum ia memikirkan apa yang sudah dialaminya bersama pemuda yang terkena kutukan siul sang raja.^^
 
-Farah Aissya - Fajri Mj Rahmi-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Silahkan tinggalkan pesan :)